Kolom Trias Kuncahyono
MYANMAR: Kaum Muda vs Militer
Hingga Kamis (25/3/2021), menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, sebuah kelompok hak sipil di Myanmar, warga sipil yang tewas 320 orang.
Sebuah Momentum
Apa yang terjadi pada Arab Spring memberikan catatan penting bahwa kaum muda dapat menjadi kekuatan perubahan.
Pada tahun 1963 Bob Dylan menulis The Times They Are a-Changin, sebuah lagu yang menggambarkan pemberontakan pemuda tahun 1968 di Eropa dan Amerika Serikat.
Kaum muda Indonesia melakukannya pada tahun 1998.
Baca juga: Seorang Polisi Myanmar Dilaporkan Tewas dalam Aksi Protes Anti-Kudeta Militer
Kini, kemajuan teknologi komunikasi, semisal media sosial telah menjadi alat pemersatu gerakan.
Selain itu, ada permeratu lain, seperti seni dalam beragam bentuk yang dapat berperan dalam advokasi anti-rezim.
Apakah perjuangan rakyat—termasuk kelompok-kelompok yang selama ini dimarjinalkan antara lain kaum minoritas relejius, etnik minoritas yang ditindas, komunitas LGBTQ (National Geographic, 20/3/2021)—kaum muda Myanmar akan berhasil seperti rekan-rekan mereka di negara lain?
Hingga saat ini, belum ada yang bisa memastikan.
Apakah anak-anak muda yang turun ke jalan mempertaruhkan nyawa mereka pada akhirnya akan tidak berdaya dan kalah?
Sekalipun sudah puluhan nyawa melayang, tidak terlihat bahwa ada rasa gentar di antara kaum muda yang melawan kekejaman militer.
Apa yang terjadi sekarang ini sebenarnya adalah momentum kebangkitan kaum muda untuk melawan penindasan, kekejaman, dan pembunuhan terhadap demokrasi.
Yang terjadi di Tunisia dan Mesir, misalnya, memang beda dengan yang terjadi di Myanmar.
Di hampir ujung perjuangan kaum muda, rakyat sipil di kedua negara itu, militer berpihak pada mereka.
Bahkan di Tunisia, militer tidak tertarik masuk ke politik.
Sebaliknya, anak-anak muda Myanmar menghadapi tentara yang tega membunuh sesama anak bangsa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/myanmar-soe.jpg)