Berita Tangerang
Kulit Buah Disulap Jadi Deterjen Ramah Lingkungan di Tangsel
Pelaku UMKM laundry di Pondok Aren memanfaatkan limbah organik menjadi eco enzyme pengganti deterjen kimia.
Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Dwi Rizki
Ringkasan Berita:
- Anantasari, pemilik usaha laundry rumahan Binatu Koe di Pondok Aren, Tangerang Selatan, memanfaatkan limbah kulit buah dan sayur menjadi deterjen ramah lingkungan berbahan eco enzyme.
- Sejak 2021, ia beralih dari deterjen kimia demi mengurangi pencemaran limbah dan sampah plastik.
- Cairan hasil fermentasi limbah organik itu kini menjadi identitas usahanya sekaligus sarana edukasi pengelolaan sampah rumah tangga bagi warga sekitar di Tangerang Selatan.
WARTAKOTALIVE.COM, TANGERANG - Kulit buah yang biasanya berakhir di tempat sampah, di tangan Anantasari justru berubah menjadi bahan utama deterjen laundry ramah lingkungan.
Dari rumah sekaligus tempat usahanya, perempuan pelaku UMKM itu membuktikan limbah dapur ternyata bisa menjadi cuan sekaligus solusi kecil untuk persoalan sampah rumah tangga.
Usaha miliknya Binatu Koe sebuah laundry rumahan di perumahan Pondok Jaya, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten sudah berdiri sejak 2011.
Perubahan besar terjadi akhir 2021 ketika ia memutuskan meninggalkan deterjen kimia dan beralih menggunakan eco enzyme, cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayur.
"Yang paling saya pedulikan itu lingkungan. Laundry kami ada di perumahan, jadi saya tidak ingin limbah sabunnya mencemari air di sekitar,” ujar Anantasari kepada TribunTangerang.com, Pondok Aren, Tangsel, Kamis (28/5/2026).
Baca juga: Sadis! Balita di Jatisampurna Bekasi Ditemukan Tewas Mengenaskan, Warga Menduga Korban Pembunuhan
Keputusan itu bukan tanpa resiko. Saat sebagian besar usaha laundry mengandalkan deterjen beraroma tajam dan penuh busa, Ananta justru memakai cairan berwarna cokelat dengan aroma alami hasil fermentasi buah. Ia sadar pelanggannya bisa saja ragu.
“Orang biasanya beli sabun lihat warna dan wanginya. Sementara eco enzyme warnanya cokelat dan kami tidak pakai pewangi tambahan,” ujar Ananta tersenyum.
Perjalanannya mengenal eco enzyme bermula pada masa pandemi 2020. Saat pulang ke rumah orang tuanya di Malang, Jawa Timur, ia membaca artikel koran tentang seorang pegiat eco enzyme.
Rasa penasaran membuatnya mencari informasi lewat internet hingga mengikuti webinar komunitas lingkungan.
Dari situlah ia mulai mencoba membuat eco enzyme sendiri di rumah. Formula pembuatannya cukup sederhana, yakni satu bagian gula, tiga bagian limbah organik, dan sepuluh bagian air yang difermentasi minimal selama 90 hari.
“Nah, semua rumah pasti punya sampah organik. Kulit buah, sisa sayur, itu sebenarnya bisa dimanfaatkan,” ucapnya.
Di sudut ruang laundry miliknya, berjajar galon dan wadah fermentasi berisi kulit jeruk, nanas, hingga berbagai limbah buah lain. Beberapa wadah tampak masih mengeluarkan gas, tanda proses fermentasi sedang berlangsung.
Saat tutup salah satu wadah dibuka, aroma segar menyerupai tape bercampur jeruk langsung tercium.
"Kalau kulit jeruknya banyak, aromanya lebih segar,” kata Ananta.
| Belum Sebulan Menjabat, Kajari Kota Tangerang Garap Dugaan Korupsi Penyewaan Pesawat Terbang |
|
|---|
| Siswa dan Alumni SMK di Pamulang Tangsel Laporkan Kelakuan Mantan Kepsek usai Dugaan Child Grooming |
|
|---|
| Kepala SMK di Pamulang Tangerang Selatan Dicopot setelah Diduga Melakukan Child Grooming ke Siswinya |
|
|---|
| PLN Hadirkan Layanan Home Charging, Pengajuan Bisa Diakses Lewat PLN Mobile |
|
|---|
| Tertekan hingga Menangis, Wanita Ini Trauma Usai Diperiksa Bea Cukai Bandara Soetta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Limbah-Kulit-Jadi-Deterjen.jpg)