Sumpah Pemuda
Saat Sumpah Pemuda Dibacakan pada 92 Tahun Silam, Ini Peranan Penting Pemuda Tionghoa
Sie Kong Lian memberikan rumahnya sebagai tempat untuk menggelar rapat Sumpah Pemuda pada 92 tahun silam.
Penulis: Irwan Wahyu Kintoko | Editor: Irwan Wahyu Kintoko
Nur Arif yang juga seorang doktor ahli biomolekuler di Fakultas Kedokteran UI dan Tohoku University, Jepang, ini mempertanyakan, masih relevankah memandang Tionghoa sebagai sebutan nonpribumi.
Yunarto Wijaya lebih menyoroti nasionalisme dalam konteks Indonesia sebagai konstruksi sosial yang terus mengalami kontestasi.
Baca juga: Tantangan Sumpah Pemuda di Era Digital Harus Bisa Dijawab oleh Generasi Muda dengan Kreativitas
Baca juga: Malam Ini Video Mapping Sumpah Pemuda Garapan JVMP Diputarkan Terakhir di Gereja Katedral Jakarta
Mulai basis legitimasi berhadapan dengan tekanan globalisasi, bangkitnya 'kesukuan' dikomunikasikan dalam logika identitas primordial hingga banyak yang menjiwai nasionalisme dalam konteks asli vs pendatang, jadi alasan untuk anti-asing.
Menurut Yunarto Wijaya, perlu upaya 'menulis ulang' Tionghoa di Indonesia yang tidak berpatokan pada masa lalu dan tidak terpaku pada bidang politik dan ekonomi.
"Secara realistis, cara pandang berbeda terhadap konsep kebangsaan sangat diperlukan apabila stigma tentang Tionghoa ingin diubah," katanya.
Narasi baru nasionalisme, lanjut Yunarto Wijaya, harus fokus pada sisi kemanusiaan agar tidak terjebak pada kilau etnis tertentu.
Baca juga: Vadiel Mekha : Sumpah Pemuda, Semangat Membangun Kreativitas Positif dan Nasionalisme Generasi Muda
Baca juga: Inilah 13 Tokoh Sejarah yang Berperan Dalam Pembuatan Teks Sumpah Pemuda
Dalam webinar yang diikuti 300 orang dari berbagai wilayah di Indonesia maupun luar negeri ini turut memberi pernyataan adalah Christianto Wibisono dan Christian Silman, cicit pemilik gedung Sumpah Pemuda di Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat.
Ada juga Grace Natalie dan Mari Elka Pangestu, Direktur Pelaksana Kebijakan dan Kemitraan Pembangunan Bank Dunia.
Di video yang dikirimkan, Mari Pangestu menyatakan, "Walau keturunan (Tionghoa-red), kita adalah 100 persen orang Indonesia."
Menurut Andrew Wanandy, ketua panitia webinar, acara ini ditujukan untuk mengulas peran orang orang keturunan Tionghoa sejak peristiwa pergerakan pemuda, perjuangan kemerdekaan hingga masa pembangunan dan reformasi sekarang ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/kongres-pemuda-pertama-kali-di-jakarta-28-oktober-1928.jpg)