Pemerintah Prioritaskan Transformasi UMKM yang Andalkan Offline menjadi Ekonomi Digital

Pemerintah memprioritaskan transformasi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), dari yang selama ini mengandalkan offline menjadi online

Dok: Kemenkop dan UKM
Kunjungan kerja Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam realisasi program restrukturisasi atau pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pedagang pasar di Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (23/6/2020). Foto dokumentasi Kemenkop dan UKM 

WARTAKOTALIVE.COM -Hingga saat ini baru 8 juta UMKM, atau 13 persen saja dari total UMKM, yang sudah terkoneksi secara digital. Oleh karena itu di saat pandemi virus corona (Covid-19) semakin mengharuskan UMKM untuk masuk dalam ekonomi digital.

Pemerintah memprioritaskan transformasi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), dari yang selama ini mengandalkan offline menjadi online atau ekonomi digital. "Kami menargetkan hingga akhir tahun ini ada tambahan 2 juta UMKM yang bisa terhubung ke ekonomi digital, sehingga total akan ada10 juta UMKM," kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam siaran pers, Minggu (28/6/2020).

Dinas PMPTSP DKI Jakarta Mendorong Warga Maksimalkan Layanan Online

Saat Padamkan Api, Petugas Damkar Makassar Dipukul dan Mobil Dirusak Warga

Sayangnya, kata Teten, tidak serta merta UMKM yang sudah masuk digital itu bisa bertahan. Berbagai survei menunjukkan, tingkat keberhasilan UMKM yang masuk ekonomi digital berkisar hanya 4 persen -10 persen.

"Masalahnya apa? Ada beberapa, misalnya, di pasar online UMKM sudah harus berhadapan dengan brand besar, sementara kemampuan manajemen masih rendah, kapasitas dan volume produksi juga relatif kecil. Kasus bakpia pathok bisa jadi pelajaran, di mana pelaku UMKM sangat banyak, dengan volume produksi yang terbatas. Di sini perlu adanya konsolidasi brand, juga perlu ada rumah produksi bersama, sehingga bisa menjadi efisien," jelas Teten.

Pelibatan kaum milenial yang sudah akrab dengan teknologi informasi (TI) akan sangat membantu para UMKM, khususnya dalam masalah pemasaran di pasar digital. Kaum milenial juga bisa mendampingi UMKM dalam teknologi pengemasan dan kualitas produk.

VIDEO : Pernyataan Lengkap Kejengkelan Presiden Joko Widodo Karena Menteri Kerja Biasa-Biasa Saja

Berbeda dengan krisis 1998 di mana UMKM mampu bertahan, saat ini akibat pandemi Covid-19, sekitar 50 persen UMKM diperkirakan gulung tikar. Meski demikian pemerintah berupaya optimal untuk menyelamatkan UMKM dengan berbagai stimulus, setidaknya agar bisa menekan bertambahnya angka pengangguran dan tingkat kemiskinan.

Teten menuturkan, terdapat setidaknya 40 survei memperkirakan separuh UMKM tidak akan mampu survive. "Pemerintah berusaha membangkitkan UMKM dengan berbagai cara karena di sana ada 60 juta pengusaha UMKM, belum lagi jumlah tenaga kerjanya," kata Teten

Bawaslu Bakal Gelar Rapat Pleno untuk Putuskan Kasus Beredarnya Pesan Berantai Ajak ASN di Pilkada

Sara Fajira Siapkan Kejutan dalam Lagu Duetnya dengan Titi DJ

Langkah-langkah yang dilakukan untuk membangkitkan UMKM itu antara lain mendorong UMKM menerima bansos, memberikan insentif pajak, relaksasi dan restrukturisasi pinjaman, di mana ada 60,6 juta UMKM yang sudah terhubung dengan lembaga pembiayaan formal.

Selanjutnya, memberikan pinjaman baru, termasuk pada koperasi, mendorong Kementerian dan Lembaga serta pemda menyerap produk UMKM, serta kampanye membeli produk lokal. Semua kebijakan ditujukan agar daya beli masyarakat bisa tumbuh, sekaligus menggerakkan perekonomian.

Naskah ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul "Pemerintah targetkan tambah 2 juta UMKM masuk ekonomi digital di 2020"

Editor: Agus Himawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved