Aksi Terorisme

12 Teroris yang Diciduk di Jawa Timur Kelompok Fahim, Terafiliasi ke Alqaeda

12 tersangka teroris jaringan Jemaah Islamiyah (JI) Jawa Timur yang ditangkap menamakan diri sebagai kelompok Fahim.

Editor: Yaspen Martinus
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Anggota Densus 88 membawa tersangka teroris dari Makassar, setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (4/2/2021). Sebanyak 26 orang terduga teroris, yaitu 19 orang dari Makassar dan 7 orang dari Gorontalo yang tergabung dalam Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dibawa ke Jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut oleh Densus 88. 

"Kemudian juga bendera daulah, baik berwarna hitam maupun berwarna putih sebanyak 4 bendera."

"8 pisau, 2 samurai, 3 golok dan senjata tajam lainnya berbentuk busur lebih kurang 23 dijadikan barang bukti," bebernya.

Baca juga: Nurdin Abdullah Korupsi, PSI: Meneguhkan Anggapan Politik Berprestasi dan Bersih Sulit Diwujudkan

Sebelumnya, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri melakukan operasi penindakan di sejumlah wilayah Jawa Timur (Jatim).

Polisi menangkap setidaknya 12 orang terduga teroris.

"Dalam operasi penangkapan di Jawa Timur, tim Densus 88 menangkap 12 orang terduga teroris," kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono dalam keterangan tertulis, Jumat (26/2/2021).

Baca juga: SBY Dibilang Tak Berdarah-darah Besarkan Partai, Demokrat: Yang Ngomong Tinggal di Planet Mars

Ke-12 terduga teroris itu adalah UBS alias F, TS, AS, AIH alias AP, BR, RBM, Y, F, ME, AYR, RAS, MI.

Mereka memiliki peran yang berbeda.

Meski begitu, Argo belum bisa merinci lebih lanjut terkait dengan penangkapan terduga teroris tersebut.

Baca juga: Baiq Nuril Hingga Ahmad Dhani Dihadirkan untuk Dimintai Pendapat Soal UU ITE

Sebab, Tim Densus 88 masih melakukan pendalaman lebih lanjut di lapangan.

"Nanti untuk lengkapnya akan dirilis secara resmi," papar Argo.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap sejumlah akar yang mengarah pada ekstremisme dan berujung pada aksi terorisme.

Baca juga: Banding, Terdakwa Kasus Korupsi Jiwasraya Heru Hidayat Tetap Divonis Seumur Hidup

Direktur Penegakan Hukum BNPT Brigjen Edy Hartono mengatakan, sejumlah masalah tersebut adalah masalah keluarga hingga perbedaan politik.

"Masalah keluarga, ekonomi, dan perbedaan politik dalam bernegara itu menstimulus terbentuknya beberapa ekstremisme yang mengarah pada terorisme," ujar Edy, dalam diskusi daring 'Pemberantasan Ekstremisme-Terorisme Pasca Perpres 7/2021', Kamis (25/2/2021).

Edy menjelaskan, temuan itu didapati dari hasil penelitian BNPT terhadap tersangka kasus terorisme.

Baca juga: Polisi Absen Lagi, Sidang Praperadilan Rizieq Shihab Kembali Ditunda

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved