Breaking News:

Berita Nasional

Gagal di Pilkada DKI dan Pilpres, Dua Hal yang Bikin AHY Diragukan Pimpin Demokrat dan Akan Dikudeta

Isu kudeta Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ternyata bukan isapan jempol. Namun fakta kader Partai Demokrat meragukan kepemimpinan AHY tak terhindarkan

Editor: Wito Karyono
Warta Kota/Joko Supriyanto
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) turun gunung memantau Pilkada serentak di Karawang. Selasa (1/12/2020). AHY kini akan digulingkan kadernya karena kepemiimpinannya diragukan 

"Dengan Demokrat jadi tiga. Sudah lengkap threshold," ungkap Herzaky.

Herzaky mengungkapkan hal itu berdasarkan laporan dan kesaksian para kader dari daerah dan kabupaten/kota, yang dikumpulkan kader aktif di sebuah hotel di Jalan Rasuna Said, Kuningan.

Baca juga: INI 8 Tersangka Kasus Korupsi Asabri dan Perannya, 2 di Antaranya Juga Terlibat Skandal Jiwasraya

Setelah mereka berkumpul, seorang oknum pejabat yang disebut dekat dengan Istana, ditelepon untuk kemudian didatangkan.

Dalam perbincangan itu, dibahas cara mengambil alih kepemimpinan Ketua Umum Demokrat dari tangan AHY.

Kemudian, kader Demokrat yang gamang bertanya tentang tujuan dari manuver politik tersebut.

Baca juga: DAFTAR Terbaru 15 Zona Hijau Covid-19 di Indonesia: Ada di Papua, Nias, dan Maluku Utara

Lalu, dijawab oleh pihak yang mengajak, bahwa tujuannya adalah pilpres.

"Lalu siapa calonnya? Ini calonnya, kata mereka menunjuk oknum pejabat itu," beber Herzaky menirukan kesaksian para kader Demokrat.

Belum Terima Surat Balasan Jokowi

DPP Partai Demokrat belum menerima surat balasan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

DPP Partai Demokrat sebelumnya meminta klarifikasi dugaan keterlibatan pejabat tinggi pemerintah untuk merebut paksa kepemimpinan Partai Demokrat.

"Yang pasti balasannya belum, saat ini kita belum menerima balasannya," jelas Herzaky.

Baca juga: KPK Merasa Harus Belajar dari Kejaksaan Agung yang Tetapkan 8 Tersangka Kasus Korupsi di PT Asabri

Namun, Herzaky memastikan surat yang dikirimkan tersebut sudah dibaca Presiden Jokowi.

"Kalau surat ke Pak Jokowi saat ini kami sudah mengetahui beliau sudah baca.

"Kemarin kami diinformasikan sore menjelang malam bahwa beliau sudah baca," bebernya.

Jawaban Moeldoko

Kepala Staf Presiden Moeldoko menjawab tudingan Partai Demokrat soal dirinya terlibat dalam gerakan kudeta partai pimpinan AHY tersebut.

Moeldoko mengaku tak ingin terlalu reaktif menjawab tudingan tersebut.

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko (photocollage/tribunnews.com)

Rencananya, ia akan menjawab tudingan tersebut pada Selasa hari ini.

Baca juga: UPDATE Vaksinasi Covid-19 di Indonesia 1 Februari 2021: 539.532 Dosis Pertama, 35.406 Suntikan Kedua

"Sebenarnya saya masih diem aja sih, menunggu besok atau kapan."

"Karena saya enggak perlu reaktif dalam hal ini," kata Moeldoko dalam konferensi pers virtual, Senin (1/2/2021).

Moeldoko mengatakan, pengambilalihan partai secara paksa atau kudeta biasanya dilakukan dari dalam partai itu sendiri, bukan dari luar partai.

Baca juga: UPDATE Covid-19 di Indonesia 1 Februari 2021: Pasien Baru Tambah 10.994 Orang, Total 30.277 Wafat

"Kudeta itu dari dalem, masa kudeta dari luar," ujarnya.

Moeldoko tidak masalah dirinya digunjingkan atau dikaitkan dengan isu kudeta Partai Demokrat.

Namun, ia mengingatkan agar tidak mengaitkan masalah tersebut dengan Presiden Jokowi.

Baca juga: Berikan Pengalaman Belanja Terbaik di 2021, Lazada Hadirkan Yakin dari Hati di Bulan Cinta

"Jangan sedikit-sedikit Istana. Dalam hal ini saya mengingatkan sekali lagi jangan sedikit-sedikit Istana, dan jangan ganggu Pak Jokowi dalam hal ini."

"Karena beliau dalam hal ini tidak tahu sama sekali, enggak tahu apa-apa dalam hal ini," papar Moeldoko.

Mantan Panglima TNI itu kemudian menceritakan penyebab dirinya dikaitkan dengan isu kudeta tersebut.

Baca juga: AHY Ungkap Ada Gerakan Politik Ingin Kudeta Kepemimpinan Partai Demokrat, Langsung Surati Jokowi

Menurutnya, banyak orang yang sebagaian adalah kader Demokrat, datang ke rumahnya.

Mereka kemudian curhat mengenai kondisi yang terjadi di tubuh partai berlambang mercy tersebut.

Moeldoko mengatakan, apabila anak buah tidak boleh main ke mana-mana termasuk bertemu dengannya, sebaiknya diborgol saja.

Baca juga: Tak Dianggarkan di APBN 2021, Menaker Tak Tahu Program Bantuan Subsidi Upah Lanjut Atau Tidak

"Kalau anak buahnya tidak boleh pergi ke mana-mana ya diborgol aja kali ya, begitu," selorohnya.

Sebagai tuan rumah yang kedatangan tamu, Moeldoko mengaku hanya mendengar curhatan para tamunya itu.

Sebagai seorang mantan Panglima TNI, ia terbuka kepada siapapun yang ingin bertemu.

Baca juga: Natalius Pigai Gantian Dilaporkan ke Bareskrim, Tuduhannya Diduga Hina Suku Jawa dan Minang

"Beberapa kali banyak tamu yang berdatangan ya, dan saya orang yang terbuka."

"Saya mantan Panglima TNI, tapi saya tidak memberi batas dengan siapapun, apalagi di rumah ini mau datang terbuka 24 jam, siapapun."

"Secara bergelombang mereka datang, berbondong-bondong, ya kita terima, konteksnya apa?"

Baca juga: Total 25.195 Warga Kota Bekasi Terpapar Covid-19, Wali Kota: Persoalannya Bukan Banyak Atau Sedikit

"Ya saya tidak mengerti, dari ngobrol-ngobrol itu biasanya diawali dari pertanian, karena saya memang suka pertanian."

"Berikutnya pada curhat tentang situasi yang dihadapi, ya gue dengerin aja gitu," beber Moeldoko.

Sebagai salah satu orang yang mencintai Demokrat, Moeldoko mengaku prihatin dengan kondisi partai seperti yang diceritakan para 'tamunya' tersebut.

Baca juga: Keluarga dan Stafnya Banyak yang kena Covid-19, Zulkifli Hasan: Kita Perlu Lockdown Akhir Pekan

Moeldoko menduga ia dikaitkan dengan permasalahan Partai Demokrat dari foto yang beredar.

Ia tidak ambil pusing bila dikaitkan dengan permasalahan tersebut.

"Mungkin dasarnya foto-foto ya. Orang ada dari Indonesia timur, dari mana mana datang ke sini kan pengin foto sama gue, ya saya terima aja."

Baca juga: PPKM Tak Efektif, IDI Sarankan PSBB Super Ketat Alias Lockdown, tapi Ekonomi Bisa Ambruk

"Apa susahnya? Itu yang namanya seorang jenderal yang tidak memiliki batas dengan siapapun."

"Kalau itu menjadi persoalan yang digunjingkan ya silakan aja, saya tidak keberatan," ucapnya.

Moeldoko lantas menyarankan AHY agar tidak baperan menjadi seorang pemimpin.

Baca juga: Sidang Praperadilan Penembakan 6 Anggota FPI, Kuasa Hukum Singgung Peraturan Kapolri

"Saran saya ya, menjadi seorang pemimpin harus seorang pemimpin yang kuat."

"Jangan mudah baperan, jangan mudah terombang ambing dan seterusnya," saran dia. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kegagalan AHY di Pilkada DKI dan Pilpres 2019, Dinilai Jadi Alasan Munculnya Kudeta di Partai Demokrat",  Penulis : Tatang Guritno

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved