Citizen Journalism
Kebangkrutan Merek dan Strategi Adopsi Brand Asing
Menarik kita cermati bahwa brands Vans memiliki sejumlah besar fans baik di tingkat dunia maupun di dalam negeri.
Meski tidak mengetahui persis, tetapi dengan tersisanya kewajiban pada kreditor yang mencapai ratusan miliar, tentu bisa dibayangkan nilai kapital yang digelontorkan bagi pembangunan merek ini di Tanah Air.
Ketika keputusan manajerial diambil, maka upaya melakukan pengembangan harus ditopang oleh sumberdaya keuangan yang mumpuni. Tidak semuanya memang dapat dilakukan dengan menggunakan arus kas internal, karena bisnis baru memang terhitung akan minus cashflow.
Dengan demikian perusahaan harus mengembangkan pendanaan secara atraktif, semisal menggunakan dana pihak ketiga, mencari partner stategis, mengembangkan skema distribusi area dan penunjukan agen tentu dapat dilakukan dalam membangun pondasi keuangan.
Setidaknya, analisa ini menjadi bagian dalam upaya menerjemahkan kebangkrutan suatu merk di Tanah Air sebagai point pembelajaran. Dan tentu bukan tidak mungkin, upaya yang telah dimulai Vans Indonesia saat ini justru akan dapat dimanfaatkan oleh pelaku bisnis lain, ketika respon dan pasar telah matang dengan kapasitas daya beli yang sesuai bagi segmen anak muda.
Yudhi Hertanto, Ketua Yayasan Akademi Keperawatan Berkala Widya Husada
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/acara-urban-sneaker-societyuss_20170421_134326.jpg)