Wisata Jakarta
Wisata Jakarta: Berkunjung ke Galeri Wayang, Rupanya Begini Asal Usul Wayang Golek
Museum Wayang Kota Tua, Tamansari, Jakarta Barat berisikan sebanyak 6.000 koleksi pewayangan nusantara dan mancanegara dengan sederet sejarah.
Penulis: Nuri Yatul Hikmah | Editor: Junianto Hamonangan
WARTAKOTALIVE.COM, TAMANSARI — Siapapun pasti sudah tidak asing lagi dengan wayang, salah satu kesenian di Indonesia yang dahulu digunakan sebagai metode penyebaran agama Islam oleh Walisongo.
Namun tau kah anda jika kesenian wayang melalui proses yang panjang sebelum siap dipentaskan?
Kali ini, Warta Kota berkesempatan menengok galeri yang berisikan 6.000 koleksi pewayangan nusantara dan mancanegara di Museum Wayang Kota Tua, Tamansari, Jakarta Barat, Minggu (15/7/2023).
Rupanya, Museum Wayang itu menyimpan sejarah pewayangan yang lebih dalam berikut filosofinya.
Seperti misalnya, wayang golek. Menurut Ansor (40) selaku pemandu wisata di Museum Wayang Kota Tua, wayang golek dibuat untuk menggantikan pertunjukkan wayang kulit di siang hari.
Baca juga: Sejarah Jakarta: Ada Makam di Dalamnya, Ini Asal Muasal Museum Wayang Kota Tua
Pasalnya, kata dia, wayang kulit apabila dipentaskan pada siang hari tidaklah nampak terlihat.
Oleh karena itu, dibuat wayang golek (wayang yang dipahat) agar semua masyarakat bisa menikmati pertunjukkan wayang, baik siang maupun malam hari.
Adapun cikal bakal awalnya berasal dari wayang beber atau wayang yang bahan dasar pembuatannya, disadur dari relief candi-candi, kemudian dilukis dalam media kertas atau kain.
"Dari wayang beber (wayang yang dibentangkan--biasanya pakai media kertas atau kain), kemudian wayang kulit, tadi dipopulerkan oleh Walisongo, baru wayang golek," ujar Ansor saat ditemui Warta Kota di Museum Wayang Kota Tua, Tamansari, Jakarta Barat, Minggu.
"Nah kenapa ada wayang golek juga? Karena untuk wayang kulit mungkin hanya bisa dinikmati malam hari untuk bayangan tadi, nah barulah diciptakan wayang golek yang bisa dinikmati siang hari," ujar dia.
Baca juga: Sejak 1912, Museum Wayang Kota Tua Bekas Gereja Lama Belanda Runtuh Akibat Gempa Bumi
Selain itu, Ansor juga menyebut jika lambat laun wayang berkembang jenisnya, seperti misalnya wayang klitik, wayang lidi, dan lain sebagainya.
Kendati begitu, lanjut dia, semua wayang itu fungsinya sama, yaitu sebagai media informasi dan berkontribusi dalam penyebaran agama islam.
"Ada juga wayang klitik, sama kayak wayang golek (fungsinya) untuk penyebaran agama Islam. Kalau wayang beber itu awalnya dari Jawa Timur," jelas dia.
Sementara itu, dari pantauan Wartakotalive.com di lokasi, Minggu (15/7/2023), Museum Wayang itu menyuguhkan koleksi pewayangan dalam dua lantai.
Koleksi-koleksi wayang itu disimpan berjajar sesuai jenis dan kriterianya.
Pertunjukan Reog Ponorogo di TMII Menarik Perhatian Pengunjung |
![]() |
---|
46 Ribu Lebih Pengunjung Datangi Taman Margasatwa Ragunan Selama Long Weekend HUT ke-80 RI |
![]() |
---|
Begini Potret Murugan Temple, Kuil Hindu Terbesar di Indonesia Yang Ada di Kalideres Jakbar |
![]() |
---|
Jadi Saksi Bisu Sejarah Jakarta, Makam Keramat Angke Hanya Andalkan Sedekah Peziarah untuk Perawatan |
![]() |
---|
Upaya Menjadikan Batu Khas Nusantara Naik Kelas, Event Kontes Bacan Rock Show Digelar di Hotel |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.