Kolom Trias Kuncahyono

Omong Kosong

Mengapa kita menjadi bangsa yang suka omong kosong? Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu?

Istimewa
Ilustrasi 

WARTAKOTALIVE.COM - Seorang sahabat lama, teman sekolah di tingkat menengah pertama yang sudah 47 tahun tidak pernah bertemu hanya berkontak lewat telepon—pun sebatas SMS dan WA—tiba-tiba mengirimkan pertanyaan lewat washapp (WA).

Mengapa kita menjadi bangsa yang tidak tahu malu? Mengapa kita menjadi bangsa yang sangat sulit mengakui kekalahan?

Mengapa kita menjadi bangsa yang suka omong kosong? Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu?

Tidak mudah menjawab pertanyaanmu itu. Tetapi, saya mau menulis cerita ini.  Begitu jawaban saya kepada sahabat lama itu. Demikianlah ceritanya:

Pada tahun 1970, selama kunjungannya ke Polandia yang waktu itu masih negara komunis, Kanselir Jerman Barat, Willy Brandt, berlutut di depan Monumen Pahlawan Ghetto di Warsawa.

 Indonesia Siap-siap Hadapi Resesi Ekonomi, Ini yang Sebaiknya Dilakukan Masyarakat

 KABAR Gembira: Umrah Kembali Dibuka Mulai 4 Oktober dan 1 November 2020  

Tindakan Willy Brandt tersebut dibaca oleh banyak orang sebagai ekspresi kerendahan hati dan rasa malu Jerman atas kejahatan Nazi yang dilakukan terhadap bangsa Polandia, termasuk jutaan orang Yahudi yang terbunuh dalam Holocaust.

Bertahun-tahun kemudian, permintaan maaf serupa untuk “rasa malu kami” dinyatakan oleh Kanselir Jerman Gerhard Schröeder.

Ia menyampaikan permintaan maaf pada Polandia, dalam kasus yang sama.

Ini merupakan langkah penting dalam menciptakan hubungan diplomatik yang baik antara kedua negara dan memungkinkan proses penyembuhan bagi para korban.

“Rasa malu politik.” Itu yang ada di dalam diri Willy Brandt dan Gerhard Schröeder.

Mengapa Willy  Brandt dan  Gerhard Schröeder perlu melakukan semua itu?

Rasa malu politik, a kind of political shame, meminjam istilahnya Romo Sindhunata, memang perlu bagi pembentukan bangsa. Menjadi bangsa yang tahu malu atau yang tidak tahu malu?

 Kisah Aristawidya Maheswari, Miliki 700 Prestasi Tapi Terganjal Masuk Sekolah Negeri, Begini Katanya

Dalam teori kontemporer tertentu tentang politik rasa malu, rasa malu dianggap sebagai emosi merusak yang perlu dihindari, atau emosi yang bermanfaat yang berfungsi sebagai panduan yang sempurna untuk, pertimbangan demokratis. (Christina Tarnopolsky, 2004).

Baik Willy Brandt maupun Gerhard Schröeder, memilih yang kedua. Rasa malu sekaligus merupakan emosi pribadi dan sosial.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved