Kenaikan Harga BBM

Banyak Orang Mampu Pakai BBM Bersubsidi, Direktur Riset Indef: 80 Persen Pertalite, 95 Persen Solar

Banyaknya orang mampu pakai BBM bersubsidi, diungkap Direktur Riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya.

Editor: Panji Baskhara
Warta Kota/Rangga Baskoro
Ilustrasi: Direktur Riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya, sebut banyak masyarakat mampu menggunakan BBM bersubsidi. Foto: Antrean pengendara jelang kenaikan harga BBM di salah satu SPBU Kota Bekasi. 

WARTAKOTALIVE.COM - Bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi justru jauh lebih banyak dimanfaatkan oleh orang-orang mampu.

Banyaknya orang mampu pakai BBM bersubsidi, diungkap Direktur Riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya.

Diterangkan Berly Martawardaya pemanfaatan BBM bersubsidi selama ini belum sesuai dengan prinsip keadilan.

Penyebabnya, karena angka konsumsi BBM bersubsidi didominasi oleh masyarakat berkonomi mampu.

Baca juga: VIDEO : Tolak Kenaikan BBM, Buruh Kabupaten Bogor Geruduk Kantor Bupati Bogor

Baca juga: Didesak Tanda Tangani Pakta Integritas Penolakan Kenaikan Harga BBM, Ini Kata Plt Wali Kota Bekasi

Baca juga: VIDEO : Gema Keadilan PKS Depok Tolak Kenaikan Harga BBM

"Konsumsi BBM didominasi oleh masyarakat mampu, di mana 80 persen pertalite dan 95 persen solar dikonsumsi oleh kelompok masyarakat mampu,"

"Sehingga tidak sesuai dengan prinsip distribusi dan keadilan," ujarnya, pada Selasa (4/9/2022).

Berly mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan pemerintah harus membuat penyesuaian harga BBM.

Diantaranya pemulihan ekonomi setelah Covid-19 reda dan invasi Rusia ke Ukraina yang dorong kenaikan harga minyak dunia, hingga tembus angka 100 dolar AS per barel.

Diakuinya kembali, kompensasi yang dianggarkan dalam APBN 2022 sebesar Rp 18,5 triliun tidak cukup untuk jaga harga solar dan pertalite.

Melalui Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2022, alokasinya pun ditambah menjadi Rp 252,4 triliun.

Namun, angka penambahan itu ternyata masih tidak cukup.

Sehingga diperkirakan perlu tambahan anggaran untuk subsidi BBM sebesar Rp195,6 triliun sampai akhir tahun ini.

"Anggaran kompensasi BBM sebesar Rp 448,1 triliun mendekati 15 persen dari APBN 2022 alias melebihi semua kategori belanja lain kecuali pendidikan."

"Padahal dari tiga fungsi APBN, yaitu stabilisasi, distribusi, dan alokasi, maka tidak tepat bila fungsi stabilitas dalam konteks ini harga solar dan pertalite ketika harga minyak global meroket, mengalahkan dua fungsi lainnya," ungkap Berly.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved