Hak Asasi Manusia
Fadli Zon Mengungkap Prihatin Kebebasan Pers Menempati Urutan 124 dari 180 Negara Timor Leste No 93
Menurut Fadli Zon, pers harus diberi kebebasan dan berhak mendapatkan kebebasan agar bisa memberikan informasi komprehensif untuk kepentingan publik.
Menurut Fadli Zon, kasus yang dikategorikan sebagai kekerasan itu seperti pengusiran, penyerangan fisik, hingga pemidanaan karya jurnalistik.
"Jumlah ini lebih banyak dari data tahun 2017, yaitu sebesar 60 kasus."
"AJI Indonesia juga mencatat tindakan pemukulan, penamparan, dan serangan fisik lainnya menjadi jenis kekerasan terhadap jurnalis yang paling banyak terjadi pada tahun 2018," katanya.
Pada 2019, kata Fadli Zon, jumlah kasus memang turun, menjadi 40 kasus.
"Sehingga, meskipun indeks kebebasan pers agak membaik pada 2019, kemarin, namun indikator kriminalisasi dan kekerasan terhadap jurnalis masih mendapat sorotan."
"Merujuk kepada survei Indeks Kemerdekaan Pers (IKP) 2019 yang disusun oleh Dewan Pers, skor IKP tahun 2019 mencapai 73,71, atau cukup bebas."
"Skor ini lebih baik dari tahun 2018 yang hanya mencapai 69, alias agak bebas."
• Terungkap Spesies Hewan yang Menjadi Perantara Coronavirus dari Kampret ke Manusia Yaitu Trenggiling
Namun, kata Fadli Zon, sebagaimana catatan sebelumnya, indikator kekerasan terhadap jurnalis bisa disebut masih buruk.
"Dari 20 indikator survei, 19 indikator mengalami kenaikan skor."
"Hanya indikator kebebasan pers dari kriminalisasi yang skornya turun dari 78,84 pada 2018 menjadi 76,57 pada 2019."
"Ini tentu harus jadi catatan."
"Kekerasan terhadap jurnalis ini saya kira bukan hanya soal fisik saja, namun juga terkait soal hegemoni wacana," katanya.
Jurnalis kita, kata Fadli Zon, masih belum terbebas atau mampu membebaskan dirinya dari narasi-narasi hegemonik, khususnya yang diproduksi oleh pemerintah.
"Mereka mungkin sebenarnya bisa menghadirkan perspektif yang berbeda, menggali sumber-sumber alternatif, namun karena takut dipecat, atau ada sensor internal, jurnalis jadi tak sepenuhnya bebas menjalankan fungsinya."
Menurut Fadli Zon, kekerasan hegemonik itu agak sulit untuk dibuktikan, namun bisa dirasakan kehadirannya.