Breaking News:

Utang Luar Negeri

Sri Mulyani Ungkap Sibuk Cari Utang Luar Negeri untuk Menutup Defisit APBN saat Rapat dengan DPR

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan kerja kerasnya mencari utang atau pinjaman dari luar negeri untuk menutup pembiayaan APBN di DPR.

Editor: Valentino Verry
Kompas TV
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan bagaimana kerja kerasnya saat mencari pinjaman dari luar negeri guna menutup defisit APBN di depan Komisi XI DPR RI. 

"Sekarang (April 2021), posisinya Rp 194 triliun, ini situasi pada saat ini, bahkan DAU (dana alokasi umum) belum kita salurkan secara penuh,” ujarnya.

Baca juga: Tangani Pandemi Covid-19, Utang Luar Negeri Indonesia Membengkak Lagi Jadi Rp 5.845 Triliun

Baca juga: Berikut Ini Daftar 10 Negara Punya Utang Luar Negeri Terbesar di Dunia, Indonesia Berada Posisi ke-7

“Jadi, kalau kita salurkan, mungkin kembali menjadi menumpuk di sana juga," imbuhnya. 

Sri Mulyani menjelaskan, pemerintah daerah dengan jumlah simpanan di perbankan tertinggi adalah Provinsi Jawa Timur, disusul Jawa Tengah dan Jawa Barat. 

"Kalau kita melihat beberapa daerah yang punya simpanan tinggi yakni Jawa Timur hingga mencapai Rp 25 triliun. Kemudian, Jawa Tengah Rp 19 triliun dan Jawa barat Rp 18 triliun, ini adalah sesuatu yang masih menjadi PR bagi kita," katanya. 

Di sisi lain, dia menambahkan, pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sudah habis-habisan menangani dampak pandemi Covid-19. 

Namun, justru di pemerintah daerah belum dapat menggenjot belanja anggaran, sehingga menghambat pemulihan ekonomi nasional. 

"Kalau ditanyakan sinkronisasi bagaimana APBN kerja luar biasa keras dengan belanja untuk membantu masyarakat. Sementara, di daerah malah belum menjadi motor penggerak yang cukup tinggi," ucapnya.

Baca juga: Presiden Jokowi Dua Periode, Utang Luar Negeri Indonesia Terus Melonjak, Ada Apa?

Baca juga: Utang Luar Negeri Indonesia Terus Melonjak Selama Jokowi Pimpin Dua Periode, Berikut Data Rinciannya

Pada kesempatan itu, Sri Mulyani menyebutkan ekonomi Indonesia bisa tumbuh hingga 8,1 persen di kuartal II 2021 dan terus berharap mampu akselerasi sampai akhir tahun. 

"Jadi, kisaran di kuartal II, kita perkirakan 7,1 persen sampai 8,3 persen. Keseluruhan tahun mungkin masih akan lebih rendah karena kuartal 1 kemarin sempat mengalami koreksi karena Covid-19 masih meningkat, kita berharap untuk kuartal III dan IV masih akan terakselerasi," ujarnya. 

Sementara itu, Sri Mulyani mengatakan, instrumen program pemulihan ekonomi memang APBN, tapi ini adalah kebijakan dari seluruh kabinet atau pemerintahan. 

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved