Breaking News:

Kolom

Catatan Akhir Tahun Fadli Zon di Bidang Ekonomi Strategi untuk Menghadapi Ancaman Resesi Ekonomi

Setelah tahun lalu, perekonomian bisa tumbuh 3,6 persen, pertumbuhan ekonomi global tahun ini diperkirakan hanya akan menyentuh angka 3,0 persen.

Daily Mail
Ilustrasi. Resesi ekonomi mengancam banyak negara. Gerakan 2 juta payung turun ke jalan di Hong Kong menolak kekuasaan rezim komunis China. 

Pemerintah harus menyadari kemampuan keuangan mereka sebenarnya terbatas.

Apalagi, realisasi penerimaan pajak terus mengalami penurunan.

Hal ini tentu akan berdampak pada pelebaran defisit dan menurunnya kemampuan

Pemerintah dalam menstimulus perekonomian.

Sebagai gambaran, saat ini defisit anggaran terhadap PDB sudah mencapai 2,3 persen, padahal target defisit APBN 2019 hanya 1,84 persen terhadap PDB.

Jika Pemerintah tak bisa merasionalkan agenda prioritas pembangunan, risikonya adalah jumlah utang kita akan terus membengkak.

Padahal, saat ini pembayaran bunga utang telah memberikan tekanan yang besar bagi APBN kita.

Porsinya juga terus-menerus meningkat.

Tahun lalu, porsi pembayaran bunga utang ada di angka 16,41 persen.

Tahun ini, angkanya meningkat menjadi 16,88 persen.

Peningkatan porsi pembayaran bunga utang ini telah membuat ruang gerak Pemerintah kian terbatas.

Sisi Asih Bantah Rebutan Pria dengan Farhannisa Suri Ungkap Mereka Sudah Putus Tiga Bulan Sebelumnya

Utang bisa dianggap baik jika digunakan untuk menstimulus kegiatan perekonomian.

Namun, jika utang dilakukan untuk membayar utang, maka itu jelas merusak neraca anggaran.

Itu sebabnya, Pemerintah harus segera memperbaiki tata kelola utang.

Kalau kita lihat data, per 30 Nopember 2019, jumlah utang Pemerintah mencapai Rp 4.814 triliun.

Jika dibandingkan  posisi utang pada akhir 2014, dalam lima tahun terakhir utang kita bertambah sebanyak Rp 2.205 triliun.

Rasio utang terhadap PDB juga terus meningkat. Lima tahun lalu posisinya masih 24,74 persen.

Kini, posisinya sudah berada di angka 30,03 persen.

Sebagai catatan, selama 10 tahun berkuasa, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hanya menambah utang Rp 1.399 triliun, yang terbagi menjadi utang periode pertama (2004-2009) sebesar Rp 291 triliun, dan utang periode kedua (2009-2014) sebesar Rp1.108 triliun.

Pemerintah Indonesia Perlu Mendorong Cina Untuk Membuka Dialog dengan Kelompok Muslim Moderat Uighur

Dan meskipun jumlah utangnya meningkat, namun pemerintahan Presiden SBY berhasil menurunkan rasio utang terhadap PDB dari semula 56,5 persen (2004) menjadi tinggal 24,7 persen (2014).

Tekanan utang terhadap APBN bisa dilihat dari terus turunnya proporsi belanja modal Pemerintah yang terjadi sejak 2016 lalu.

Pada 2018, proporsi belanja modal masih berada di angka 14,02 persen.

Namun, tahun ini, angkanya turun tinggal 11,59 persen saja.

Penurunan ini menunjukkan kemampuan Pemerintah dalam menstimulus pembangunan terus-menerus menurun.

Menghadapi gelombang resesi global, mau tidak mau Pemerintah harus merasionalisasi ulang agenda-agenda pembangunan, tahun depan.

Agenda-agenda tidak masuk akal yang cenderung membebani APBN atau merugikan keuangan BUMN sebaiknya dievaluasi kembali.

*Dr Fadli Zon MSc adalah anggota DPR RI, Juru Bicara Rakyat, alumnus London School of Economics (LSE) United Kingdom (UK)

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved