Virus Corona

Salah Satu Direktur PLN Ini Ngaku Tagihan Listrik di Rumahnya Juga Melonjak, Ia Sebut WFH Biangnya

Direktur Human Capital Manajemen PLN Syofvie Felianti Roekman menuturkan lonjakan tagihan listriknya bahkan mencapai 100%.

Youtube PLN Batubara
Dokumentasi Syofvi Felienty saat menjabat Direktur Perencanaan PLN. Kini ia menjadi Direktur Human Capital PLN sejak 14 Mei 2020 lalu. Syofvi Felienty menyebut tagihan listrik di rumahnya juga melonjak karena WFH. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA --  PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) kembali jelaskan terjadinya pembengkakan tagihan listrik selama pandemi corona.

Bahkan lonjakan tagihan listrik yang dialami sejumlah pelanggan juga dirasakan oleh salah satu direkturnya.

Direktur Human Capital Manajemen PLN Syofvie Felianti Roekman menuturkan lonjakan tagihan listriknya bahkan mencapai 100%.

Tagihan Rekening Listrik Naik Berlaku 3 Bulan, Ini Penjelaskan PLN tentang Lonjakan Tagihan Listrik

PLN Jelaskan Kenapa Tagihan Listrik Rumah Raffi Ahmad Tembus Rp17 Juta Per Bulan

Ia menjelaskan lonjakan tersebut akibat peningkatan konsumsi yang memang terjadi seiring kebijakan beraktivitas dari rumah dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"Tagihan saya juga naik, tidak cuma 60% tapi 100%. Tapi karena AC menyala, semua beraktivitas di rumah," tutur Syofvie dalam Konferensi Pers Virtual, Jumat (6/6).

Ia menambahkan, dirinya yang biasa mengisi voucher sekali untuk dua bulan, kini harus mengisi voucher listriknya tiap bulan.

"Kita juga harus cerdas menggunakan energi ini. Teman-teman PLN juga merasakan hal yang sama. Tapi saya hitung tuh. Memang semua ada kenaikan konsumsi," kata Syofvie.

Wanita Hamil 8 Bulan Meninggal Dunia di Ambulans, Ditolak 8 Rumah Sakit Hingga Tak Ditangani 13 Jam

Penjelasan PLN

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengungkapkan tidak menaikkan tarif sehingga menyebabkan membengkaknya tagihan listrik sejumlah masyarakat.

Direktur Niaga dan Management Pelanggan PLN Bob Saril bilang kenaikan pembayaran yang terjadi murni karena terjadi peningkatan konsumsi listrik akibat kebijakan WFH dan PSBB.

"Pemakaian listrik Maret dan April sebenarnya lebih tinggi karena stay at home dan PSBB. Itulah kenapa di Mei membengkak," terang Bob dalam Konferensi Pers Virtual, Sabtu (6/6).

Update Pasien Positif Corona Minggu 7 Juni Dirawat di Wisma Atlet Kemayoran ada 544 dan 1 PDP

Bob melanjutkan, memasuki masa WFH dan PSBB, PLN memutuskan untuk menggunakan skema penghitungan tagihan listrik dari tagihan 3 bulan sebelumnya.

Hal ini disebut memunculkan selisih antara realisasi konsumsi listrik dan tagihan yang dikenakan.

Akhirnya pelanggan membayarkan tagihan yang lebih kecil dari besaran yang seharusnya dikenakan.

Kembalian Kurang Rp 200, Driver Ojol Disuspend, Ini yang Dilakukan Sampai Bikin Penumpang Minta Maaf

Halaman
1234
Sumber: Kontan
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved