Jalur Sepeda

BERITA VIDEO: Kisah Iwan Sunter, Kuli Pasar Jakarta yang Bersepeda di Himalaya (1)

Kisah Kuli Pasar Jakarta Bersepeda di Pegunungan Himalaya (1).Simak selengkapnya dalam berita ini.

Dok pribadi Iwan Sunter
Iwan Sunter, kuli pasar yang sukses bersepeda di pegunungan himalaya 

Terkadang bila jalur terlalu terjal dan sepeda harus dituntun, ransel itu dia panggul.

"Sejak dari Thorong Pedi jalurnya terjal sekali, jadi ransel sering dipanggul dan sepeda kadang dituntun dan kadang dipanggul juga. Nggak ada masalah, Cuma lutut sering sakit gantian kanan-kiri. Setiap perjalanan memang ini lutut suka bermasalah," tutur Iwan.

Cara seperti itu dilakoninya sampai ke Manang (3.519m).

Sepanjang perjalanan empat hari itu ia menginap di losmen murah yang disediakan penduduk desa.

Untuk mengurangi beban, tenda dan sejumlah perlengkapan yang tidak diperlukan ditinggalkan di Pokhara.

Apalagi ia sudah mendapat informasi lebih detail tentang penginapan di sepanjang jalur yang akan dilalui.

Hari kelima, ia langsung menyerbu puncak gunung sambil bersepeda melintasi lereng bersalju.

Menurutnya, tantangan yang terberat adalah tipisnya kadar oksigen di udara (sekitar 40%) saat mencapai ketinggian di atas 4.000 meter.

Bersepeda di ketinggian itu menurutnya membutuhkan mental yang benar-benar kuat.

"Dada terasa sesak dan dinginnya minta ampun. Bawa sepeda sambil manggul ransel gitu badan remuk rasanya tapi saya lakoni saja pelan-pelan," tutur Iwan yang pada 2015 berlari dari Aceh ke Jakarta sejauh 2.500 kilometer.

Berbagai keterbatasan tak menghalangi menghalangi tekad dan niat Iwan Sunter mencapai Thorong La di Nepal. (istimewa)
Hal lain yang mengesankan adalah,"Pertama kalinya melihat es batu turun dari langit dan hujan salju," tuturnya sambil tertawa.

Dari Manang ia terus mendaki sambil menuntun sepeda hingga akhirnya sampai di puncak Thorong La pada siang hari dan mengibarkan Merah Putih disana.

Tak berlama-lama, duda satu anak berambut gondrong itu meluncur turun ke Muktinath, dilanjutkan sampai ke Tatopani. Salah satu target penjelajahan di Nepal pun terpenuhi.

Iwan mengatakan, ia masih akan menjelajahi kawasan sekitar Pokhara sampai tanggal 9 Mei dan pulang ke Jakarta keesokan harinya.

Siapapun bisa

Setengah merenung Iwan mengatakan, setiap perjalanan selalu menghadapkannya pada momentum introspeksi diri.

Sendirian di tengah hamparan salju, gunung besar, dan keheningan membuat dirinya dipenuhi rasa syukur dapat menerima semua pengalaman perjalanan.

“Bersyukur bisa melihat semua keindahan dan introspeksi juga atas semua kesalahan selama ini ke lingkungan sekitar, ke orang-orang yang pernah saya buat salah. Semua terbuka disana,” tutur Iwan.

Iwan memang tergolong petualang serba bisa. Rasa igin tahu yang besar mengatasi semua keterbatasan.

Disamping mengumpulkan uang bulanan untuk anaknya yang kini berusia sembilan tahun dan ikut ibunya di Lampung, ia tetap menabung untuk perjalanan.

Iwan juga tak mau hanya menggantungkan penjelajahan pada satu moda semisal bersepeda atau berjalan kaki. Ia selalu ingin mencoba hal baru dengan segala tantangannya.

Maka ia punya keinginan melanjutkan penjelajahannya menyusuri Pulau Jawa dengan in line skate.

Persiapan sudah mulai dilakukan dan seharusnya tahun ini ia melakoni perjalanan itu, namun terhadang pandemi Covid-19.

Untuk sementara Iwan harus bersabar menunggu pandemi ini mereda dan petualangan dilanjutkan kembali.

Soal perjalanan bersepeda jarak jauh Iwan berpesan, semua pesepeda mampu melakukannya dengan persiapan yang matang.

Yang terpenting, kita mau belajar dari berbagai sumber dan tidak menutup diri.

Apalagi sekarang sumber informasi terbuka luas dan orang punya banyak pilihan untuk berkegiatan.

“Duit memang penting dan mengumpulkan duit untuk membiayai perjalanan itu bagian dari tekad mewujudkan perjalanan itu.

Makanya kalau sudah punya tekad ya apapun harus dihadepin, termasuk bagaimana caranya ngumpulin duit,” tuturnya.

Tak terasa hampir dua jam kami ngobrol di pinggir jalan. Senja menjelang dan kami pamit pulang menyusuri kawasan Kemayoran sampai Palmerah.

Lalu lintas padat. Langit biru kelam di keremangan senja memeluk Jakarta yang ramai. Seramai pikiran yang berkecamuk tentang perjalanan kami berikutnya. Nantikan saja, sob.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved