Banjir Jakarta

Tanggapi Banjir Jakarta, Djarot : Yang Penting Kerja, Enggak Usah Kebanyakan Ngomong

KETUA DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat meminta semua pihak tidak saling menyalahkan soal banjir di DKI Jakarta pada awal tahun 2020.

Editor: Yaspen Martinus
Warta Kota/adhy kelana
MASIH TERGENAN AIR--Banjir masih mengenang di kawasan Cililitan Kecil, Jakarta Selatan, Kamis (2/1/2020). Warga harus membersikan linggungannya dari sisa banjir akibat meluapnya kali Ciluwung. Belum ada petugas yang datang untuk memberikan bantuan membersihkan lumpur dan sampah. kla 

KETUA DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat meminta semua pihak tidak saling menyalahkan soal banjir di DKI Jakarta pada awal tahun 2020.

Tidak perlu lagi memperdebatkan apakah penanggulangan banjir yang efektif adalah dengan cara normalisasi atau naturalisasi.

Menurutnya, yang terpenting sekarang ini adalah terus bekerja untuk meminimalisasi banjir yang mengguyur wilayah Jabodetabek dan sekitarnya.

Fadli Zon Bilang Prabowo Tidak Lembek Soal Natuna, tapi Realistis

"Enggak perlu lagi, yang penting kerja. Mau bikin normalisasi, naturalisasi, yang penting kerja dan bisa dirasakan kerjanya, bisa dilihat."

"Kerja, enggak usah keakehan (kebanyakan) ngomong, kerja," ujar Djarot di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Rabu (8/1/2020).

Djarot menyerahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mengambil kebijakan penanganan banjir di Ibu Kota.

BPK Sebut Kasus Gagal Bayar Jiwasraya Berpotensi Berdampak Sistemik Seperti Bank Century

Yang terpenting, menurutnya ada koordinasi dan sinergi antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat.

"Jadi artinya penanganan banjir di Jabodetabek tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri, harus koordinasi, termasuk dengan pemerintah pusat dan PUPR," tuturnya.

Djarot lalu menjelaskan perbedaan naturalisasi yang digagas Anies Baswedan dengan normalisasi sungai yang menjadi salah satu kebijakannya dalam menangani banjir saat menjabat Wagub DKI.

OTT Bupati Sidoarjo, Pramono Anung Bilang Bukti Pemerintah Tak Lemahkan KPK

Menurut Djarot, di dalam kebijakan normalisasi terdapat naturalisasi.

Ia mengatakan, dalam mengeruk sungai (normalisasi), pihaknya juga saat itu menjaga daerah resapan air (naturalisasi).

"Maka waktu zaman saya dengab Pak Ahok perbanyak RTH (ruang terbuka hijau), kalau perlu bebasin lahan sebanyak-banyaknya, untuk apa? Untuk resapan air."

Irak Pastikan Tentaranya Tak Ada yang Jadi Korban dari Serangan 22 Rudal Iran di Dua Tempat

"Kemudian tanam banyak pohon, penghijauan, kemudian keruk waduk, embung, maka ada revitalisasi waduk pluit misalnya, Ria Rio misalnya, untuk menampung air."

"Perbanyak itu, jadi kalau menurut saya itu harusnya," papar Djarot.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved