Investasi
Mengapa Investor Asing Masih Senang dengan Surat Berharga Negara?
Kepemilikan asing dalam Surat Berharga Negara (SBN) terus meningkat, dan dana asing yang telah masuk sebesar Rp 1.036 triliun.
Oleh karena itu, Adi memperkirakan persentase kepemilikan asing masih bisa menjadi 40 persen.
Ekonom Pefindo, Fikri C Permana, mengatakan, tambahan inflow dari asing ke SUN karena pengelolaan APBN yang dirasa prudent.
• Banyak Aksi Jual oleh Asing, Berikut Rekomendasi Saham dari Analisis Saham
Hanya saja, Fikri menilai inflow tersebut belum optimal sehingga masih berpotensi naik lagi.
"Sayangnya dengan risiko global yg masih tinggi, khususnya risiko resesi negara-negara maju, inflow ke Indonesia saya melihat belum seoptimal yang seharusnya bisa kita dapatkan," kata Fikri.
Fikri juga bilang potensi investor asing masuk tidak hanya di SUN melainkan di pasar saham dan FDI.
Hanya saja, untuk saat ini SUN yang mengawali potensi tersebut terealisasikan.
"Dengan kondisi global, khususnya peers, saya melihat Indonesia memiliki competitive advantage sebagai tujuan investasi global," kata Fikri.
Adi mengatakan, diminatinya SBN dikarenakan pertumbuhan ekonomi Indonesia terjaga serta harga surat utang Indonesia dinilai lebih baik dengan surat utang negara lain.
Hal ini yang menyebabkan pasar asing lebih memilih surat utang dibandingkan pasar saham.
Selain itu, Adi juga bilang bahwa di pasar saham ada musim laporan keuangan korporasi juga turut diperhatikan oleh investor asing.
• Satu Pekan Ini Rupiah Melemah, Bagaimana Pergerakan Rupiah Pekan Depan?
Hal ini yang menurut Adi juga menjadi pembeda antara surat utang dan pasar saham.
Ditambah, Adi mengatakan, pasar saham di luar negeri dinilai lebih menarik karena harga tidak terlalu mahal dan earning lebih bisa tumbuh.
Dari kepemilikan asing yang lebih memilih tenor pendek, kata Fikri, sebenarnya tidak terlalu aman jika situasi normal.
Hanya saja, ia berpendapat kondisi saat ini sedang tidak normal jika dibandingkan dengan situasi dua tahun belakangan.
"Dengan kondisi saat ini harusnya pilihan kepemilikan di tenor pendek sudah merupakan opsi terbaik buat Indonesia juga," kata Fikri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/penerbitan-obligasi_000.jpg)