Minggu, 12 April 2026

SATU Indonesia Awards 2020 Gelar Diskusi Tentang Pendidikan Kunci Peradaban

SATU Indonesia Awards telah mengapresiasi 305 anak muda, yang terdiri dari 59 penerima tingkat nasional dan 246 penerima tingkat provinsi.

Editor: Agus Himawan
istimewa
Penyanyi berprestasi Tasya Kamila (tengah) berbincang bersama dengan Penerima SATU Indonesia Awards 2019 bidang pendidikan Ai Nurhidayat (kanan) dipandu oleh moderator Robert Harianto (kiri) dalam diskusi online melalui Inspira Webinar yang merupakan hasil kolaborasi Astra bersama mitra SATU Indonesia Awards 2020, yakni Young On Top, bertema “Pendidikan Kunci Peradaban” melalui berbagai platform, seperti Instagram, Youtube, Facebook dan Twitter (1/6/2020). 

WARTAKOTALIVE.COM - Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2020 mengadakan diskusi secara online tentang pendidikan untuk berbagi inspirasi sekaligus menjaring anak muda di seluruh pelosok Indonesia yang berkontribusi bagi sekitarnya, Senin (1/6/2020).

Dengan tema “Pendidikan Kunci Peradaban”, penyanyi Tasya Kamila dan penerima SATU Indonesia Awards 2019 bidang pendidikan Ai Nurhidayat hadir menjadi nara sumber.

Ai Nurhidayat atau yang dikenal dengan “Penjaga Toleransi Multikultural” berbagi kisah tentang pendidikan dari pengalamannya, sedangkan Tasya bercerita tentang pentingnya menempuh pendidikan.

Perpanjang Masa PSBB Kota Tangsel, Airin Sebut karena Angka Penularan Masih Tinggi

Pengelola Terminal Terpadu Pulo Gebang Masih Tunggu Instruksi Penerapan New Normal

Lebaran ke Puncak di Tengah Pandemi Covid-19, Ayu Ting Ting Bawa Surat Keterangan Sehat

Popularitas dan kesuksesan di dunia hiburan terkadang membuat banyak selebritas lebih memilih profesinya dibandingkan dengan pendidikan mereka. Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk Tasya. Penyanyi yang sudah terjun ke dunia musik sejak usia tujuh tahun ini pun rela meninggalkan Indonesia demi kuliah di negeri orang.

“Dari usia muda, saya sudah merasakan sukses. Tapi, saya tidak mau berada di situ saja. Saya mau berkembang dan salah satunya adalah dengan mencari ilmu. Kalau uang bisa habis, tapi kalau ilmu, tidak akan pernah habis,” ujar Tasya.

Mengapresiasi Keberagaman

Sementara bagi Ai Nurhidayat, pendidikan merupakan hal penting dalam mewujudkan gerakan masyarakat untuk mengapresiasi keberagaman di Indonesia. Bersama dengan temantemannya di Dusun Cikubang, Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi Pangandaran Jawa barat, Ai menginisiasi kelas multikultural dan menerima siswa dari seluruh pelosok negeri agar mereka dapat hidup bersama dan membangun koneksi antar ras, suku, agama, budaya serta tingkat ekonomi.

PUBG Mobile Resmi Rilis Mode Terbaru Bertema Hutan Misterius di Peta Sanhok

Sekda DKI: Pemprov DKI Pastikan Penghasilan TGUPP Ikut Dipangkas

Merasa Ditipu hingga Rp 39,8 Miliar, 11 Nasabah Investasi PT VMI Bikin Laporan ke Polda Metro

Gerakan ini berawal dari pertemuannya dengan seorang guru yang mengajar di SMK Bakti Karya yang hampir gulung tikar karena muridnya sedikit. Ai dan kawan-kawannya pun berinisiatif menyelamatkan sekolah tersebut dan mengintegrasikannya dengan Komunitas Sabalad pada tahun 2014.

Di SMK Bakti Karya, para siswa dari berbagai pulau di Indonesia belajar tentang multimedia, ekologi hingga 60 materi pokok multikulturalisme yang mengacu pada lima konsep dasar yakni penanaman nilai toleransi, semangat perdamaian, semangat berjaringan, berbudaya dan pembelajaran aktif.

Konsep belajar di luar ruangan juga banyak dilakukan oleh para murid SMK Bakti Karya seperti bercocok tanam, aktif dalam kegiatan masyarakat hingga turut berpartisipasi dalam kegiatan tradisi daerah.

Gara-gara Covid-19, Pendapatan Kota Depok Turun Hingga 25 Persen

Exco dan Ketua Umum PSSI Gelar Rapat Khusus Tentukan Kompetisi Sepakbola Besok Selasa 2 Juni 2020

Ini Penyebab Masih Tingginya Angka Virus Corona di Jawa Timur, Dianggap Belum Layak Perlonggar PSBB

Selain itu, siswa juga diajarkan membuka jalan pengetahuan tentang pandangan dunia dan referensi kerja dalam kelas profesi. Mereka juga diajak untuk menjadi agen perdamaian dalam kegiatan ekspresi perdamaian sekolah multikultural yang diajarkan dalam program “Splash The Peace.”

Hingga tahun 2019, kelas multikultural telah meluluskan 35 siswa dari enam provinsi. Hingga kini terdapat 250 relawan dan kakak asuh yang turut membantu perjuangan Ai dan kawankawannya.

“Keinginan masyarakat dunia adalah mencapai perdamaian. Caranya bagaimana? Mempertemukan orang yang berbeda-beda, berinteraksi dalam jangka waktu yang cukup untuk saling memahami, mengenal, menciptakan sesuatu yang baru dan belajar dari kebudayaan lain. Setelah itu otomatis akan beradaptasi, otomatis akan bertoleransi dengan yang lain,” kata Ai Nurhidayat.

China Mengomentari Rusuh AS: Rasisme Merupakan Penyakit Kronis dalam Masyarakat AS

Jelang PSBB Proporsional, Pemkot Depok Kembangkan Inovasi yang Diklaim Pertama di Jawa Barat

Wagub DKI Jakarta Ariza Tinjau Cek Poin di Kalimalang, Periksa SIKM dan Penerapan PSBB

Sama seperti tahun sebelumnya, SATU Indonesia Awards menjaring anak muda hingga ke seluruh pelosok Indonesia yang tak kenal lelah memberikan manfaat bagi sekitarnya.

Apresiasi diberikan kepada lima anak bangsa atas setiap perjuangan di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, Teknologi serta satu kategori yaitu kelompok yang mewakili bidang tersebut.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved