Penembak Anggota PJR di Tol Cipali Pernah Serang Polsek Bulakamba dan Polres Cirebon Kota

Dua inisial terakhir tewas ditembak mati oleh petugas, karena melawan saat akan ditangkap.

Penembak Anggota PJR di Tol Cipali Pernah Serang Polsek Bulakamba dan Polres Cirebon Kota
WARTA KOTA/JOKO SUPRIYANTO
Jenazah Aiptu Dodon Kusgiantoro dimasukan ke ruang CT Scan postmortem Rumah Sakit Polri Kramat Jati. 

APARAT Densus 88 Antiteror meringkus tujuh terduga teroris, yang diduga terkait aksi penembakan dua anggota polisi Patroli Jalan Raya (PJR) di Tol Kanci-Pejagan, Cipali, Jawa Barat.

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menyebutkan inisial para terduga teroris tersebut, yakni S, C, G, MU, KA, IA, dan RS.

Dua inisial terakhir tewas ditembak mati oleh petugas, karena melawan saat akan ditangkap.
Setyo Wasisto pun menceritakan kronologi kejadian, bagaimana tujuh terduga teroris ini bisa ditangkap jajarannya.

Baca: Densus 88 Tembak Mati Dua Penyerang Polisi di Tol Cipali

Awalnya, Densus 88 Antiteror meringkus S pada Minggu (2/9/2018) pukul 12.09 WIB. Dari keterangan S usai diperiksa, didapati sejumlah fakta baru, yakni adanya rentetan peristiwa yang saling terkait penembakan terhadap dua polisi PJR di Tol Cipali.

Ternyata sejumlah terduga teroris merupakan pelaku yang juga melakukan penyerangan terhadap anggota Polri di Polsek Bulakamba, Brebes, pada 18 Juni 2018, dan Polres Cirebon Kota, 20 Agustus 2018.

"Diperoleh keterangan bahwa pelaku penyerangan anggota Polsek Bulakamba adalah H dan RS. Pelaku yang lakukan penyerang anggota Sabhara Polres Cirebon Kota adalah H dan RS, dan pelaku penyerangan PJR adalah H, RS, IA, dan MU," beber Setyo Wasisto di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (3/9/2018).

Baca: APBD Kota Bekasi Defisit Rp 900 Miliar, Ini Penyebabnya

Aksi mereka dibantu oleh C dan G, yang juga ditangkap pada hari yang sama, pukul 14.09 WIB. Setyo Wasisto mengatakan, dua orang itu memiliki keterlibatan membantu pelaksanaan aksi H, RS, IA, dan MU.

Densus 88 kemudian beraksi sehari setelahnya, yakni Senin (3/9/2018), dengan menangkap IA dan RS. Mereka tewas karena melakukan perlawanan menggunakan senjata api jenis revolver.

"Senin 3 September jam 09.30 WIB, tadi pagi, dilakukan penangkapan terhadap pelaku atas nama IA dan RS. Kemudian dilakukan penindakan menggunakan kekuatan yang terukur menyebabkan IA dan RS meninggal dunia," ungkapnya.

Baca: Atasi Antrean Panjang dalam Pelayanan Publik, Pemkot Tangerang Andalkan Si Anton

Senjata api tersebut, jelasnya, merupakan hasil rampasan milik anggota Sabhara Polres Cirebon Kota atas nama Brigadir Polisi Angga Turangga. Senjata itu dirampas dalam penyerangan yang terjadi pada 20 Agustus silam.

Kemudian, KA dan MU ditangkap sekitar pukul 11.34 dan 11.59 WIB, usai penangkapan IA dan RS. Sedangkan H hingga kini masih buron dan dalam pengejaran oleh kepolisian.

Polisi menjerat para terduga teroris yang masih hidup dengan pasal 15 juncto pasal 6 UU Nomor 5 Tahun 2018 tentang Terorisme.

Baca: Mantan Menteri ATR Jadi Timses Prabowo-Sandi, Kubu Jokowi: Mungkin Kecewa karena Direshuffle

Jenderal bintang dua tersebut menyebut, polisi berhasil mengamankan sejumlah barang bukti, antara lain satu senjata api jenis revolver kaliber 58 mm, peluru utuh 1, dan 4 butir longsong peluru (kosong), dan dua senjata tajam yang digunakan untuk menyerang anggota Sabhara.

"Selain itu disita juga dua sepeda motor, salah satunya ini (menunjukkan gambar sepeda motor Honda Beat warna putih biru) dan ini jaket (berwarna merah) pada saat menyerang anggota PJR di Cipali," paparnya. (Vincentius Jyestha)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved