Jumat, 17 April 2026

Citizen Journalism

Kebangkrutan Merek dan Strategi Adopsi Brand Asing

Menarik kita cermati bahwa brands Vans memiliki sejumlah besar fans baik di tingkat dunia maupun di dalam negeri.

dok.Local.co.id
Local.co.id berkolaborasi NorthSneakerSquad (NSS) sebagai salah satu komunitas sneaker ternama di Ibukota, menginisiasi terselenggaranya acara Urban Sneaker Society(USS). 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Beberapa waktu lalu, tersingkap kabar bangkrutnya merk alas kaki populer anak muda di Tanah Air.

Ternyata peningkatan kesadaran akan merk tidak berjalan linier dengan tingkat penjualan.

Kenapa hal itu terjadi? Bagaimana kesadaran merk berkontribusi pada penjualan? Apa yang dapat dipelajari dari kasus kebangkrutan ini?

Studi kasus yang kita bahas adalah status pailit PT Gagan Indonesia sebagai distributor tunggal produk alas kaki merk Vans.

Menarik kita cermati bahwa brands Vans memiliki sejumlah besar fans baik di tingkat dunia maupun di dalam negeri.

Jenis sepatu sneakers, dengan bahan kanvas dan sol karet lembut ini memang terlihat multifungsi dan trendi.

Di Amerika, negara asalnya, Vans memang dekat dengan dunia anak muda, karena merk ini diperlekatkan dengan kebiasaan bermain skateboard. Menjadi sebuah simbol dari kepraktisan khas generasi muda.

Sepatu jenis ini, memang enak dipakai berolahraga dan tetap keren untuk dibawa hangout, sehingga bisa sangat fleksibel untuk kehidupan yang dinamis.

Hal itu terlihat dari besaran followers sosial media yang dimiliki Vans Indonesia baik di Instagram, Twitter maupun Facebook. Ketertarikan dan keriuhan soal merek tentu tidak dapat dipungkiri.

Bila demikian, ekspansi yang dilakukan perusahaan Vans Indonesia dengan pembukaan gerai dan mendorong koneksi keterhubungan dengan para pemuda berjalan tidak seiring dengan tingkat pertumbuhan bisnis.

Tentu evaluasi dari sudut pandang pengamatan luar, belum tentu tepat dalam menggambarkan situasi riil yang terjadi, tetapi setidaknya beberapa asumsi dapat dibangun.

Pertama volatile lifestyle, dalam kondisi dimana kalangan kelas menengah di Indonesia mengalami kemampuan beli dan tertarik dengan gaya hidup konsumtif, ternyata kerapkali disiasati dengan melakukan konsumsi tipikal alias barang imitasi.

Ketidakmampuan menjangkau produk dengan harga dasar originalnya, kemudian diturunkan dengan mencari produk subtitusinya alias barang KW. Toh, dalam hal ini hajat untuk persoalan gaya hidup terpenuhi.

Selanjutnya, pola gaya hidup anak muda memang sulit diprediksi. Karena faktor pengaruhnya tidak tunggal, referensi komunitas dan teman kerapkali cepat berubah sesuai dengan kondisi aktual dan trend yang berlaku. Dan hal tersebut berlangsung dalam kurun waktu yang singkat.

Ibarat kata, hari ini sneakers, besok sepatu kain, lusa sepatu training tetapi bisa juga sepatu kulit.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved