Selasa, 28 April 2026

G30S PKI

Keberadaan DN Aidit di Malam G30S PKI, Ternyata Sempat Dibawa Pasukan Cakrabirawa

Kisah dibalik malam penculikan para jenderal dalam peristiwa G30SPKI, keberadaan DN Aidit yang sempat dibawa orang berseragam militer.

|
istimewa
Tokoh PKI DN Aidit 

Karena sang pemilik rumah tidak ada di lokasi tersebut, Aidit dibawa ke rumah mertua Omar di Jalan Otto Iskandardinata III, Jakarta Timur.

Namun, Omar tak kunjung muncul, sehingga Aidit dibawa lagi ke rumah dinas seorang bintara Angkatan Udara (AU) di Kompleks Perumahan AU di Halim Perdanakusuma, Jakarta yang dijadikan Central Komando (Cenko) II.

Saat penculikan dan pembunuhan terhadap beberapa jenderal berlangsung, Aidit hanya diam di rumah tersebut.

Aidit berpindah tempat Pada Jumat, 1 Oktober 1965 pagi hari, Aidit baru mengetahui bahwa “operasi” tidak berjalan sesuai rencana karena sejumlah jenderal justru tewas malam itu.

Baca juga: Digugat Bos Al Zaytun Panji Gumilang, Ridwan Kamil Sebut Nama Kakeknya yang Dimusuhi PKI

Sesuai perintah Omar Dhani, ia kemudian dibawa ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dan diterbangkan menuju Yogyakarta.

Satu hari di Yogyakarta, Aidit kemudian berpindah ke Semarang, Jawa Tengah dan melakukan konsolidasi agar PKI dapat dilepaskan dari insiden penembakan jenderal itu.

Dari Semarang, Aidit kemudian bertolak ke Boyolali dan Solo, Jawa Tengah.

Di dua kota tersebut, ia menerima kecaman terhadap apa yang terjadi di Jakarta.

Pada 6 Oktober 1965, saat berada di Blitar, Jawa Timur, ia menulis surat kepada Soekarno yang menyampaikan cerita G30S versinya.

Pada malam itu, ia dijemput oleh seseorang berpakaian Cakrabirawa dengan alasan untuk menghadiri rapat kabinet di Istana.

Namun, ia justru dibawa ke tempat lain. Aidit juga sempat bertanya kepada mereka, apakah penangkapan para jenderal sudah diketahui Soekarno.

Mereka pun menjawab bahwa Soekarno sudah memberikan “restu” untuk menindak para jenderal tersebut.

Akhir hidup Aidit Ia menyadari, Angkatan Darat di bawah Pangkostrad Mayjen Soeharto sedang memburu tokoh PKI yang dianggap menjadi dalang pembunuhan para jenderal.

Usai peristiwa G30S, Aidit tak pernah menginjakkan kakinya di Jakarta dan berusaha meredam aksi kekerasan militer kepada simpatisan PKI di Jawa Timur.

Dalam surat terakhirnya tertanggal 10 November 1965, Aidit mengaku akan mencari perlindungan ke China.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved