Senin, 20 April 2026

Pilpres 2024

Waketum PPP: Sudah Punya Partai, Suharso Monoarfa Tak Perlu Bikin Relawan dan Deklarasi

Anggota Komisi III DPR itu mengatakan, dalam era demokrasi, ekspresi menunjukkan dukungan terhadap tokoh tertentu diperbolehkan. 

ISTIMEWA
PPP menyiapkan ketua umum Suharso Monoarfa menjadi calon wakil presiden dalam pemilihan presiden (pilpres) 2024. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Relawan Anies Baswedan mendeklarasikan dukungan kepada Gubernur DKI Jakarta itu sebagai calon presiden 2024. 

Wakil Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani menilai wajar para relawan muncul untuk mendukung sosok tertentu, untuk dijagokan dalam pemilihan presiden 2024. 

Dia memprediksi dalam waktu dekat pun bakal ada relawan yang mendukung sosok yang berpotensi capres, misalnya Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. 

Baca juga: PAN Apresiasi Deklarasi Dukungan untuk Anies Baswedan, tapi Belum Mau Bahas Capres-Cawapres 2024

"Wajar saja kan ada juga relawannya Ganjar sudah terbentuk mendeklarasikan."

"Sekarang ada lagi relawannya Anies, nanti sebentar lagi ada relawannya Ridwan Kamil," kata Arsul di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/10/2021). 

"Kalau Suharso Monoarfa (Ketum PPP) tidak perlu bikin relawan, punya partai dia, tidak perlu deklarasi," imbuhnya. 

Baca juga: ANIES: Kami Harap Presiden Baru yang Dilantik pada 20 Oktober 2024 Anies Baswedan

Anggota Komisi III DPR itu mengatakan, dalam era demokrasi, ekspresi menunjukkan dukungan terhadap tokoh tertentu diperbolehkan. 

Namun, bagi partai politik, khususnya PPP, tak akan terburu-buru menetapkan siapa yang bakal diusung sebagai capres 2024. 

"Kalau sekarang itu ibarat main catur, masih langkah kuda, kadang maju kadang mundur," ucapnya.

Mengukur Baju

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menyiapkan ketua umum Suharso Monoarfa menjadi calon wakil presiden (cawapres) dalam pemilihan presiden (pilpres) 2024.

Ketua DPP PPP Achmad Baidowi menyatakan, PPP 'ngukur baju' alias bersikap realistis dengan kekuatan PPP saat ini di parlemen.

Hal itu ia sampaikan dalam Dialektika Demokrasi bertajuk 'Membaca Peta Koalisi dan Potensi Kontestasi 2024', di Media Center Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (14/10/2021).

Baca juga: UPDATE Covid-19 Indonesia 20 Oktober 2021: 1.207 Pasien Sembuh, 914 Orang Positif, 28 Meninggal

Awalnya, Baidowi menyinggung kemungkinan hadirnya tiga poros dalam pilpres mendatang.

Dia mengatakan PPP sebagai partai berbasis Islam, masih tetap signifikan bersanding dengan partai lainnya, meski hanya memiliki suara sebesar 4,5 persen saat Pemilu 2019.

"Satu poros PDIP, satu poros Golkar, dan satu lagi poros lainnya."

Baca juga: Komunikasi Risiko Pemerintah Dinilai Buruk, Saat Covid-19 Melonjak Banyak Masyarakat Tak Percaya

"Di poros yang lain itu, itu tergantung PPP juga, apakah PPP tertarik dengan poros ketiga, misalkan Nasdem, PAN, PPP itu sudah 21 persen."

"Itu memang memungkinkan, tetapi kita tak membicarakan jauh ke sana," ujar anggota Komisi VI DPR itu.

Pria yang akrab disapa Awiek itu menyatakan, PPP sebagai partai religius bakal melengkapi partai-partai nasionalis yang memiliki suara besar.

Baca juga: DAFTAR Negara Tanpa Korban Wafat Akibat Covid-19 per 20 Oktober 2021, Mayoritas Negeri Kepulauan

Katanya, PPP terbuka peluang berkoalisi dengan Golkar atau Gerindra untuk melengkapi sisi partai religius.

"Bahkan, kehadiran PPP sebagai salah satu partai partai identitas yang berasas Islam, dibutuhkan kehadirannya di situ," paparnya.

Realitas politik membuat PPP mesti realistis menghadapi Pilpres 2024.

Baca juga: Empat Kadernya Diciduk karena Terlibat Korupsi, Golkar Bakal Lebih Intensif Lakukan Pencegahan

Namun, PPP tetap bisa mengajukan Suharso Monoarfa sebagai cawapres di Pilpres 2024.

"Kami apresiasi kepada Partai Golkar yang mendeklarasikan Pak Airlangga sebagai capres, karena beliau punya kekuatan."

"Kalau partai kami, Ketua Umum PPP (Suharso Monoarfa) mendeklarasikan sebagai capres, kenapa tidak ngukur baju?"

"Kalau kemudian Ketum PPP mendeklarasikan sebagai cawapres saya kira bajunya pas," bebernya.

Berat

Ujang Komaruddin, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review menilai, peluang Suharso menjadi cawapres akan berat.

"Saya melihat peluang Suharso berat, karena elektabiltasnya tak ada," kata Ujang saat dihubungi Tribunnews, Sabtu (16/10/2021).

Ujang mengatakan, bertarung sebagai cawapres juga harus bermodalkan elektabilitas yang bagus.

Baca juga: Pasang Target Ambisius di Pemilu 2024, Golkar Dinilai Sanggup Memenuhinya Asal Penuhi Dua Syarat Ini

Sebab, untuk meningkatkan kekuatan seorang calon presiden (capres), juga dibutuhkan cawapres yang memiliki elektabilitas tinggi.

"Jadi nanti kelihatannya capresnya tak akan mau terhadap Suharso," ulas Ujang.

Namun di balik itu, Ujang melihat wajar jika para ketua umum partai didorong untuk berkontestasi dalam pemilu.

Baca juga: Aliansi Nasional Indonesia Sejahtera: Anies Baswedan Pilihan Tepat Bagi Rakyat Indonesia

Sebab, hal itu akan memberikan dampak kepada kenaikan suara partai.

"Karena agar partainya punya efek ekor jas dalam pemilu."

"Jika ketumnya nyapres, maka partainya terkerek pemberitaannya," papar Ujang.

Bersatu

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menggelar rapat pimpinan nasional (rapimnas) I, Jumat (12/3/2021).

Dalam rapat tersebut, Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa memberikan pidato politiknya.

Ada pemandangan menarik saat Suharso memanggil Djan Faridz naik ke mimbar.

Baca juga: Moeldoko Bakal Diusung Jadi Capres 2024? Jhoni Allen: Kalau ke Bandung Harus Mampir ke Bogor Dulu

Suharso memanggilnya dengan sebutan kawan lama.

Djan sempat berada di kubu seberang, yakni PPP Muktamar Jakarta, dan menjabat sebagai ketum.

Kini, Djan menjabat anggota Majelis Kehormatan PPP di bawah Ketum Suharso.

Baca juga: Gatot Nurmantyo Mengaku Pernah Diajak Kudeta AHY, Jhoni Allen: Jangan Asbun, Beda Integritas

Djan Faridz pun menyambut hangat penghormatan dari pucuk pimpinan partai berlambang kakbah tersebut.

"Puji syukur ke hadirat Allah SWT, sahabat tercinta saya menjadi Ketum PPP."

"Selain doa, saya siap kok bantu beliau (Suharso Monoarfa)," ujar Djan Faridz dalam rapimnas yang disiarkan secara virtual, Jumat (12/3/2021).

Baca juga: UU Pemilu Batal Direvisi, Pilpres 2024 Diprediksi Bakal Makin Seru, Ini Alasannya

Djan berharap PPP bisa tetap eksis dan semakin jaya di dalam perpolitikan nasional.

"Kita harus melihat ke depan, bagaimana PPP ini tetap eksis di dunia politik dan manfaat untuk Umat Islam khususnya."

"Jadi jangan sampai kita ini sudah bersatu, saya sudah bersatu dengan beliau, terus manfaat buat PPP-nya kurang," tuturnya.

Baca juga: Terlalu Berisiko dan Tak Menguntungkan, Pemerintah Diprediksi Takkan Mengesahkan KLB Deli Serdang

Menurutnya, ini akan jadi tantangan para kader PPP ke depan.

"Insyaallah dengan doa beliau dan kiai-kiai yang ada di seluruh Indonesia PPP bisa kembali jaya," ujar Djan. (Chaerul Umam)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved