Senin, 1 Juni 2026

Berita Tangerang

Kulit Buah Disulap Jadi Deterjen Ramah Lingkungan di Tangsel

Pelaku UMKM laundry di Pondok Aren memanfaatkan limbah organik menjadi eco enzyme pengganti deterjen kimia.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Dwi Rizki
Warta Kota/Ikhwana Mutuah Mico
PENGOLAHAN SAMPAH - Pelaku UMKM laundry ini mengubah limbah kulit buah menjadi deterjen ramah lingkungan berbasis eco enzyme, sekaligus mengajak masyarakat melihat sampah rumah tangga sebagai peluang cuan dan solusi lingkungan, 

Bahan baku limbah organik itu ia dapatkan secara gratis dari rumah tangga hingga pelaku usaha herbal di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

“Kalau limbah kulit buah biasanya orang kasih gratis. Mereka senang karena sampahnya bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Tidak hanya mengurangi sampah organik, Ananta mulai mengurangi limbah plastik dari usahanya.

Jika dulu ia rutin membuang jirigen deterjen bekas, kini wadah yang sama digunakan berulang kali karena sabun diproduksi sendiri.

“Dulu saya sedih lihat jirigen bekas terus bertambah. Sekarang paling tidak tidak menambah sampah lagi,” ucapnya.

Meski menggunakan bahan alami, Ananta memastikan kualitas cucian tetap terjaga. Ia mengaku belum pernah menerima keluhan pelanggan sejak menggunakan deterjen berbahan eco enzyme.

“Saya sempat takut pelanggan tidak cocok. Tapi alhamdulillah sampai sekarang tidak ada masalah,” tuturnya

Usaha laundry itu memang sempat terpukul setelah pandemi COVID-19. Dari sebelumnya mampu mencuci hingga 100 kilogram pakaian per hari, kini jumlahnya turun menjadi sekitar 30 kilogram. Persaingan usaha laundry yang semakin banyak menjadi tantangan tersendiri.

Namun di tengah penurunan itu, konsep ramah lingkungan justru menjadi identitas baru usahanya. Beberapa pelanggan bahkan datang karena penasaran dengan eco enzyme yang ia pajang di area laundry.

“Mereka bilang keren karena limbah bisa jadi sabun,” katanya.

Bagi Ananta, persoalan sampah bukan hanya soal membuang pada tempatnya, tetapi juga soal kesadaran memilah sejak dari rumah.

Ia mengaku sedih melihat tempat sampah umum yang isinya bercampur antara organik dan anorganik.

“Orang merasa yang penting sudah buang sampah. Padahal yang benar itu membuang sesuai jenisnya,” ujarnya.

Kini, selain menjalankan laundry, Ananta juga aktif mengenalkan eco enzyme kepada warga sekitar.

Ia berharap semakin banyak masyarakat mencoba mengolah sampah organik rumah tangga, meski dalam skala kecil.

“Saya lebih senang banyak orang bikin eco enzyme sedikit-sedikit di rumah, daripada cuma satu dua orang bikin dalam jumlah besar,” katanya.

Dari kulit buah yang dulu dianggap limbah, Ananta menemukan cara baru menjaga lingkungan sekaligus mempertahankan usahanya. (m30)

Sumber: WartaKota
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved