Banjir Jakarta
BPBD DKI Minta Warga Pesisir Jakarta Waspada Banjir Rob hingga 5 Juni
BPBD DKI Jakarta mengimbau warga pesisir utara Jakarta waspada banjir rob hingga 5 Juni akibat pasang maksimum air laut dan bulan purnama.
Penulis: Yolanda Putri Dewanti | Editor: Dian Anditya Mutiara
Ringkasan Berita:
- BPBD DKI Jakarta meminta warga pesisir utara Jakarta siaga menghadapi potensi banjir rob hingga 5 Juni 2026.
- Fenomena pasang maksimum air laut yang bertepatan dengan fase Bulan Purnama diperkirakan memicu genangan di sejumlah kawasan pesisir.
- Pemprov DKI juga mengakui infrastruktur pengendali banjir saat ini mulai terbatas menghadapi hujan ekstrem akibat perubahan iklim.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Warga pesisir utara Jakarta diminta siaga menghadapi potensi banjir rob yang diperkirakan terjadi hingga 5 Juni 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebut fenomena pasang maksimum air laut berpotensi memicu genangan di sejumlah kawasan pesisir, terutama pada malam hari.
Fenomena tersebut terjadi bersamaan dengan fase Bulan Purnama pada 31 Mei 2026 yang diperkirakan meningkatkan tinggi muka air laut.
BPBD mencatat periode pasang maksimum berlangsung sejak 27 Mei hingga 5 Juni 2026, dengan puncak pasang diprediksi terjadi pukul 19.00 hingga 00.00 WIB.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Marulitua Sijabat mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
Baca juga: Instruksi Pramono Atasi Banjir Jakarta dan Hadapi Fenomena El Nino
“Adanya fenomena pasang maksimum air laut yang bersamaan dengan fase Bulan Purnama pada tanggal 31 Mei 2026, berpotensi meningkatkan ketinggian pasang air laut maksimum berupa banjir pesisir atau rob di wilayah pesisir utara Jakarta,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).
Wilayah yang berpotensi terdampak antara lain Kamal Muara, Kapuk Muara, Penjaringan, Pluit, Ancol, Muara Angke, Tanjung Priok, Marunda, Cilincing, Kalibaru, hingga Kepulauan Seribu.
BPBD mengingatkan warga agar membatasi aktivitas di kawasan pesisir saat pasang tinggi berlangsung.
Warga juga diminta memastikan saluran drainase di lingkungan sekitar berfungsi optimal guna meminimalkan genangan.
Selain itu, masyarakat diimbau rutin memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari pemerintah.
“Dalam kondisi darurat, masyarakat dapat segera menghubungi layanan Jakarta Siaga 112 yang beroperasi selama 24 jam,” kata Marulitua.
Pengendali Banjir Mulai Terbatas
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengungkapkan bahwa infrastruktur pengendali banjir yang ada saat ini mulai mengalami keterbatasan dalam menghadapi hujan ekstrem akibat dampak perubahan iklim.
Curah hujan yang kini kerap melampaui kapasitas desain infrastruktur disebut menjadi faktor utama banjir masih terjadi di sejumlah titik di ibu kota.
Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum mengatakan sebagian besar fasilitas pengendali banjir di Jakarta dibangun untuk menangani curah hujan sekitar 100 hingga 150 milimeter.
| Pemprov DKI Akui Infrastruktur Pengendali Banjir Sudah Tak Lagi Mampu Tampung Hujan Ekstrem |
|
|---|
| Banjir Rendam 26 RT di Jakarta Timur, Kampung Melayu Terendam Paling Parah |
|
|---|
| Atasi Banjir Seskoal Cipulir, Pemkot Jaksel Bangun 100 Sumur Resapan Tanpa Gunakan APBD |
|
|---|
| Sering Banjir, Warga Kebon Pala Minta Normalisasi Kali Ciliwung Dipercepat |
|
|---|
| Banjir Kembangan Surut, Aksi Cepat Wali Kota Jakbar Tuai Pujian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/banjir-rob-jakarta-hingga-8-Mei-2026.jpg)