Kolom Trias Kuncahyono
Omong Kosong
Mengapa kita menjadi bangsa yang suka omong kosong? Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu?
Secara internal, rasa malu adalah panduan moral kita—sebuah indikasi tentang apa yang pantas dalam interaksi kita dengan orang lain dan apa yang tidak pantas.
Bagi tradisi Konfusianisme, masyarakat yang tidak tahu malu adalah masyarakat yang sakit, secara harfiah. Budaya kita pun demikian.
Bagi Baruch de Spinoza (1632-1677) dan Friedrich Nietzsche (1844-1900), rasa malu (bersama dengan rasa bersalah) adalah unsur dalam moralitas yang darinya mereka mencoba untuk membebaskan kita.
Bagi Jean-Paul Sartre (1905-1980), rasa malu adalah penentang yang menentukan keinginan terdalam kita, keinginan untuk menjadi Tuhan, keinginan individu untuk menjadi pencipta mereka sendiri (dengan tindakan yang mereka ambil) dan pemberi hukum, dengan norma yang mereka pilih (Merold Westphal, 2016).
• KABAR Baik: Uji klinis III Avigan Terbukti Efektif Obati Pasien Covid-19
Maka itu, elite politik di negeri ini tidak hanya seharusnya memiliki rasa malu tetapi harus malu.
Karena tidak bisa menahan diri untuk tidak asal ngomong, tidak bisa menyembunyikan nafsu kuasa, tidak bisa mengakui kekalahan, dan tidak bisa mengendalikan diri untuk meluapkan kekecewaan hatinya dengan secara membabi-buta menyerang kiri-kanan, orang-orang yang dianggap telah mengalahkannya, dan orang yang lebih beruntung, lebih sukses dibanding dirinya dalam panggung politik.
Dan, tidak malu-malu mencari popularitas dengan cara “recehan” dengan mengatasnamakan demokrasi.
Padahal, kalau mereka—elite politik, para tokoh itu—mau membuka mata dan hatinya, akan bisa melihat dan merasakan bahwa bangsa ini tengah menghadapi masalah yang sangat mendesak untuk ditangani yakni mulai dari mengatasi pandemi Covid-19, integrasi nasional hingga masalah ekonomi.
Akan tetapi, karena urat malu sudah hilang, maka yang diburu hanyalah kepentingan pribadi, nafsu pribadi belaka.
Dalam budaya rasa malu, kita tahu bahwa kita baik atau buruk dari apa yang dikatakan komunitas kita tentang kita, apakah itu menghormati atau mengecualikan kita.
Dalam budaya Jawa—sekurang-kurangnya—ada ajaran hidup yang sangat luhur: –Ajining diri saka lathi.
Ajaran ini mengandung makna bahwa seseorang dapat dihargai itu berdasarkan ucapannya atau lidahnya.
Contohnya adalah orang akan lebih dihargai di masyarakat ketika tidak bersikap sombong, atau dia dapat bertata krama dengan baik.
Kalau Anda adalah orang yang berilmu, ya jangan sombong, sebaliknya cobalah menyebarkan ilmu Anda itu dengan bahasa yang santun dan tidak menyinggung perasaan orang lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/trias-001-2709.jpg)