Komunitas
Salam Forum Wujudkan Ruang Digital yang Toleran
Kami mendorong para kreator konten untuk aktif menyuarakan pesan perdamaian dan toleransi di tengah keberagaman masyarakat Indonesia
"Sepuluh video hasil kolaborasi ini merupakan upaya kolektif untuk membangun kesadaran dan literasi digital serta perwujudan komitmen YouTube dan Google untuk menciptakan ruang digital yang aman, sehat dan positif, baik melalui kebijakan, fitur teknologi maupun kemitraan dengan para pemangku kepentingan," sambungnya.
Baca juga: Komunitas Pewarta Hiburan Indonesia Serahkan Bantuan untuk Pengungsi Korban Erupsi Gunung Semeru
Kampanye ini juga mendapatkan dukungan penuh dari badan pembangunan PBB, UNDP.
Mitra Modaressi, PVE Program Manager UNDP Bangkok Regional Hub mengungkapkan kesiapannya dalam memberikan dukungan penuh dalam menyediakan fellowship.
Fellowship ini bertujuan untuk meningkatkan toleransi dan keterbukaan di Indonesia, serta mendukung ulama muda untuk mampu memproduksi konten yang berkualitas yang mempromosikan nilai keberagaman dan kohesi sosial.
"UNDP ingin memperluas keterlibatan para pemuda dari seluruh Asia Tenggara dalam mempromosikan narasi positif dan masyarakat yang inklusif di ruang digital," kata Mitra.
Sementara itu, Marc Vierstraete Verlinde, Pakar Keamanan dan Kontra Terorisme Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, meyakini bahwa budaya popular dapat dimanfaatkan dan memiliki peran penting dalam membangun kohesi sosial.
"Pendekatan yang unik dengan gaya popular, dengan berdasarkan pengamatan yang teliti terhadap pengalaman keseharian, seperti melalui produksi film pendek ini, akan sangat berkontribusi dan berdampak dalam membangun kesadaran tentang pentingnya menjaga keberagaman dan merawat toleransi, terlebih di Indonesia yang masyarakatnya dikenal sangat majemuk dan beragam ini," ujarnya.
Maraknya ujaran kebencian (hate speech) yang beredar di ruang digital, juga berdampak negatif dalam menjalin hubungan baik antar sesama manusia dan antar umat beragama.
Hal ini menjadi tantangan dan ancaman perihal toleransi di Indonesia.
Habib Husein Ja’far Al Hadar, seorang Da’i Islam Cinta dan sekaligus content creator yang juga berdakwah melalui media sosial menegaskan masyarakat harus sangat bijak dalam bermedia.
Saat ini publik diberikan kemudahan dalam mengakses dan menyebar informasi apapun. Media sosial menjadi platform utama penyebaran informasi
"Jika tidak digunakan secara bijak dan sesuai etika, media sosial menjadi lahan subur menyebarkan konten terlarang yang bisa menyebabkan intoleransi. Masyarakat harus berpikir sebelum menulis, dan berpikir sebelum menyebarkan konten," ucapnya.
Baca juga: Hari Film Nasional 2022, Organisasi Perfilman Jadikan Gedung PPHUI Sebagai Pagar Budaya Perfilman
Video perdamaian hasil kolaborasi 10 content creator ini menghadirkan 10 video yang bertemakan perdamaian dengan durasi tiap konten sekitar 4-8 menit.
Video ini juga dilengkapi dengan toolkit yang berisi informasi tentang 7 langkah jitu, yang bisa membantu publik untuk menyebarkan konten konten toleransi di media sosial.
Publik yang ingin mempelajari lebih dalam tentang menyusun konten toleransi yang berbentuk kontra narasi dan narasi alternatif untuk toleransi dan perdamaian, bisa mengunduhnya di: https://www.wahidfoundation.org/
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/peluncuran-kampanye-salam-forum.jpg)