Polisi Tembak Polisi
Ada Firasat Buruk, Reza Adik Brigadir J Datangi Rumah Saguling Sebelum Pembunuhan, tapi Dilucuti
Karena ada firasat buruk, Bripda Reza Hutabarat adik Brigadir J sempat datangi rumah Ferdy Sambo di Saguling tapi digeledah dan dihalangi ajudan lain
Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Budi Sam Law Malau
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Bripda Reza Hutabarat, adik kandung Brigadir Yosua Hutabarat atau Brigadir J, ternyata sempat memiliki firasat buruk dengan mendatangi rumah pribadi Ferdy Sambo, sesaat sebelum pembunuhan terhadap Brigadir J dilakukan Ferdy Sambo pada 8 Juli 2022. Bripda Reza hendak menemui abangnya Brigadir J yang menjadi ajudan keluarga Sambo.
Namun saat itu, tidak seperti biasanya, Bripda Reza Hutabarat justru digeledah dan dilucuti oleh dua ajudan Ferdy Sambo lainnya yakni Romi dan Daden.
Bahkan oleh Daden, ajudan kesayangan Ferdy Sambo, Bripda Reza dikelabui bahwa dirinya dipanggil Provos Polri dan harus menghadap dengan mengenakan pakaian dinas lapangan (PDL). Secara tidak langsung, Bripda Reza Hutabarat diusir dari sana, agar tidak bisa menghalangi atau membela abangnya Brigadir J yang akan dibantai oleh Ferdy Sambo Cs.
Hal itu diungkapkan kuasa hukum keluarga Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak dalam tayangan di berita satu TV, Selasa (11/10/2022) malam.
"Adik almarhum Brigadir J yang juga anggota Polri, Reza Hutabarat punya firasat akan terjadi sesuatu. Tapi dia tidak tahu apa. Entah dorongan apa pada sore hari itu sepulang kerja, dia pergi ke rumah Saguling," kata Kamaruddin dalam tayangan berita satu TV, Selasa (11/10/2022).
Di rumah Saguling, kata Kamaruddin, Reza dicegat dua ajudan lain Ferdy Sambo yakni Daden dan Romi.
Baca juga: Terungkap, Adik Brigadir J Datangi Rumah di Saguling Sesaat Sebelum Pembantaian, Tapi Diusir
"Bahkan berulang kali dia datang ke rumah Saguling belum pernah dilucuti atau digeledah. Tapi sore itu, ketika datang ke rumah Saguling, Romi dan Daden melakukan penggeledahan badan. Daden ajudan kesayangan Ferdy Sambo," ujar Kamaruddin.
Menurut Kamaruddin, khusus pada sore hari itu Reza digeledah untuk memastikan bawa senpi atau tidak. Padahal biasanya Reza bisa datang ke rumah itu dengan leluasa karena abangnya Brigadir J adalah ajudan kesayangan Putri Candrawathi.
"Adik almarhum merasa aneh, kok biasanya saya datang ke rumah Saguling bebas-bebas saja seperti ke rumah keluarga, karena abangnya di situ sudah dianggap anak, bahkan jadi ajudan kesayangan. Kok sore ini digeledah, bahkan dihalangi tak boleh masuk," ujar Kamaruddin.
Baca juga: Putri Candrawathi ke Adik Brigadir J: Lihat Abang Kamu, Multi Talenta, Bingung Mau Kasih Gaji Berapa
Menurut Kamaruddin, karena Reza tidak boleh masuk, Reza pun merasa aneh dan bertanya.
"Lalu untuk mengalihkan perhatian dia, Daden berkoordinasi dengan provos. Lalu Daden mengatakan ke Reza, Bang kau dipanggil oleh provos Polri. Dan diminta dia harus berpakaian PDL atau pakaian dinas lepas," kata Kamaruddin.
Karena saat itu Reza tidak mengenakan PDL, menurut Kamaruddin, maka Reza pergi ke laundry segera. "Karena baju PDL dia, ada di Laundri. Sehingga tidak jadi ke rumah di Saguling," ujar Kamaruddin.
Baca juga: Tiga Fase Kasus Tewasnya Brigadir J Versi Kuasa Hukum Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi
Menurut Kamaruddin, jika saja Reza diizinkan masuk ke rumah di Saguling, sangat mungkin dia bisa menyelamatkan abangnya Brigadir J.
"Artinya, andaikan dia tidak dicegat masuk ke rumah Saguling, kemungkinan almarhum masih selamat. Atau setidaknya mungkin baru disiksa baru ditembak, masih bisa terselamatkan. Tapi ada peran dua ajudan menghalang-halangi Reza ke rumah Saguling," ujar Kamaruddin.
Hal ini kata Kamaruddin juga berarti kedua ajudan Ferdy Sambo yang menghalangi kedatangan Reza, juga sudah mengetahui akan adanya pembunuhan berencana.
Baca juga: Terungkap, Adik Brigadir J Datangi Rumah di Saguling Sesaat Sebelum Pembantaian, Tapi Diusir
"Yang menghalangi itu sudah tahu akan adanya pembunuhan berencanA, dan dia menghalangi adik korban masuk ke rumah Saguling," papar Kamaruddin.
Karenanya kata Kamaruddin, Romi dan Daden seharusnya juga diproses hukum oleh penyidik dan dijerat Pasal 340 KUHP soal pembunuhan berencana.
Menurut Kamaruddin, kalau dikaitkan dengan keterangan Sambo bahwa dia terguncang jiwanya atau meledak emosinya demi kehormatan keluarganya, maka ketika pulang rombongan ibu PC dari Magelang, seharusnya pembantaian terjadi di rumah Saguling.
"Karena rombongan ibu PC termasuk almarhum pulang dari Magelang ke rumah Saguling. Ferdy Sambo datang dari kantor ke rumah Saguling. Maka harusnya tindak pidana ada di rumah Saguling," ujar Kamaruddin.
Baca juga: Keluarga Brigadir J Dipastikan Saksikan Langsung Sidang Ferdy Sambo, Putri Candrawathi
Pertanyaannya, kata Kamaruddin, mengapa pembantaian menjadi di rumah dinas. "Apakah dibantai dulu di Saguling baru mayatnya dibawa ke Duren Tiga?," kata Kamaruddin.
Karenanya Kamaruddin meyakini bahwa perencanaan pembunuhan yang dilakukan Ferdy Sambo di Duren Tiga sangat terencana.
"Disinilah perencanaannya. Yakni PC (istri Ferdy Sambo-red) mengajak Brigadir J ke rumah Duren Tiga. Kemudian Ferdy Sambo mempersiapkan sarung tangan. Agar ketika saat dia menembak tidak terkena amunisi tangannya untuk supaya tidak ada sidik jari. Itu perencanaan, berarti dia dalam keadaan sadar berencana untuk membunuh atau menghilangkan nyawa orang lain," kata Kamaruddin.
Baca juga: Tembak Brigadir J karena Perintah dan Tekanan Ferdy Sambo, Bharada E Yakin Bakal Bebas
Bahkan, menurut Kamaruddin, diduga Ferdy Sambo memasang peredam di senjata apinya, agar tidak terdengar tetangga ketika menembak Brigadir J.
"Artinya sudah direncanakan dengan sangat matang. Bahkan kalau kita mundur lagi, pengancaman sudah terjadi 19 Juni, kemudian 21 Juni lanjut 7 Juli. Artinya sudah ada perencanaan-perencanaan pembunuhan terhadap Yosua secara matang," ujarnya.
Kamaruddin mengatakan ada kegiatan lain yang tak lazim di rumah Saguling, saat pembantaian terhadap Brigadir J terjadi.
"Ada kegiatan di rumah Saguling yang tidak lazim sore itu. Apa kegiatannya? Seorang satpam atau sekuriti swasta mencuci rumah pada sore hari itu, mencuci sampai dengan banyak air. Dan sejak adik almarhum berkunjung ke rumah Saguling, baru pertama kali kejadian itu, sore-sore rumah dicuci. Ada apa di rumah Saguling sehingga Satpam mencuci rumah itu?," kata Kamaruddin.(bum)