Sabtu, 2 Mei 2026

G30S PKI

Keberadaan DN Aidit di Malam G30S PKI, Ternyata Sempat Dibawa Pasukan Cakrabirawa

Kisah dibalik malam penculikan para jenderal dalam peristiwa G30SPKI, keberadaan DN Aidit yang sempat dibawa orang berseragam militer.

Tayang: | Diperbarui:
istimewa
Tokoh PKI DN Aidit 

Namun, Aidit akhirnya tertangkap pada 22 November 1965 dan dibawa ke Boyolali, Jawa Tengah usai terus bersembunyi di rumah teman-temannya.

Saat tertangkap, Aidit mengaku bertanggung jawab dan dibawa oleh Kolonel Jasir Hadibroto ke markas Batalion Infanteri 444. 

"Saya adalah satu-satunya orang yang memikul tanggung jawab paling besar dalam peristiwa G30S yang gagal dan yang didukung oleh anggota-anggota PKI yang lain, dan organisasi massa di bawah PKI," tulis Aidit dalam surat pemeriksaan yang ditandatanginya.

Di markas Batalion tersebut, Aidit dipersilakan membuat pesan terakhir dan memberikan pidato berapi-api yang membuat Jasir kesal.

"Aidit berteriak kepada saya, daripada saya ditangkap, lebih baik kalian bunuh saja," ungkap Jasir dalam wawancara dengan Suara Pembaruan pada September 1998.

"Saya sih, sebagai prajurit yang patuh dan penurut, langsung memenuhi permintaannya. Karena dia minta ditembak, ya saya kasih tembakan," sambunya.

Profil singkat DN Aidit  

Dilansir dari Kompas.com (22/5/2022), Aidit dianggap sebagai “tokoh antagonis” yang dituduh menjadi dalang peristiwa G30S.

Ia lahir dengan nama Achmad Aidit pada 30 Juli 1923, anak pertama dari pasangan Abdullah Didit dan Mailan.

Aidit kecil dikenal sebagai seorang anak yang pandai mengaji dan rajin beribadah.

Ia pernah mengenyam pendidikan Hollandsche Inlandsch School (HIS) dan pernah melanjutkan sekolah di Middestand Handel School, Jakarta.

Selama pendudukan Jepang di Indonesia, Aidit bersama teman-temannya mendapat pelajaran seputar politik dari tokoh besar, seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Achmad Soebardjo, dan Ki Hajar Dewantara.

Dia menjadi bagian dari PKI pada 1 September 1948 dan ditunjuk sebagai anggota Polirbiro yang bertanggung jawab dalam perburuhan.

Usai peristiwa Pemberontakan PKI Madiun, Aidit dan tiga orang lainnya, Njoto, Lukman, dan Sudisman menggantikan posisi pemimpin lama pada Januari 1951.

Kala itu, Aidit terpilih menjadi sekretaris jenderal partai berdasarkan hasil kongres kelima dan menyingkirkan tokoh-tokoh tua PKI yang dianggap banyak melakukan kesalahan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved