Rabu, 22 April 2026

Pedagang Daging Sapi Mogok Jualan, Pemprov DKI Siapkan Daging Beku di Lima Lokasi Ini

Selain penjualan langsung (offline) daging sapi beku di tempat, TTIC juga melayani penjualan online dalam rangka memudahkan masyarakat.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Mohamad Yusuf
Wartakotalive.com/Joko Supriyanto
Sejumlah pedagang daging sapi di Pasar Cempaka Putih melakukan aksi mogok berdagang akibat harga daging naik Rabu (20/1/2021). 

WARTAKOTALIVE.COM, GAMBIR - Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan daging beku di lima titik dengan harga terjangkau.

Daging sapi beku ini disediakan untuk mengantisipasi adanya aksi mogok pedagang daging, buntut naiknya harga daging di Jabodetabek.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Suharini Eliawati mengatakan, lima lokasi yang menyediakan daging beku tersebar di berbagai tempat.

Baca juga: Dilantik Sebagai Sekda DKI, Ini Daftar Harta Kekayaan Marullah Matali

Baca juga: Diduga Lelah Terima Aduan Warga yang Tak Dapat Bansos, Jadi Penyebab Dipotongnya Dana BST Kemensos

Baca juga: Lowongan Kerja di Jakarta Smart City DKI, Gaji Terbesar Rp 23 Juta, Banyak Posisi, Cek di Sini

Di antaranya Toko Tani Indonesia Center (TTIC) Pasar Minggu, TTIC Rawa Sari, TTIC Klender, TTIC Pangkalan Jati dan TTIC Kalideres.

“Masyarakat Jakarta yang memerlukan daging sapi dapat membelinya di lima TTIC. Harga jual daging sapi di TTIC berkisar Rp 70.000 - Rp 90.000 per kilogram sesuai spesifikasi daging,” kata Suharini berdasarkan keterangannya pada Kamis (21/1/2021).

Selain penjualan langsung (offline) daging sapi beku di tempat, TTIC juga melayani penjualan online dalam rangka memudahkan masyarakat mendapatkan daging beku yang berkualitas dan terjangkau.

Masyarakat dapat mengaksesnya di Pasar Mitra Tani Gofood pada aplikasi Gojek.

“Daging murah ini digelar setelah Dinas KPKP berkoordinasi dengan Badan Ketahanan Pangan (BKP) melalui TTIC/ Pasar Mitra Tani,” jelasnya.

Menurut dia, Kementerian Perdagangan juga telah mengadakan koordinasi dengan Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) DKI Jakarta.

Langkah ini ditempuh untuk mencarikan solusi para pedagang daging di pasar tradisional demi mengakhiri aksi mogoknya para pedagang.

“Pantauan petugas kami di pasar tradisional dan informasi dari Perumda Pasar Jaya hari ini di beberapa pasar pedagang daging sapi sudah ada yang berjualan. Namun daging yang dijual merupakan stok daging sebelum aksi mogok,” imbuhnya.

Baca juga: Crazy Rich Surabaya Menangkan Gugatan 1,1 Ton Emas dari PT Antam, Ini Kronologi Awal Mula Kasusnya

Baca juga: Airin Sebut, Penyintas Covid-19 di Kota Tangerang telah Donor Ratusan Kantong Plasma Konvalesen

Baca juga: Profil dan Jejak Karier Marullah Matali, Putra Betawi yang akan Dilantik Sebagai Sekda DKI Hari Ini

Aksi Mogok

Pedagang daging sapi se-Jabodetabek memutuskan menggelar aksi mogok selama tiga hari, Selasa  (19/1/2021) hingga Kamis (21/1/2021).

Aksi itu bermula dari rapat yang digelar Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), Minggu (17/1/2021).

Berdasarkan hasil rapat, diputuskan pedagang sapi diimbau untuk menghentikan aktivitas perdagangan, baik di pasar maupun RPH sejak Selasa (19/1/2021) sampai Kamis (22/1/2021).

TB Mufti Bangkit Sanjaya, Sekretaris APDI DKI Jakarta, mengatakan imbas kenaikan harga daging menyebabkan para pengusaha kesulitan untul bisa menjualnya kepada warga.

Baca juga: Kontraktor Mengeluh Banyak Pekerjaan Pembangunan Infrastruktur di Kabupaten Bekasi Belum Dibayarkan

Baca juga: Jokowi Dikritik setelah Kambing Hitamkan Hujan dan Sungai Atas Terjadinya Banjir Besar di Kalsel

"Yang melatarbelakangi kan kenaikan harga yang semakin tahun semakin naik, puncaknya empat bulan lalu lonjakan harga sudah liar tidak terkontrol dan pemerintah cenderung pasif seperti itu," kata Mufti saat dikonfirmasi, Selasa (19/1/2021).

Harga satu kilogram sapi karkas saat ini menyentuh angka Rp 94.000. Padahal di momen tertentu saat lebaran tahun lalu, satu kilogram karkas paling mahal hanya Rp 86.000.

Baca juga: IPW Pertanyakan Tolak Ukur Presiden Tunjuk Komjen Listyo Sigit yang Baru Akan Pensiun di 2027

Mufti memprediksi harga karkas bakal terus merangkak naik hingga bulan-bulan berikutnya.

"Nah ini diprediksi akan naik terus sampai dengan bulan Maret atau April dengan harga tertinggi 105.000 per kilogram per karkas," ucapnya.

Hal yang menyebabkan mahalnya jarga daging lantaran stok daging yang biasanya didatangkan dari Australia, terus berkurang dikarenakan negara kanguru tersebut lebih memilih menjual sapi kepada negara lain.

Baca juga: Kasus Covid-19 Jakarta Barat Naik Dua Kali Lipat, Rumah Sakit Penuh, ini yang Dilakukan Wali Kota

Alhasil, stok daging di dalam negeri semakin menipis dan menyebabkan kelangkaan barang.

"Kita kalah harga oleh Vietnam dan Thailand. Sapi untuk kita banyak terserap ke sana. Oleh Australia diekspor ke Thailand dan Vietnam karena berani beli dengan harga tinggi," tutur Mufti

APDI telah mengeluhkan kenaikan harga kepada pemerintah, bahkan mereka pun bersurat kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun demikian, tak ada respons atas permasahalan tersebut.

"Kami sudah layangan surat sebagai asosiasi DKI ke kementrian perdagangan dan pertanian, ke kantor staf kepresidenan. Satu minggu lalu tapi tak ada respons dari pihak terkait. Maka dari itu kami rapat dan menghasilkan kesepakatan bahwa kami mogok berjualan daging. Baik itu itu di pasar maupun di RPH-RPH," tutur Mufti.

Baca juga: 2014 Presiden Jokowi Janji Swasembada Kedelai, 2021 Jokowi Geram Impor Kedelai Masih Menggila

Baca juga: Buntut Mogok Massal, Lapak Pedagang Daging Sapi di Pasar Kranji Kosong, Pembeli Kebingungan

Pembeli kebingungan

Kenaikan harga sapi hidup di beberapa daerah menyebabkan pengusaha di rumah potong hewan (RPH) dan pedagang daging sapi pasar, mogok jualan.

Pantauan Warta Kota di Pasar Kranji Baru, Bekasi Barat,Rabu (20/1/2021), kios pedagang daging sapi sepi. Tak ada pembeli maupun pedagang yang terlihat melakukan aktivitas transaksi.

Padahal biasanya, geliat perdagangan di Pasar Kranji selalu terjadi sejak pagi hingga malam hari.

Namun hari ini, hanya kios pedagang daging sapi saja yang terlihat tak berjualan.

Akibatnya, para pembeli yang hendak membeli daging sapi pun kebingungan.

Kios pedagang daging sapi sepi di Pasar Kranji Baru, Bekasi Barat, Rabu (20/1/2021).
Kios pedagang daging sapi sepi di Pasar Kranji Baru, Bekasi Barat, Rabu (20/1/2021). (Warta Kota/Rangga Baskoro)

Baca juga: Komjen Listyo Sigit Ingin Nantinya Polantas Tak Perlu Menilang di Jalan, Cukup Atur Lalulintas Saja

Baca juga: Kontraktor Mengeluh Banyak Pekerjaan Pembangunan Infrastruktur di Kabupaten Bekasi Belum Dibayarkan

Seorang pedagang bumbu dapur, Imah (43) mengatakan, para pedagang daging sapi baru menutup lapaknya pada hari Rabu ini.

"Awalnya kemarin cuma sedikit yang nutup, tapi sekarang hampir semuanya nutup. Enggak ada yang beli juga," tutur Imah di lokasi.

Baca juga: Pedagang Daging Sapi di Jakarta Barat Berencana Mogok Massal, Ini yang Akan Dilakukan Sudin KPKP

Baca juga: Ferdinand Hutahaen Yakin 100 Persen Anies Baswedan Akan Tumbang Jika Maju Kembali di Pilgub DKI

Janji Jokowi

Sejak masa pemerintahan periode pertamanya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melontarkan sejumlah janji dalam program ketahanan pangan.

Salah satunya soal janji menurunkan harga daging sapi hingga di bawah Rp 80.000 per kg yang diucapkannya dalam rentan tahun 2015-2016.

Bahkan, Jokowi mempunyai program yang dinilai banyak kalangan saat itu cukup ambisius, yakni melakukan swasembada daging sapi alias nantinya tak lagi mengimpor sapi dari luar negeri dalam jangka panjang.

Jokowi mengaku sangat geram melihat harga daging sapi di Indonesia begitu mahal jika dibandingkan dengan negara tetangga, padahal Malaysia dan Singapura juga sama-sama merupakan importir daging.

"Saya sudah pegang daftar harga daging. Di Singapura dan Malaysia, harga daging itu Rp 50.000 sampai Rp 55.000 saja. Kira-kira tiga minggu lalu saya perintahkan kepada menteri. Caranya saya tidak mau tahu, tetapi sebelum Lebaran harga daging harus di bawah Rp 80.000," ucap Jokowi di UMY Yogyakarta pada 13 April 2016.

Baca juga: Komjen Listyo Sigit Ingin Nantinya Polantas Tak Perlu Menilang di Jalan, Cukup Atur Lalulintas Saja

Monopoli BUMN

Untuk mengatasi tingginya harga sapi, pemerintah memilih untuk menggantinya dengan daging kerbau.

Namun, lagi-lagi daging kerbau juga diimpor dari India.

Sementara itu, Ketua Komite Daging Sapi Jakarta Raya Sarman Simanjorang mengatakan, ada sejumlah masalah yang membuat janji Jokowi beberapa tahun silam tersebut tak terealisasi hingga saat ini.

"Pertama, karena kebutuhan konsumsi daging sapi (rumah tangga) terus meningkat dari tahun ke tahun. Kedua, kebutuhan dunia industri olahan juga terus naik, seperti horeka (hotel, restoran, dan kafe) juga naik," terang Sarman.

Baca juga: Banjir di Gunung Mas Jadi Sejarah Baru, Diduga Akibat Pembalakan Hutan, Ade Yasin Janji Investigasi

"Nah, bahwasanya stok lokal selalu tidak mencukupi. Sekarang ada alternatif dari pemerintah berupa daging kerbau, tapi yang jadi pertanyaan kenapa daging kerbau juga ikutan mahal," kata dia lagi.

Menurut dia, ada ketidakseimbangan daging kerbau dari sisi suplai. Hal ini menyebabkan harga daging kerbau yang seharusnya dijual Rp 80.000 per kg malah saat ini dibanderol hampir mendekati harga daging sapi.

 Salah satu penyebabnya, kata Sarman, karena impor daging kerbau India dimonopoli perusahaan BUMN.

Ia meminta pemerintah melibatkan swasta dalam importasi daging kerbau India agar harga di pasaran bisa bersaing.

"Solusi buat harga daging kerbau bisa murah yakni beri kebebasan siapa yang impor. Kasih peluang impor ke swasta. Jangan dimonopoli BUMN. Saya yakin swasta impor, bisa kasih harga daging kerbau di bawah Rp 80.000 per kg," ucap Sarman.(faf)

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Apa Kabar Janji Jokowi Turunkan Harga Daging Sapi Jadi Rp 80.000 Per Kg?"

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved