Breaking News:

Isu Makar

Begini Kondisi Kivlan Zen Setelah Jadi Tahanan Rumah, Salat Harus Sambil Tidur

KIVLAN Zen ditetapkan sebagai tahanan rumah sejak Rabu (11/12/2019) pekan lalu.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Kivlan Zen menjalani sidang perdana kasus dugaan kepemilikan senjata api ilegal di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jakarta, Selasa (10/9/2019). 

Nasirin menyebut, sebelum ramainya kasus yang menimpa Kivlan Zen, purnawirawan TNI itu masih sering ke luar rumah. Salah satunya ke masjid.

 Ini Kata Kabareskrim Baru Soal Pengungkapan Kasus Novel Baswedan, Minta Didoakan

"Dulu masih sering salat subuh dan magrib pasti ke masjid," bebernya.

Perubahan status Kivlan Zen sebagai tahanan rumah ditetapkan oleh majelis hakim PN Jakarta Pusat dengan nomor: 960/Pen.Pid.Sus-TPK/2019/PN Jkt.Pst.

Permohonan pengalihan penahanan terdakwa itu dikabulkan dengan berbagai pertimbangan.

 Mahasiswa Bekasi Simpan 6,3 Kilogram Ganja dalam Karung, Mau Diedarkan saat Malam Tahun Baru

Sebelumnya, Kivlan Zen mengklaim kasus kepemilikan senjata api dan amunisi ilegal yang menjeratnya, merupakan hasil rekayasa.

"Saya tidak pernah bersalah sama sekali, 100 persen. Ini rekayasa."

"Termasuk rekan saya Habil Marati tidak bersalah 100 persen," kata Kivlan Zen kepada wartawan, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis (31/10/2019).

 Segera Jadi Kapolri, Idham Azis Bakal Serahkan Kasus Novel Baswedan kepada Kabareskrim Baru

Pada surat dakwaan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyebut Kivlan Zen memberikan uang 15 ribu dolar Singapura kepada Helmi Kurniawan alias Iwan, untuk membeli senjata.

Uang dari Habil Marati itu diserahkan Kivlan Zen kepada Iwan pada 9 Februari 2019.

Helmi menukarkan uang itu dan menerima Rp 151,1 juta. Uang itu diserahkan kepada Kivlan Zen.

 Gerindra: Harta Prabowo Rp 1 Triliun, Masa Gaji Seuprit Diambil?

Namun, Kivlan Zen membantah dakwaan tersebut.

Dia mengaku sudah mempersiapkan bantahan itu di dalam eksepsi atau nota keberatan terhadap surat dakwaan.

"Katanya saya kasih uang 9 Februari untuk membeli senjata. Padahal, saya 9 Februari di luar kota."

 Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Dikritik, Wakil Menteri Keuangan: Asuransi Swasta Bayar Berapa?

"Tidak di Jakarta, sedang ada di luar kota. Tidak mungkin memberi uang. Pengakuan Iwan, uang Rp 150 juta dikasih," papar Kivlan Zen.

Dia menjelaskan, eksepsinya mengenai bantahan terkait tempat, kejadian, dan waktu kejadian, bahwa apa yang didakwakan jaksa tidak benar.

"Saya sampaikan dengan data, bukti, saksi. Saya siap (membuktikan)."

 Tidak Tanya Kasus Novel Baswedan, Komisi III: Jokowi Saja Tak Mampu, Masa Kapolri Baru Bisa?

"Jadi semua saya membantah dakwaan. Saya tidak bersalah. Saya menyerahkan semua kepada hakim," ujarnya.

Dia menuding, Iwan sengaja menjeratnya dan Habil Marati.

"Saya tidak ada kaitan sama senjata. Bisa saya buktikan senjata itu sudah dipegang lalu dia (Iwan) katakan saya minta senjata sama dia."

 Anies Baswedan Salahkan e-Budgeting, Ahok: Sistem Berjalan Baik Jika yang Input Data Tak Niat Maling

"Saya tidak bersalah dan (kasus) rekayasa. Kelihatan Iwan dipaksa mengaku satu perbuatan ke arah saya kejadian 21-22 Mei," paparnya.

Kemarin, Kivlan Zen menghadiri sidang kasus kepemilikan senjata api dan amunisi ilegal beragenda pembacaan nota pembelaan.

Berdasarkan pemantauan, mantan Kepala Staf Kostrad itu tiba di ruang sidang dalam posisi duduk di kursi roda.

 Bakal Dilarang di Instansi Pemerintah, Menteri Agama Bilang Cadar Tidak Diatur di Alquran dan Hadis

Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan Kivlan Zen ke persidangan.

Tim Jaksa Penuntut Umum mendorong kursi roda Kivlan Zen hingga berada di bagian depan di deretan kursi pengunjung sidang.

Kivlan Zen memakai baju berwarna merah dibalut jaket berwarna hitam, celana kain panjang berwarna hitam, serta sandal jepit. Dia juga memakai masker penutup mulut.

 KISAH Menteri Agama Marahi Pejabat BUMN karena Tak Hormati Lagu Indonesia Raya, Dianggap Sakit

Dia mengaku baru saja tiba dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto. Dia masih menjalani rawat inap di rumah sakit tersebut

"Saya dari RSPAD (Gatot Soebroto) dalam keadaan sakit. Saya masih menjalani rawat inap," aku Kivlan Zen.

Sebelumnya, Kivlan Zen sempat berhalangan hadir di persidangan, karena harus menjalani operasi pengangkatan bekas serpihan granat yang berada di kaki bagian kiri.

 Menteri Agama Bakal Larang Pemakaian Cadar di Instansi Pemerintah, PKB: Sebaiknya Saling Menghargai

Dia mengaku operasi pengangkatan bekas serpihan granat itu belum selesai.

Namun, dia memaksakan untuk dapat hadir di persidangan dalam rangka membacakan nota pembelaan.

"Operasi belum selesai, masih ada pengangkatan lagi. Saya meminta diangkat (serpihan granat), susah jalan," tuturnya.

 Wakil Ketua Komisi A DPRD Semprot Kader PSI yang Bocorkan Dokumen KUA-PPAS DKI: Jaga Tata Krama!

Dia menegaskan, agenda pembacaan nota pembelaan merupakan kesempatan baginya untuk membantah semua dakwaan jaksa.

Dia menilai, kasus kepemilikan senjata api dan amunisi ilegal yang menjeratnya itu telah direkayasa.

"Tidak merasa sehat, tetapi karena disuruh saya hadir saja."

 Rencana Larangan Cadar di Instansi Pemerintah, PKS: Itu Ruang Privat, Jangan Diintervensi Negara

"Dan saya harus baca pembelaan. Kalau saya tidak baca, dakwaan itu benar bahwa saya lakukan. Saya lakukan pembelaan eksepsi," tambahnya.

Sebelumnya Wartakotalive memberitakan, Wiranto dan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, menjadi target operasi dari kelompok yang dibentuk terdakwa Kivlan Zen.

Hal ini terungkap di sidang pembacaan surat dakwaan atas kasus kepemilikan senjata api (senpi) ilegal dan amunisi yang menjerat terdakwa Kivlan Zen.

"Saksi Helmi Kurniawan menyerahkan uang Rp 25 juta yang berasal dari terdakwa (Kivlan Zen) kepada saksi Tajudin," ungkap Fatoni, Jaksa Penuntut Umum (JPU).

 Dukung Anies Baswedan Trotoar Bisa Dipakai Berdagang, Keponakan Surya Paloh: Apa Masalahnya?

"Sebagai biaya operasional survei dan pemantauan guna memata-matai Wiranto dan Luhut Binsar Panjaitan," imbuh Fatoni, saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.

Kasus kepemilikan senpi ilegal dan peluru tajam itu berawal dari pertemuan Kivlan Zen dengan Helmi Kurniawan di Monumen Lubang Buaya Jakarta Timur, 1 Oktober 2018 sekira pukul 14.00 WIB

Kivlan Zen meminta Helmi Kurniawan mencarikan senpi ilegal serta menjanjikan akan mengganti uang pembelian tersebut.

 Konferensi PostgreSQL 2019 di Bali, Darah Segar Pertumbuhan Ekosistem Open Source di Indonesia

Selanjutnya, Helmi memperkenalkan Kivlan Zen dengan Tajudin.

Untuk memenuhi permintaan Kivlan Zen, Helmi menemui saksi Asmaizulfi di kantor Cawang Kencana Lantai 9.

Asmaizulfi menawarkan satu pucuk senpi laras pendek jenis Taurus tanpa peluru, yang tidak dilengkapi surat-surat resmi dari pejabat yang berwenang, seharga Rp 50 juta.

 Video Syur Hebohkan Sumedang, Diduga Disebarkan Pemeran Pria karena Kesal Ajakan Menikah Ditolak

"Pada 13 Oktober 2018 sekira pukul 12.00 WIB, Asmaizulfi menemui Helmi di daerah Curug Pekansari Cibinong, dan menyerahkan satu pucuk Senjata Api jenis Revolver Merk Taurus Kaliber 38 mm."

"Helmi menyerahkan uang Rp 50 juta sebagai pembayaran senpi," ungkap Jaksa.

Selanjutnya, Helmi melaporkan kepada Kivlan Zen melalui handphone, telah mendapatkan satu pucuk senpi laras pendek jenis Taurus dari saksi Asmaizulfi, dan telah mengeluarkan uang sebesar Rp 50 juta.

 10 Calon Pimpinan KPK Harus Teken Surat Pernyataan Bermeterai, Setuju Atau Tidak Revisi UU KPK

Lalu, Kivlan Zen memerintahkan agar senpi disimpan terlebih dahulu dan akan digunakan jika dibutuhkan.

Pada 9 Februari 2019 sekira pukul 12.00 WIB, Kivlan Zen bertemu Helmi dan Tajudin di lantai 2 Rumah Makan Padang Sederhana Kelapa Gading.

Pada kesempatan itu, Kivlan Zen menyerahkan uang 15.000 dolar Singapura yang berasal dari pemberian saksi, Habil Marati.

 Bantah Isu Pelemparan Ular ke Asrama Mahasiswa Papua, Wiranto: Kalau Benar Ada, Tangkap Lalu Disate

Kivlan Zen meminta Helmi menukarkan uang di Money Changer dalam bentuk rupiah.

Kemudian, Helmi menukarkan uang sebesar 15.000 dolar Singapura di Money Changer Dollar Time Premium Forexindo dengan nilai sebesar Rp 151,5 juta.

"Terdakwa mengambil uang Rp 6,5 Juta untuk keperluan pribadi terdakwa."

 Dua Hercules Siap Angkut 835 Mahasiswa dan Pelajar Papua yang Mudik karena Termakan Hoaks

"Sedangkan sisanya Rp 145 Juta diserahkan kepada saksi Helmi untuk mengganti uang pembelian senpi laras pendek," ungkap JPU.

Terdakwa memerintahkan agar Helmi segera mencari senpi laras panjang kaliber besar serta untuk uang operasional Helmi.

Sebelumnya, Kepolisian menyerahkan Kivlan Zen dan Habil Marati secara bersamaan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Pusat, Kamis (22/8/2019).

 Polisi Buru Dukun Santet yang Gagal Celakakan Suami Aulia Kesuma, Bakal Jadi Tersangka Juga?

Kivlan Zen adalah tersangka kasus dugaan kepemilikan senjata api ilegal.

Sedangkan Habil Marati adalah tersangka kasus dugaan ancaman pembunuhan terhadap empat tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, berkas perkara Kivlan Zen  dan Habil Marati telah dinyatakan lengkap atau P21. Sehingga, keduanya diserahkan kepada kejaksaan.

 Jokowi Janji Segera Pekerjakan Seribu Sarjana Asal Papua di BUMN dan Perusahaan Swasta Besar

"Jadi, (berkas perkara) untuk tersangka KZ sudah P21 pada tanggal 16 Agustus."

"Dan (berkas perkara) tersangka HM (dinyatakan lengkap alias P21) tanggal 21 Agustus kemarin," jelas Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Kamis (22/8/2019).

Penetapan tersangka Kivlan Zen terkait pengembangan kasus kerusuhan 21-22 Mei 2019.

 BREAKING NEWS: Jokowi Janji Bangun Istana Presiden di Papua Tahun Depan

Kivlan Zen kemudian ditahan di Rutan Guntur Polda Metro Jaya sejak 30 Mei 2019 selama 20 hari.

Polisi selanjutnya memperpanjang masa penahanan Kivlan Zen selama 40 hari terhitung sejak Selasa (18/6/2019) lalu.

Terkait kasus tersebut, Kivlan Zen sempat menggugat Polda Metro Jaya ke sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

 Tanjakan Emen Makan Korban Lagi, Satu Orang Meninggal Gara-gara Truk Oleng

Namun, gugatan tersebut ditolak seluruhnya oleh hakim yang memeriksa perkaranya, dan ia pun tetap berstatus menjadi tahanan Polda Metro Jaya terkait kasus senjata api ilegal.

Sementara, polisi menangkap dan menetapkan Habil Marati sebagai tersangka kasus dugaan ancaman pembunuhan terhadap empat tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei.

Wadirkrimum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Ade Ary sebelumnya menyebut, Habil berperan sebagai pemberi dana sebesar Rp 150 juta kepada Kivlan Zen.

 Selain Bangun Istana, Jokowi Juga Kabulkan Permintaan Pembentukan Provinsi Baru di Papua

Uan itu untuk keperluan pembelian senjata api terkait rencana pembunuhan terhadap para tokoh tersebut.

Para tokoh yang menjadi target pembunuhan itu adalah Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, Menkopolhukam Wiranto, dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan.

Juga, dan dan Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen dan Keamanan Gories Mere. (*)

Penulis: Mohamad Yusuf
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved