Breaking News:

Kasus Investasi Qnet

Kepala Dusun Diduga Lakukan Sumpah Palsu Dalam Sidang Pra Peradilan Kasus Investasi Qnet

Kepala Dusun Diduga Lakukan Sumpah Palsu Dalam Sidang Pra Peradilan Kasus Investasi Qnet. Simak selengkapnya.

Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
WARTA KOTA/THEO YONATHAN SIMON LATURIUW
Suasana sidang putusan pra peradilan kasus imvestasi Qnet di PN Lumajang, Rabu (6/11) 

"Kalau sudah masuk blaclist. Itu wajib diberantas berarti Qnet," tegas Arsal.

Menurut Arsal, sistem skema piramida yang dijalankan Qnet lewat mitra usahanya cenderung merugikan masyarakat yang ada di bagian bawah piramida.

Apalagi dalam mencari member baru, para member lama melakukan cara yang tidak etis.

Mereka mendorong calon member untuk berhutang, menggadaikan barang, dan menjual barang.

 106 Bintara Dan 499 Tamtama Remaja Korps Marinir Resmi Sandang Baret Ungu

Menang Pra Peradilan

Sebelumnya, Polres Lumajang memenangkan 2 gugatan Pra Peradilan dalam kasus investasi Qnet, Rabu (6/11/2019).

Total ada 2 Pra Peradilan dalam kasus menyangkut bisnis skema piramida ini.

Pertama, pra peradilan yang diajukan 2 saksi, yakni Niswatul Munarah dan Fawa'id.

 Ini 3 Perusahaan yang Diduga Berada di Balik Bisnis Skema Piramida Qnet, Simak Peranannya

Kedua, pra peradilan yang diajukan tersangka Karyadi.

Namun Hakim menolak permohonan kedua pra peradilan tersebut dalam sidang putusan pada Rabu (6/11/2019).

"Kami yakin menang sejak awal pra peradilan ini dimulai," kata Kapolres Lumajang, AKBP Arsal Sahban, Rabu (6/11/2019) siang.

Arsal berjanji akan menuntaskan kasus ini.

"Korban bisnis skema piramida Qnet ini banyak. Kasihan masyarakat," ujar Arsal.

Sedangkan menyangkut gugatan Rp 11 miliar di PN Kediri terhadap Polres Lumajang, Arsal tidak takut.

"Kami lagi-lagi yakin menang untuk gugatan perdata itu," ujar Arsal.

 NEKAT! Gadis 11 Tahun Cungkil Mata Buaya, Teman-Temannya yang Menyaksikan Berteriak Histeris

14 Tersangka

Sementara itu, Penyidik Polres Lumajang memiliki dugaan dan bukti kuat terkait keterlibatan 3 perusahaan dalam bisnis skema piramida Qnet. 

"Makanya kami berani tetapkan tersangka untuk para direksi ketiga perusahaan tersebut," ujar Kapolres Lumajang, AKBP Arsal Sahban, ketika dihubungi Warta Kota, Selasa (5/11/2019). 

Saat ini, kata Arsal, pihaknya sudah menetapkan 14 tersangka. 

 Polres Lumajang Tambah 2 Tersangka di Kasus Investasi Qnet, Total Sudah 14 Tersangka

Seluruhnya berstatus direksi ketiga perusahan tersebut. 

Ketiga perusahaan itu adalah PT QN International Indonesia (Qnet), PT Amoeba Internasional, dan PT Wira Muda Mandiri.

Arsal menduga, ketiga perusahaan ini berbagi peran terkait bisnis skema piramida Qnet.

Dugaan Arsal, PT QNII (pemilik brand Q-NET) berperan untuk mengurus legalitas perusahaan dengan memanfaatkan celah hukum yang berada di Indonesia.

Hal itu membuat PT QNII  akhirnya mampu masuk dalam keanggotaan APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia) dan memiliki surat izin usaha perdagangan langsung yang dikeluarkan oleh Deperindag.

Sedangkan PT Amoeba Internasional, ujar Arsal, berperan untuk mendistribusikan barang tersebut kepada customer.

 Digugat Rp 100 Miliar, Polres Lumajang Justru Tersangkakan 11 Orang Lagi di Kasus Investasi Qnet

Namun, ujar Arsal, barang didistribusikan dalam bisnis skema piramida yang dijalankan PT Amoeba. 

Di mana member bisnis skema piramida harus membeli produk amescua PT QNII sebagai syarat pendaftaran.

Setelah membeli barang jenis amescua itu, barulah member bisa ikut serta dalam bisnis skema piramida, dan mendapatkan keuntungan dari sana. 

"Amescua ini alat kesehatan. Kami sedang lacak ijin edarnya. Sebab disebutnya ini alat kesehatan," kata Arsal. 

Lebih lanjut, Arsal mengatakan, cara-cara yang ditempuh PT Amoeba untuk membuat orang ikut serta di bisnis piramida cenderung tak wajar.

 Jelang Operasi Pemisahan Ardi dan Ardan, Air Mata Hesti Tumpah Ceritakan Kedua Buah Hatinya

Arsal mengatakan, member bisnis skema piramid Qnet seluruhnya mengenal istilah UGD yaitu Utang, Gadai, Dol (jual).

"Para calon member di paksa untuk mencari utangan ke teman, kesaudara atau bahkan ke bank. Kalau tidak dapat utangan mereka diajarkan untuk menggadaikan atau menjual harta benda yang mereka miliki, dengan iming-iming akan berlipat ganda harta yang mereka dapatkan," ucap Arsal.

Berikutnya, kata Arsal, PT Wira Muda Mandiri bertugas untuk menampung dana dari customer baru yang ingin bergabung.

"Pembayaran-pembayaran oleh member yang baru bergabung di transfer kepada senior membernya, dan dari senior membernya lah yang akan mentransfer ke PT Wira Muda Mandiri," kata Arsal. (cc)

 Videonya Viral, Pemalak Sopir Dengan Sajam di Jembatan Tiga Dibekuk Polisi

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved