Breaking News:

Didik J Rachbini: Menteri-menteri Jokowi Nganggur, Tidak Mikir, Tak Punya Daya Inovasi

Indef menyatakan, jika jeli, sebenarnya pemerintah bisa melihat peluang di tengah pandemi Covid-19.

Warta Kota/Henry Lopulalan
Presiden Joko Widodo bersama Wakil Presiden Maruf Amin berfoto bersama para menteri Kabinet Indonesia Maju di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (23/10/2019). 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyatakan, jika jeli, sebenarnya pemerintah bisa melihat peluang di tengah pandemi Covid-19.

Satu di antaranya adalah sektor informasi dan komunikasi atau infokom.

Ekonom Senior Indef Didik J Rachbini mengatakan, karena menteri-menteri Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak bekerja ekstra, potensi itu jadi terbuang.

Besok Bareskrim Periksa Anita Kolopaking Sebagai Tersangka, Bakal Dijemput Paksa Jika Mangkir Lagi

"Sektor infokom mestinya tumbuh dua digit, tidak seperti sekarang (satu digit)."

"Ini berarti menteri-menterinya itu nganggur, tidak mikir, tidak punya daya inovasi," ujarnya saat webinar, Kamis (6/8/2020).

Menurut Didik, menteri-menteri sekarang lebih banyak diam saja dan baru mengambil kebijakan setelah mendapat arahan dari Presiden Jokowi.

Ada Aliran Dana, Bareskrim Naikkan Kasus Penghapusan Red Notice Djoko Tjandra ke Penyidikan

"Diam menunggu, tidak melakukan apa-apa."

"Saya memberikan saran kepada pemerintahan, infokom gampang."

"Sudah siap dan itu di-support oleh perusahaan-perusahaan IT dengan sewa tiang listrik, kasih gratis saja," sarannya.

Anies Baswedan Bangga Jakarta Kembali Jadi Provinsi Paling Demokratis di Indonesia 11 Kali Beruntun

Peluang ini dinilainya jangan sampai hilang, untuk tetap dapat menggenjot pertumbuhan ekonomi dari saat ini minus 5,32 persen pada kuartal II 2020.

"Coba perhatikan, memang hampir keseluruhan sektor itu mengalami pertumbuhan negatif."

"Tapi sebenarnya krisis itu menciptakan peluang."

Bangkitkan Ekonomi, Jokowi Ingin Gabungkan BUMN Penerbangan dan Pariwisata

"Justru pada saat krisis ada yang bangun dan ada yang berubah menjadi hebat," paparnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menyoroti penyerapan anggaran Covid-19 oleh kementerian dan lembaga yang masih sangat minim.

Dari Rp 695 triliun anggaran penanggulangan Covid-19, baru Rp 141 triliun atau 20 persen yang dibelanjakan.

"Sekali lagi baru 20 persen, masih kecil sekali," kata Presiden dalam rapat terbatas penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (3/8/2020).

 Serah Terima Djoko Tjandra dari Polisi Malaysia ke Polri Ternyata Dilakukan di Pesawat

Presiden mengatakan, penyerapan anggaran tertinggi saat ini berada di perlindungan sosial, yakni 38 persen, kemudian program UMKM 25 persen.

Di luar itu, penyerapan atau realisasi anggaran sangat kecil sekali.

Jangankan realisasi anggaran, menurut Presiden, masih ada 40 persen kementerian dan lembaga yang belum memiliki DIPA (daftar isian pelaksana anggaran).

 UPDATE Kasus Covid-19 Indonesia 1 Agustus 2020: 109.936 Pasien Positif, 67.919 Sembuh, 5.193 Wafat

"Artinya apa? Di kementerian, di lembaga, aura krisisnya betul-betul belum, ya belum, masih sekali lagi kejebak pada pekerjaan harian."

"Enggak tahu prioritas yang harus dikerjakan," ucapnya.

Oleh sebab itu, Presiden meminta Ketua Komite Kebijakan Covid-19 untuk membuat rincian kementerian mana saja yang penyerapan anggarannya masih rendah.

 Tito Karnavian Ajak Rakyat Gunakan Pilkada untuk Pilih Pemimpin yang Mampu Selesaikan Covid-19

Sehingga, menurutnya akan terlihat manajemen krisis yang ada di masing-masing kementerian dan lembaga.

"Saya minta pak ketua, urusan ini didetailnya satu per satu dari menteri-menteri yang terkait."

"Sehingga manajemen krisis kelihatan, lincah, cepat, trouble shooting, smart short cut, dan hasilnya betul-betul efektif, kita butuh kecepatan," perintahnya.

 DAFTAR Negara Tanpa Korban Meninggal Akibat Covid-19 per 1 Agustus 2020, Vietnam Terlempar

Presiden Jokowi menilai suasana masyarakat berada pada posisi yang khawatir terhadap penyebaran Covid-19, pada beberapa pekan belakangan.

"Saya tidak tahu sebabnya apa, tetapi suasana pada minggu-minggu terakhir ini kelihatan masyarakat berada pada posisi yang khawatir mengenai Covid-19."

"Entah karena kasusnya meningkat, atau terutama kalangan menengah ke atas melihat karena orang yang tidak taat pada protokol kesehatan tidak semakin sedikit, tapi semakin banyak," paparnya.

 Terapkan Ganjil Genap, Pemprov DKI Optimistis Jumlah Penumpang Angkutan Umum Tetap Terkendali

Menurut Presiden, tingkat kematian atau fatality rate di Indonesia mencapai 4,7 persen dari total kasus terkonfirmasi positif.

Angka kematian tersebut lebih tinggi 0,8 persen dari tingkat kematian global.

" Ini yang saya kira menjadi PR kita bersama," tuturnya.

 Gubernur Kepulauan Riau Positif Covid-19 Setelah Dilantik Jokowi, Ini Kata Pihak Istana

Sementara, recovery rate atau tingkat kesembuhan, menurut Presiden, terus meningkat, dengan angka saat ini mencapai 61,9 persen.

"Saya kira juga bagus terus meningkat angkanya."

"Oleh sebab itu pada kesempatan yang baik ini saya ingin agar yang namanya protokol kesehatan, perubahan perilaku di masyarakat betul-betul menjadi perhatian kita," ucapnya. (Yanuar Riezqi Yovanda)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved