Kolom Trias Kuncahyono
Omong Kosong
Mengapa kita menjadi bangsa yang suka omong kosong? Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu?
Bisa juga diartikan bahwa dalam setiap kehidupan kita harus selalu menjaga setiap ucapan agar senantiasa berucap benar dan tidak berkata dusta.
Ibarat kata jangan “esuk dele, sore tempe”, pagi kedele sore tempe, berubah-ubah, ucapannya nggak bisa dipegang.
Dengan kata lain hal ini sama dengan integritas, yaitu kesesuaian antara ucapan dan tindakan.
Rasa malu semestinya merupakan budaya yang lazim dianut oleh karakter bangsa-bangsa timur, termasuk Indonesia.
Rasa malu memang merupakan rem yang sangat ampuh dalam mengontrol perilaku kita.
Tanpa adanya rasa malu, apa yang tidak layak menjadi pantas, dan apa yang terlarang menjadi boleh dan dipandang baik.
Bahkan mungkin, berbagai penyimpangan itu dikemas dalam tampilan yang saleh dan agamis.
Mengutip pendapat Romo Franz Magnis-Suseno, “…ada orang beragama membawa diri dengan cara yang justru membuat banyak orang merasa, lebih baik tak ber-Tuhan daripada ber-Tuhan seperti mereka itu.”
• Ini Petunjuk Teknis Bantuan Kuota Data Internet Tahun 2020 yang Diterbitkan Kemendikbud
Itu semua terjadi karena tiadanya rasa malu. Padahal, rasa malu itu membuat seseorang merasa tidak nyaman dan enggan melakukan perbuatan rendah dan tercela, sebaliknya merasa lega dan nyaman apabila dapat melakukan kebajikan.
Seseorang yang memiliki perasaan malu, kalau ia melakukan perbuatan yang tidak patut, rendah dan tercela.
Tetapi, kini yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang, elite politik yang tidak malu-malu, tidak memiliki rasa malu omong kosong di mana-mana (dengan mengatasnamakan demokrasi); menganggap dirinya paling pintar, paling hebat, paling paham, paling mampu, paling berada di jalan yang benar, paling agamis, paling tahu tentang politik karena merasa sudah belajar ilmu politik sampai tingkat paling tinggi, dan serba paling yang lain; sementara orang lain dipandang dan dianggap paling tidak paham, tidak tahu, paling bodoh, paling tidak pantas, paling tak tahu agama, dan paling-paling yang jelek lainnya.
Akibatnya—karena banyak elite kehilangan rasa malu—maka rakyat, masyarakat pun akan kehilangan rasa malu juga, ketularan mereka.
Jadi, sahabatku, wajarlah kalau sekarang ini banyak omong kosong, berseliweran di mana-mana, ke sana ke mari.
Orang tidak malu-malu lagi—untuk beromong kosong—karena mencontoh para elite, para tokoh masyarakat yang juga paling senang omong kosong.
Karena itu, sahabatku, kalau tulisan ini kamu anggap sekadar omong kosong pun, juga tidak masalah.
Tetapi, rasanya, kita perlu memupuk kelahiran kembali rasa malu sebagai kebajikan politik, yang selama ini telah mati atau mungkin malah sengaja dimatikan.
BACA KOLOM TRIAS KUNCAHYONO SELENGKAPNYA, KLIK: Omong Kosong
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/trias-001-2709.jpg)