Kolom Trias Kuncahyono

MYANMAR: Kaum Muda vs Militer

Hingga Kamis (25/3/2021), menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, sebuah kelompok hak sipil di Myanmar, warga sipil yang  tewas 320 orang.

Istimewa
Foto ilustrasi: Demonstrasi kaum muda melawan junta militer yang berkuasa di Myanmar setelah mengkudeta pemerintahan sipil yang dipilih secara demokratis. 

WARTAKOTALIVE.COM -- Sudah hampir dua bulan kebrutalan dan kekejaman militer berlangsung di Myanmar sejak mereka merebut kekuasaan dari tangan sipil, pada tanggal 1 Februari 2021.

Korban tewas terus berjatuhan di pihak rakyat. Mereka tewas ditembus peluru tentara.

Hingga hari Kamis (25/3/2021), menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, sebuah kelompok hak sipil di Myanmar, warga sipil yang  tewas mencapai 320 orang dan 3.000 orang ditahan!

Menyaksikan semua itu, dunia seperti terpana. Bingung mau berbuat apa.

Apalagi berbagai seruan dan ancaman sanksi terhadap Myanmar, tak dipedulikan sama sekali oleh militer yang berkuasa.

Dunia yang semestinya membantu seperti telah kehilangan akal menghadapi kebrutalan dan kenekatan militer. 

Baca juga: VIDEO Presiden Republik Indonesia Joko Widodo Keluarkan Pernyataan soal Kudeta Militer Myanmar

Aktor-aktor luar yang selama ini berperan dalam pembangunan politik dan ekonomi Myanmar—ASEAN, China, Australia, India, Jepang, Korea Selatan, Uni Eropa, AS, dan juga PBB—juga seperti salah tingkah semua.

Mau berbuat apa. Ada kepentingan masing-masing negara dengan Myanmar yang dianggap lebih besar ketimbang nyawa anak-anak muda yang terus melayang ditembus peluru. 

Gerakan perlawanan kaum muda di Myanmar mengingatkan yang terjadi di Tunisia dan Mesir, 10 tahun silam.

Tewasnya seorang pedagang kaki lima Muhammad Bouazizi di Sidi Bouzid, Tunisia tengah, mampu menggerakkan seluruh rakyat dan menyingkirkan penguasa korup, diktator yang sudah berkuasa 23 tahun, Zine El Abidine Ben Ali.

Baca juga: PBB: 149 Orang Tewas, Ratusan Hilang dalam Kerusuhan Myanmar

Cerita yang hampir mirip terjadi di Mesir.

Kaum muda yang menjadi motor revolusi di kedua negara itu, juga di negara-negara lain di  Timur Tengah.

Mereka adalah anak-anak muda yang kurang mendapat akses pekerjaan—30 persen anak muda Tunisia dan 40 persen anak muda Mesir menganggur (social.un.org: Agustus 2010-2011).

Sementara keluhannya tidak ditanggapi apalagi ditangani pemerintah.

Populasi kaum muda perkotaan meningkat, upah rendah, dan harga pangan yang tinggi yang telah memperburuk ketidakpuasan mereka.

Para demonstran di Myanmar melawan tentara (Foto: Istimewa)
Sumber: WartaKota
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved