Polisi Tembak Polisi
Ada Firasat Buruk, Reza Adik Brigadir J Datangi Rumah Saguling Sebelum Pembunuhan, tapi Dilucuti
Karena ada firasat buruk, Bripda Reza Hutabarat adik Brigadir J sempat datangi rumah Ferdy Sambo di Saguling tapi digeledah dan dihalangi ajudan lain
Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Budi Sam Law Malau
"Yang menghalangi itu sudah tahu akan adanya pembunuhan berencanA, dan dia menghalangi adik korban masuk ke rumah Saguling," papar Kamaruddin.
Karenanya kata Kamaruddin, Romi dan Daden seharusnya juga diproses hukum oleh penyidik dan dijerat Pasal 340 KUHP soal pembunuhan berencana.
Menurut Kamaruddin, kalau dikaitkan dengan keterangan Sambo bahwa dia terguncang jiwanya atau meledak emosinya demi kehormatan keluarganya, maka ketika pulang rombongan ibu PC dari Magelang, seharusnya pembantaian terjadi di rumah Saguling.
"Karena rombongan ibu PC termasuk almarhum pulang dari Magelang ke rumah Saguling. Ferdy Sambo datang dari kantor ke rumah Saguling. Maka harusnya tindak pidana ada di rumah Saguling," ujar Kamaruddin.
Baca juga: Keluarga Brigadir J Dipastikan Saksikan Langsung Sidang Ferdy Sambo, Putri Candrawathi
Pertanyaannya, kata Kamaruddin, mengapa pembantaian menjadi di rumah dinas. "Apakah dibantai dulu di Saguling baru mayatnya dibawa ke Duren Tiga?," kata Kamaruddin.
Karenanya Kamaruddin meyakini bahwa perencanaan pembunuhan yang dilakukan Ferdy Sambo di Duren Tiga sangat terencana.
"Disinilah perencanaannya. Yakni PC (istri Ferdy Sambo-red) mengajak Brigadir J ke rumah Duren Tiga. Kemudian Ferdy Sambo mempersiapkan sarung tangan. Agar ketika saat dia menembak tidak terkena amunisi tangannya untuk supaya tidak ada sidik jari. Itu perencanaan, berarti dia dalam keadaan sadar berencana untuk membunuh atau menghilangkan nyawa orang lain," kata Kamaruddin.
Baca juga: Tembak Brigadir J karena Perintah dan Tekanan Ferdy Sambo, Bharada E Yakin Bakal Bebas
Bahkan, menurut Kamaruddin, diduga Ferdy Sambo memasang peredam di senjata apinya, agar tidak terdengar tetangga ketika menembak Brigadir J.
"Artinya sudah direncanakan dengan sangat matang. Bahkan kalau kita mundur lagi, pengancaman sudah terjadi 19 Juni, kemudian 21 Juni lanjut 7 Juli. Artinya sudah ada perencanaan-perencanaan pembunuhan terhadap Yosua secara matang," ujarnya.
Kamaruddin mengatakan ada kegiatan lain yang tak lazim di rumah Saguling, saat pembantaian terhadap Brigadir J terjadi.
"Ada kegiatan di rumah Saguling yang tidak lazim sore itu. Apa kegiatannya? Seorang satpam atau sekuriti swasta mencuci rumah pada sore hari itu, mencuci sampai dengan banyak air. Dan sejak adik almarhum berkunjung ke rumah Saguling, baru pertama kali kejadian itu, sore-sore rumah dicuci. Ada apa di rumah Saguling sehingga Satpam mencuci rumah itu?," kata Kamaruddin.(bum)