Minggu, 26 April 2026

Virus Corona

Kapan Vaksin Covid-19 Diproduksi Di Indonesia? Ini Target PT Bio Farma

Kapan Vaksin Covid-19 Diproduksi Di Indonesia? Ini Target PT Bio Farma. Simak selengkapnya dalam berita ini.

AP/time.com
Peneliti AS temukan Vaksin Virus Corona yang diberi kode mRNA-1273. Vaksin ini tengah diujicobakan kepada 45 relawan, satu di antaranya Jennifer Haller (43), ibu dua anak. 

Pandemi covid-19 masih terus berlangsung. Pemerintah sudah menerapkan PSBB, bahkan kini Presiden Jokowi telah mengumumkan larangan mudik bagi masyarakat.

Di samping itu, usaha untuk membuat dan memproduksi vaksin covid-19 juga terus diusahakan berbagai pihak, termasuk perusahaan farmasi BUMN di Indonesia.

Untuk merealisasikan hal tersebut, Holding BUMN Farmasi akan bekerja sama dengan beberapa lembaga internasional.

Lalu kapan vaksin covid-19 sudah dapat diproduksi di Indonesia?

KOWANI Ungkap Kekerasan Dalam Rumah Tangga Marak Akibat Pandemi Virus Corona

Direktur Utama PT Bio Farma, Honesti Basyir, mengatakan, salah satu lembaga yang akan diajak bekerjasama, yakni Sinovac, lembaga asal China.

“China juga sudah memiliki vaksin yang lagi tahap uji klinis kedua. Nah kami juga lakukan koordinasi dengan mereka, bagaimana kalau seandainya vaksin uji klinis berikutnya, serta untuk proses pembikinan massalnya itu nanti bisa dilakukan di Bio Farma,” ujar Honesti saat rapat virtual dengan Komisi VI DPR RI, Selasa (21/4/2020)

Selain itu, lanjut Honesti, pihaknya pun telah mengajukan proposal untuk imut serta dalam uji klinis yang dilakukan The Coalition for Epidemict, Preparedness Innovations (CEPI).

Belva Devara Undur Diri, Tapi Ruang Guru Masih Pegang Proyek Jokowi, Rachland Nashidik : Akal-akalan

“Lembaga ini dimiliki oleh beberapa negara besar Eropa, mereka sudah sampai penemuan vaksin di lembaga risetnya dan siap melakukan produksi dan uji klinis. Dalam hal ini, kita komunikasi dengan CEPI bagaimana scaling up untuk vaksin bisa dilakukan di Bio Farma,” kata dia.

Di dalam negeri sendiri, kata Honesti, perseroannya telah bergabung dalam konsorsium yang dibentuk Kementerian Riset dan Teknologi. Selain Bio Farma, konsorsium itu berisi Eijkman, Balitbangkes dan beberapa perguruan tinggi.

“Target kami 2020 akhir bibit vaksin sudah ada, kemudian 2021 Bio Farma mulai mengembangkan vaksinnya di tempat produksi kami. Sehingga target kita di akhir bulan 4 (April) 2021 kita sudah memiliki vaksinnya dan siap dilakukan uji klinis,” ucap dia.

Inilah Rahasia Tiger Woods yang Diungkap Kepada Publik

Vaksin Covid-19 di Singapura

Sementara itu, banyak perusahaan dan kemitraan berlomba untuk mengembangkan vaksin untuk membendung penyebaran Covid-19.

Salah satunya Singapura yang terus menerus mengembangkan vaksin Covid-19 tersebut.

Dikutip Wartakotalive.com dari Straitstimes, Kamis (16/4/2020),  Duke-NUS Medical School di Singapura dan Arcturus Therapeutics yang berbasis di Amerika Serikat saat ini sedang melakukan studi pra-klinis pada kandidat vaksin yang telah mereka kembangkan.

Jika vaksin Covid-19 tersebut terlihat aman pada hewan, itu akan diuji pada orang dewasa yang sehat.

Larangan Mudik Bikin Sopir Bus Ini Pasrah, Padahal Sudah 1 Bulan Tidak Narik karena Sepi Penumpang

Profesor Ooi Eng Eong, Wakil Direktur Program Penyakit Menular yang muncul di sekolah itu, mengatakan Duke-NUS berharap untuk memulai uji klinis secepat Agustus.

Singapura akan memiliki hak atas vaksin di sini, sementara perusahaan AS akan bebas untuk memasarkannya di seluruh dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan pekan lalu bahwa ada tiga kandidat vaksin yang sedang diuji dalam uji klinis dan 67 sedang dalam evaluasi pra-klinis. Arcturus / Duke-NUS berada di grup terakhir.

Belva Devara Undur Diri, Tapi Ruang Guru Masih Pegang Proyek Jokowi, Rachland Nashidik : Akal-akalan

Berbagai jenis vaksin sedang dikembangkan sebagai kandidat.

Inisiatif Arcturus / Duke-NUS ada di sekitar vaksin mRNA.

Ini adalah teknologi baru dan belum ada yang dilisensikan untuk digunakan, menurut Sekolah Kesehatan Masyarakat Saw Swee Hock, Universitas Nasional Singapura.

"Dalam pandemi seperti sekarang, vaksin semacam itu memiliki keuntungan lebih cepat dan lebih murah untuk diproduksi daripada vaksin konvensional," kata Prof Ooi.

"Dan Arcturus memiliki jenis teknologi mRNA yang unik yang, jika berhasil, dapat membuat proses lebih cepat."

Larangan Mudik, Ditlantas Polda Metro Jaya Sekat dan Alihkan Kendaraan di 3 Titik Ruas Jalan Tol Ini

WHO telah mengatakan bahwa pengembangan vaksin akan memakan waktu sekitar 18 bulan dan merupakan proses super cepat untuk dilacak.

Vaksin BCG Tengah Diuji Coba Apakah Mampu untuk Melindungi Masyarakat dari Virus Corona

Vaksin BCG (Bacille Calmette-Guerin) kini tengah diuji coba di beberapa negara untuk melindungi pekerja medis dan orang-orang yang rentan terhadap virus corona atau Covid-19.

Seperti dilansir dari Kompas.com, uji coba saat ini tengah dilakukan di Australia, Denmark, Jerman, Inggris, dan AS.

Pandemi Covid-19 Semakin Meningkat, Andritany Ardhiyasa Ambil Hikmah Positif dari Aturan PSBB

BCG merupakan vaksin berusia sekitar satu abad yang telah lama digunakan sebagai vaksin untuk anti TBC.

Vaksin ini di Indonesia sendiri telah lama dikembangkan sejak 1973.

Para ilmuwan masih menyelidiki lebih jauh untuk memahami kemungkinan mengapa vaksin BCG mungkin efektif tak hanya untuk TBC tapi juga mikroba lain.

Dan melansir dari situs Kemenkes, BCG pada 2005, merupakan salah satu dari lima jenis imunisasi wajib yang digalakkan pemerintah selain Campak, DPT, Polio dan Hepatitis B berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1611/MENKES/SK /XI /2005.

Belva Devara Mundur dari Staf Khusus Presiden Diharapkan Proyek Pelatihan Online Dibatalkan

Melansir dari Japantimes, sebuah studi yang diunggah di medRxiv, sebuah situs penelitian medis yang tidak dipublikasikan menemukan korelasi antara negara-negara yang mengharuskan warga negaranya untuk mendapatkan vaksin BCG menunjukkan lebih sedikit jumlah kasus dan kematian yang dikonfirmasi dari Covid-19.

Walaupun belum pasti, akan tetapi uji coba pemberian vaksin kepada petugas medis dan orangtua yang rentan tengah dilakukan di setidaknya lima negara sebagai upaya perlindungan.

Gonzalo Otazu seorang Asisten Profesor di Institut Teknologi New York yang juga merupakan penulis dari studi tersebut mulai melakukan analisis usai mengetahui jumlah kasus yang rendah di Jepang meskipun negara itu paling awal sebagai negara yang melaporkan kasus virus corona di luar China dan tidak melakukan penguncian seperti yang dilakukan negara lain.

Singapura Siap Uji Vaksin Covid-19 ke Tubuh Pasien Bulan Agustus, Semoga Bisa Cepat Dipakai di Dunia

Otazu, yang mengetahui bahwa sebelumnya telah ada penelitian yang menunjukkan bahwa BCG memberikan perlindungan tidak hanya bakteri TBC tapi juga penyakit menular lain kemudian mencoba mengumpulkan data.

"Sudah ada sejarah panjang tentang laporan BCG yang menghasilkan serangkaian respons kekebalan yang bermanfaat. Misalnya, sebuah penelitian di Guinea-Bissau menemukan bahwa anak-anak yang divaksinasi dengan BCG diamati memiliki penurunan 50 persen dalam keseluruhan kematian. Hal ini dikaitkan dengan efek vaksin pada pengurangan infeksi pernapasan dan sepsis," kata Otazu sebagaimana dikutip dari Forbes.

Bill Gates Prediksi Virus Corona Musnah di Akhir Tahun, Syaratnya Vaksin Harus Diproduksi Cepat

Meski demikian, tinjauan WHO pada 2014 silam, menyebutkan kemampuan BCG dalam mengurangi kematian secara keseluruhan memiliki kepercayaan yang sangat rendah.

Akan tetapi, para peneliti tetap berharap bahwa BCG bisa menjadi jembatan yang mampu menekan dampak keseluruhan pandemi hingga ada vaksin yang siap digunakan.

Otazu dan tim sendiri mencoba mengumpulkan data tentang negara mana saja yang memiliki kebijakan vaksin BCG universal dan kapan mereka melakukan kebijakan itu.

Saat AS Masih Ujicoba Vaksin, Obat Merek Ini di Jepang Diklaim China Efektif Atasi Virus Corona

Mereka kemudian membandingkan jumlah kasus dan kematian yang dikonfirmasi dari Covid-19 untuk menemukan korelasi yang kuat.

Hasilnya negara-negara maju seperti AS dan Italia yang memiliki jumlah kasus besar Covid-19, menggunakan vaksin BCG hanya sebatas rekomendasi bagi mereka yang mungkin berisiko.

Sedangkan Jerman, Spanyol, Perancis, Iran, dan Inggris yang juga memiliki kasus besar, dulunya memiliki kebijakan vaksin BCG tetapi kemudian mengakhirinya bertahun-tahun hingga puluhan tahun yang lalu.

Sementara China, lokasi awal pandemi, memiliki kebijkan vaksin BCG tetapi tidak dipatuhi sebelum 1976.

Para Peneliti Menguji Vaksin BCG yang Usianya Seabad Bisa Meredakan Covid-19

“Negara-negara termasuk Jepang dan Korea Selatan yang tampaknya telah berhasil mengendalikan penyakit sejauh ini memiliki kebijakan vaksin BCG universal,” ujarnya sebagaimana dikutip dari Japantimes.

Analisis korelasi tersebut menggunakan data negara berpenghasilan tinggi karena data mengenai kasus-kasus yang dikonfirmasi dari negara-negara yang berpenghasilan rendah dinilai tidak cukup andal untuk membuat penilaian yang kuat.

Studi Otzu memang belum menjalani tinjauan kuat dari rekan-rekan peneliti yang lain.

Akan tetapi Eleanor Fish, seorang Profesor di Departemen Imunologi University of Toronto mengatakan masuk akal untuk melihat apakah vaksin BCG dapat memberikan perlindungan pada Covid-19.

"Saya akan membaca hasil penelitian dengan sangat hati-hati," kata Fish.

Cerita Tentang Majelis Taklim Syababul Rahman, Juara Hadroh Se-Jawa Barat

Salah satu yang pertama melakukan uji coba efektivitas vaksin BCG pada virus corona adalah Mihai Netea seorang ahli Penyakit Menular di Radboud University Medical Center di Belanda.

Sebanyak 400 petugas kesehatan di uji coba. 200 menerima vaksin BCG dan 200 menerima plasebo dan akan dilihat hasilnya nanti setelah 2 bulan.

Secara terpisah Tim Netea juga akan mempelajari efektivitas vaksin BCG pada mereka yang berusia lebih dari 60 tahun.

Uji coba lain saat ini tengah dilakukan di Australia, Denmark, Jerman, Inggris, dan AS.

Para ilmuwan masih menyelidiki lebih jauh untuk memahami kemungkinan mengapa vaksin BCG mungkin efektif tak hanya untuk TBC tapi juga mikroba lain.

Cerita Tentang Majelis Taklim Syababul Rahman, Juara Hadroh Se-Jawa Barat

Netea memperkirakan vaksin BCG membuat sistem kekebalan menjadi lebih peka, sehingga setiap ada serangan patogen ia akan merespons mirip strategi serangan terhadap TBC.

Sehingga ada kemungkinan seseorang yang mendapatkan vaksin ini, sistem kekebalan tubuhnya lebih baik dibandingkan mereka yang tidak menerima vaksin.

"Ini seperti vaksin BCG yang membuat bookmark untuk digunakan sistem kekebalan di kemudian hari," kata Netea.

Netea mengingatkan seandainya vaksin BCG ini terbukti efektif, hal ini bukanlah alasan bagi seseorang untuk menimbun seperti yang banyak dilakukan orang-orang terhadap tisu toilet maupun barang-barang lain.

Larangan Mudik, Ditlantas Polda Metro Jaya Sekat dan Alihkan Kendaraan di 3 Titik Ruas Jalan Tol Ini

“Ada kemungkinan kecil bahwa vaksin BCG dapat meningkatkan risiko virus corona tetapi para ilmuwan tidak akan tahu sampai uji klinis,” ujarnya.

Bagaimanapun ia mengingatkan bahwa vaksin BCG seharusnya tidak menjadi satu-satunya alat untuk melawan Covid-19.

"Tidak ada negara di dunia yang berhasil mengendalikan penyakit hanya karena populasi dilindungi oleh BCG," kata Otazu.

Selain itu, menurut Otazu, vaksin BCG tidak sepenuhnya bisa membantu semua orang.

“Ini tidak dianjurkan untuk orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah atau wanita hamil. Kita harus tahu lebih banyak tentang betapa bermanfaatnya bagi kita semua hanya dalam beberapa bulan,” kata dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com di link di bawah ini :

https://money.kompas.com/read/2020/04/21/195958826/bumn-farmasi-akan-gandeng-perusahaan-china-untuk-produksi-vaksin-corona

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bagaimana Vaksin BCG Berkorelasi dengan Tingkat Keparahan Covid-19 Suatu Negara?"

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved