Senin, 11 Mei 2026

Jokowi Berbahasa Sangat Sederhana, Jubir Presiden Juga Dinilai Harus Bisa Begitu

Partai NasDem menilai posisi jubir Jokowi sangat mendesak untuk diisi figur baru.

Tayang:
Biro Pers Setpres
Ali menyebut, kriteria jubir harus memahami gaya komunikasi Presiden Joko Widodo (Jokowi). 

"Kalau disampaikan ke rakyat dengan bahasa yang tidak sama, jadinya banyak dipelintir-dipelintir," ulasnya.

Pakar Komunikasi: Jangan Orang Partai!

Emrus Sihombing, pakar komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan mengatakan, sosok yang pas untuk menjadi juru bicara Presiden pengganti Fadjroel Rachman, harus memiliki latar belakang komunikasi.

Sebab, kata Emrus, orang yang memahami konsep teori dan etika komunikasi yang lebih profesional, harus berlatar belakang komunikasi.

"Coba bayangkan, Jaksa Agung backgroundnya komunikasi bukan sarjana hukum, kacau kan?"

Baca juga: Mahfud MD: Mendagri Buat Aturan Wajib Tes PCR Atas Perintah Sidang Kabinet, Bukan Semaunya Sendiri

"Nah, hal yang sama, jubir presiden harus S1, S2, S3 komunikasi."

"Karena dia menguasai konsep teori dan etika komunikasi," kata Emrus saat dihubungi Tribunnews, Selasa (26/10/2021).

Emrus menekankan, jubir presiden jangan dari partai politik.

Baca juga: Gugat Inmendagri yang Wajibkan Penumpang Pesawat Tes PCR, Ketua JoMan: Rakyat Sudah Kepayahan

Karena, tugas jubir salah satunya adalah menjembatani kepentingan politik.

Sehingga, jika jubir Presiden dari partai politik, maka akan bertindak atas dasar ekskusifitas politik.

"Jangan orang partai, harus orang yang bukan partai," tegasnya.

Baca juga: Selain Harga Diturunkan, Legislator PAN Minta Masa Berlaku Hasil Tes PCR Diperpanjang Jadi 7 Hari

Emrus menambahkan, jubir presiden yang akan dipilih oleh Jokowi harus menjembatani, menyambungkan, menyatukan, dan menyinergikan kepentingan pihak yang satu dan yang lain.

Termasuk, pemerintah dengan rakyat, partai politik dan kepentingan ekonomi, hukum dan HAM.

"Kalau mau evaluasi, masa jabatan Fadjroel tidak produktif sebagai jubir presiden."

Baca juga: Puan Maharani: Tarif Tes PCR Jangan Lebih Mahal dari Harga Tiket Transportasi Publik

"Nah, supaya tidak terulang lagi, idealnya tentu saya sarankan komunikolog tadi," tuturnya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved