Pemilu 2024

Mantan BEM, Presiden Mahasiswa, Senat Kampus Pertanyakan Civitas Akademis Tuntut Pemilu Damai

Rektor Unhas dan UGM, mengatakan pernyataan civitas akademika bukan pernyataan yang mewakili institusi. Atas dasar apa mereka bergerak ?

Wartakotalive/Fitriyandi Al Fajri
Para alumni BEM, Presiden Mahasiswa dan Senat Kampus mempertanyakan, sekelompok akademis yang mengatasnamakan civitas akademika dari berbagai perguruan tinggi negeri, yang seolah bersuara menuntut Pemilu adil dan bebas kecurangan, di Jakarta, Senin (5/2/2024). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Para alumni Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Presiden Mahasiswa dan Senat Kampus mempertanyakan, sekelompok akademis yang mengatasnamakan civitas akademika dari berbagai perguruan tinggi negeri, yang seolah bersuara menuntut Pemilu adil dan bebas kecurangan.

Bahkan Rektor Unhas dan UGM, mengatakan pernyataan civitas akademika bukan pernyataan yang mewakili institusi.

“Lalu atas dasar apa mereka bergerak? Bagi sekelompok partisan memang mengatakan bahwa Pemilu curang dengan alasan yang juga politis tetapi masyarakat mayoritas menyambut baik jalannya pemilu. Lalu orang-orang tersebut bersuara atas aspirasi siapa?,” Ketua BEM KM Institut Pertanian Bogor 2019-2020, Bhirawa Ananditya Wicaksana pada Senin (5/2/2024).

Karena itu, Bhirawa menyoroti beberapa poin yang menurutnya relevan dan seharusnya disuarakan oleh kelompok akademisi.

Pertamapemilu 2024 harus berjalan secara jujur dan adil serta bebas dan rahasia, dan semua pihak agar menjaga kondusifitas dan mengutamakan perdamaian.

Kedua kampus harus terbebas dari narasi politik kebencian, adu domba, hasut dan politik identitas yang dapat menimbulkan polarisasi di tengah masyarakat,” jelasnya.

Baca juga: Deklarasi Pernyataan Sikap Guru Besar ITB Disisipi Video Tak Senonoh oleh Oknum Peserta Zoom

Ketiga, lanjutnya, evaluasi Kemendikbud dan Ristek karena disinyalir tidak fokus terhadap fungsi pengembangan dan pembinaan tenaga pendidik di kampus.

Termasuk evaluasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam upaya pengembangan riset ilmu pengetahuan, serta patut diduga menjadi alat kepanjangan tangan partai politik tertentu.

Keempat, mengajak kepada semua elemen khususnya anak muda untuk turut aktif dalam sukseskan proses demokrasi, menggunakan hak pilihnya dan hindari golput.

Kemudian mewaspadai segala potensi kecurangan yang ada di semua tahapan pemilu.

Kelima, proses estafet kepemimpinan bangsa harus terus berjalan serta memastikan Keberlanjutan pembangunan demi cita-cita Indonesia Emas 2045.

“Demikian pernyataan kami sampaikan, sebagai bagian dari insan akademis yang peduli terhadap dunia pendidikan kampus dan kecintaan terhadap bangsa dan negara Indonesia,” jelasnya.

Baca juga: Kecewa dengan Praktik Demokrasi Presiden Jokowi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Gelar Mimbar Bebas

Diketahui, alumni BEM, Presiden Mahasiswa, dan Senat Kampus yang mempertanyakan hal ini berasal dari berbagai kampus.

Misalnya, Abd. Fatir Kasim (Ketua BEM-Universitas Hasanudin 2019-2020); Eko Pratama (Ketua BEM Universitas Wijaya Kusuma Surabaya 2019-2022); M. Rifaldy S. Ibura (Ketua BEM Universitas Negri Gorontalo 2020).

Kemudian Reza Setiawan (Ketua BEM Universitas Raharja 2018-2019); Rafli Maulana (Ketua BEM Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 2019); Nur Solihin (BEM STHI 2019); Darul Husaini (Wakil Ketua BEM Universitas Islam Bandung 2021-2022) dan sebagainya. (faf)

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved