Selasa, 28 April 2026

Mbah Moen Meninggal

Dua Doa Mbah Moen Terkabul

Keinginan Mbah Moen tersebut diungkapkan KH Zuhrul Anam Hisyam (Gus Anam) melalui akun Facebooknya.

Istimewa
KH Maimun Zubair meninggal dunia di Makkah. 

MUSTASYAR (penasihat) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Maimoen Zubair pernah menginginkan meninggal dunia di Tanah Suci Makkah saat melaksanakan ibadah haji, dan pada Hari Selasa.

Keinginan Mbah Moen tersebut diungkapkan KH Zuhrul Anam Hisyam (Gus Anam) melalui akun Facebooknya.

Gus Anam merupakan salah seorang menantu Mbah Moen yang mendampinginya di Tanah Suci Makkah saat ini.

Rocky Gerung Bilang di Luar Negeri Posisi Oposisi Setara Perdana Menteri

“Mbah Yai Maimun pernah dawuh, minta didoakan meninggal pada Hari Selasa, karena biasanya orang ahli ilmu itu meninggalnya Hari Selasa."

"Dan minta didoakan meninggal di Makkah pas haji,” ungkap Gus Anam melalui akun Facebook-nya yang diakses NU Online pada Selasa (6/8) pukul 11.25.

“Masya Allah, diijabah oleh Allah semuanya,” lanjut kiai yang tinggal di Banyumas ini.

Rocky Gerung: Demokrasi Tidak Memerlukan Persatuan

Ternyata memang betul, Allah mengabulkan keinginan Mbah Moen tersebut.

Ia meninggal dunia pada Selasa pukul 04.17 waktu Arab Saudi, saat menjalankan ibadah haji di Makkah.

Mbah Moen, kiai berusia 91 tahun ini berangkat ke Tanah Suci Makkah pada Ahad 28 Juli.

Kata Rocky Gerung, Koalisi Sebaiknya Hanya Terjadi Jika Ada Musuh dari Luar

Meskipun usia sudah lanjut, hampir tiap musim haji, pengasuh pondok pesantren Al-Anwar, Rembang, Jawa Tengah ini melaksanakan rukun Islam kelima tersebut.

Ucapan duka dan kehilangan mendalam untuk Mbah Moen mengalir deras melalui media sosial seperti Twitter dan Facebook.

Mulai tokoh agama, politikus, santri, hingga masyarakat luas.

FAKTA-FAKTA Pos Satpam Rumah Susi Pudjiastuti Dirusak, Ibu Pelaku Duga Anaknya Dibisiki Jin

PBNU, melalui Sekretaris Jenderal Helmy Faishal Zaini, segera menginstruksikan Nahdliyin untuk mendirikan Salat Gaib bagi Mbah Moen.

"Kepada Umat Islam, khususnya warga Nahdlatul Ulama, mari bersama-sama melaksanakan salat gaib dan membacakan surat Al-Fatihah untuk KH Maimoen Zubair."

"Semoga senantiasa ditempatkan di tempat yang paling mulia di sisi Allah SWT," ucap Sekjen Helmy.

Jokowi Bersyukur Gempa Banten Tak Disusul Tsunami, Belum Pastikan Kapan Kunjungi Lokasi Terdampak

Menurut Helmy, atas wafatnya Mbah Moen, Bangsa Indonesia kehilangan tokoh yang penuh sikap kebersahajaan.

Mbah Moen merupakan salah seorang kiai ahlul halli wal aqdi (ahwa) yang dibentuk PBNU pada Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur, untuk menentukan Rais Aam PBNU.

Sebelumnya, Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan Abdul Ghaffa Rozin mengatakan, jenazah KH Maimoen Zubair alias Mbah Moen, akan disalatkan di Masjidil Haram setelah Salat Zuhur.

Ancaman Tsunami Mengintai, BNPB Bakal Gelar Ekspedisi Destana untuk Meminimalisasi Korban

Hal itu sesuai keinginan keluarga almarhum

"Keluarga menghendaki almarhum dimakamkan di Makkah. Rencananya disalatkan di Masjidil Haram usai jamaah dzuhur," katanya saat dihubungi, Selasa (6/8/2019).

 Megawati Bakal Perpanjang Rekor Ketua Umum Parpol Terlama, Rocky Gerung Bilang Begini

Setelah itu, menurutnya Mbah Moen akan dimakamkan di Jannatul Mu'alla, atau pekuburan Ma'la yang berada di sebelah utara Masjidil Haram.

Sebelum meninggal, Mbah Moen menyampaikan ingin dimakamkan di Ma'la bila meninggal di Makah, Arab Saudi.

"Almarhum pernah menyampaikan kalau wafat di Makkah ingin dimakamkan di Ma’la. Sekarang baru diikhtiarkan untuk dimakamkan di sana," tuturnya.

 Rocky Gerung Bilang di Luar Negeri Posisi Oposisi Setara Perdana Menteri

Kabar duka sebelumnya dibenarkan oleh Waketum PPP Arwani Thomafi saat dikonfirmasi pada Selasa pagi.

Ia menuturkan, Mbah Moen wafat di Makkah saat mengikuti rangkaian haji, Selasa (6/8/2019) pukul 04.17 waktu setempat.

Pria kelahiran 19 Oktober 1928 inu merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Al- Anwar Sarang, Rembang, dan menjabat Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) hingga wafat.

 Rocky Gerung: Demokrasi Tidak Memerlukan Persatuan

Sebelumnya, Kiai karismatik KH Maimoen Zubair atau akrab disapa Mbah Moen (91), wafat di Makkah, Arab Saudi, saat melakukan rangkaian ibadah haji, Selasa (6/8/2019) waktu setempat.

Saat masa kampanye Pilpres 2019, nama Mbah Moen sempat menjadi bahan pemberitaan dan perbincangan publik.

Hal itu terjadi saat Mbah Moen menyebut nama Prabowo Subianto dalam doanya pada acara Sarang Berzikir untuk Indonesia Maju, Jumat (1/2/2019) lalu.

 Megawati Bakal Perpanjang Rekor Ketua Umum Parpol Terlama, Rocky Gerung Bilang Begini

Acara yang berlangsung di Pondok Pesantren Al-Anwar, Rembang, Jawa Tengah itu dihadiri oleh Presiden Jokowi.

Dalam video yang beredar, Mbah Moen menyebut nama Prabowo Subianto saat memimpin doa dalam Bahasa Arab di acara Sarang Berzikir untuk Indonesia Maju bersama Presiden Jokowi.

Acara itu digelar di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, Jumat (1/2/2019).

 Rocky Gerung Bilang di Luar Negeri Posisi Oposisi Setara Perdana Menteri

Mbah Moen lalu dihampiri oleh Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Muhammad Romahurmuziy alias Rommy, seusai membacakan doa.

Setelah itu, Maimun Zubair kemudian berbicara kembali seperti meralat ucapannya di dalam doa sebelumnya.

"Jadi saya dengan ini, untuk menjadi, siapa yang ada di samping saya ya Pak Jokowi," cetusnya.

 Rocky Gerung: Demokrasi Tidak Memerlukan Persatuan

M Romahurmuziy yang kala itu menjabat Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), lantas mengklarifikasi potongan video Mbah Moen tersebut. 

Romahurmuziy menyebut Mbah Moen salah mengucap ketika berdoa.

Mbah Moen, katanya, menyebut nama Prabowo Subianto, padahal yang dimaksud adalah Jokowi.

 Kata Rocky Gerung, Koalisi Sebaiknya Hanya Terjadi Jika Ada Musuh dari Luar

"Beliau memang salah mengucap. Terbukti bahwa antara isi doa sebelumnya dan ucapan "Prabowo" tidak 'nyambung'," kata Rommy, sapaan akrabnya.

Menurut Rommy yang ikut hadir dalam pertemuan itu, Mbah Moen jelas melafalkan "hadza rois" atau presiden ini, dan mendoakan untuk menjadi presiden kedua kalinya.

"Jelas di sini, siapa yang dimaksud menjadi presiden kedua kalinya, tentu merujuk Pak Jokowi. Beliau saat ini menjadi presiden di periode pertama," kata Rommy.

 Tips Selamat dari Bencana: Saat Tsunami Datang, Bergeraklah ke Tengah Laut

Sebenarnya, lanjut Rommy, beredar juga video klarifikasi atau lanjutannya yang tidak pernah diedarkan oleh para pendukung pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga Uno.

"Di video kedua, Mbah Moen menegaskan doanya ditujukan untuk Pak Jokowi. " ... La Pak Prabowo Innama Pak Jokowi, Joko Widodo" (bukan Prabowo, melainkan Joko Widodo)," katanya.

Bahkan, menurut Rommy, sebagai penegasan, dalam doanya agar calon petahana terpilih lagi sebagai presiden, Mbah Moen menyebut dua kali, yakni Jokowi dan Joko Widodo.

 FAKTA-FAKTA Pos Satpam Rumah Susi Pudjiastuti Dirusak, Ibu Pelaku Duga Anaknya Dibisiki Jin

Polemik insiden keseleo lidah Mbah Moen itu lantas diperbesar oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, dengan membuat puisi berjudul Doa yang Ditukar.

Puisi Fadli Zon tersebut diposting dalam akun twiternya @fadlizon. Berikut ini isi puisi tersebut:

DOA YANG DITUKAR

doa sakral

seenaknya kau begal

disulam tambal

tak punya moral

agama diobral

doa sakral

kenapa kau tukar

direvisi sang bandar

dibisiki kacung makelar

skenario berantakan bubar

pertunjukan dagelan vulgar

doa yang ditukar 

bukan doa otentik

produk rezim intrik

penuh cara-cara licik

kau penguasa tengik

Ya Allah

dengarlah doa-doa kami

dari hati pasrah berserah

memohon pertolonganMu

kuatkanlah para pejuang istiqomah

di jalan amanah

Fadli Zon Zon, Bogor, 3 Feb 2019.

Puisi 'Doa yang Ditukar' karya Wakil Ketua DPR Fadli Zon itu lantas diprotes sejumlah pihak, salah satunya Majelis Ulama Indonesia Kota Sukabumi.

Mereka protes dan meminta Fadli Zon meminta maaf, karena menilai puisi itu telah menghina ulama Maimun Zubair alias Mbah Moen.

Meskipun demikian, Fadli Zon yang juga menjabat anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, tidak akan meminta maaf karena telah membuat puisi terebut.

 Jokowi Bersyukur Gempa Banten Tak Disusul Tsunami, Belum Pastikan Kapan Kunjungi Lokasi Terdampak

Menurut Fadli Zon, tidak ada yang salah dengan puisi yang dibuatnya itu.

"Ya untuk apa saya melakukan sesuatu yang tidak saya lakukan," katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (11/2/2019).

Fadli Zon kembali menegaskan bahwa puisi Doa yang Ditukar tidak ada kaitannya dengan Mbah Moen.

 Isi Tas Anda dengan 10 Barang Ini, Dijamin Selamat dari Tsunami dan Gempa!

Menurutnya, puisi tersebut ditujukan kepada penguasa, bukan kepada Mbah Moen.

"Saya kira saya udah jelaskan beberapa kali bahwa puisi itu ekspresi dan enggak ada hubungannya dengan Mbah Maimun," kata Fadli Zon.

Dia menambahkan, "Saya kira bagi mereka yang memahami itu, di situ jelas, sangat jelas, bahkan dalam puisi itu disebutkan kaum penguasa, Mbah Maimun kan bukan penguasa." 

 Ancaman Tsunami Mengintai, BNPB Bakal Gelar Ekspedisi Destana untuk Meminimalisasi Korban

Fadli Zon meminta puisi tersebut tidak terus digoreng atau dipelintir, seolah-olah ditujukan kepada Mbah Moen.

Baginya, Mbah Moen merupakan ulama yang sangat arif dan bijaksana.

"Jadi jangan dipolitisir, jangan digoreng maupun dipelintir, enggak ada sama sekali. Saya mengenal beliau adalah ulama yang baik, ulama yang humble, ulama yang arif," paparnya.

 Baiq Nuril: Jangan Pernah Berikan Ruang untuk Laki-Laki Nakal!

Sebelumnya, Ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi KH Apep Saefulloh menyayangkan adanya puisi yang dianggap menghina ulama senior KH Maimoen Zubair oleh Fadli Zon.

Hal itu diungkapkan Apep kepada wartawan, seusai dialog tertutup dengan Tim Kampanye Daerah Kota Sukabumi di Hotel Horison, Jumat (8/2/2019) malam.

Acara itu dilaksanakan secara tertutup, dalam rangkaian Safari Kebangsaan VII yang dipimpin Sekretaris TKN Jokowi-Maruf Amin Hasto Kristiyanto.

 Maafkan Kepala Sekolah Pelecehnya, Baiq Nuril: Tuhan Saja Maha Pengampun, Masa Manusia Enggak?

Menurut Kiai Apep, dalam pertemuan itu, dilakukan dialog soal bagaimana cara menepis hoaks dan fitnah yang saat ini bertebaran.

Satu di antara yang dibahas juga adalah soal puisi Doa yang Ditukar. Puisi itu menyangkut ulama senior KH Maimun Zubair.

"Dia sangat menghina ulama. Di mana kiai sepuh yang berdoa begitu ikhlas tapi dipelintir, bahwa itu merupakan doa yang dibayar."

"Padahal saya lihat Mbah Maimoen itu orang yang ikhlas dan sesepuh daripada satu partai Islam dan juga dia seorang ulama besar," beber Kiai Apep. (*)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved