Sabtu, 2 Mei 2026

Energi Terbarukan

Dampak Positif Bobibos, Sawah Jadi Sumber Energi

Jerami yang selama ini kerap dianggap limbah pascapanen dan bahkan dibakar di sawah, ditawarkan sebagai sumber energi baru.

Tayang: | Diperbarui:
Warta Kota/M Rifqi Ibnumasy
Ilustrasi - Petani di Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara sedang menggarap sawah, Minggu (22/5/2022). 

WARTAKOTALIVE.COM, BOGOR - Upaya mencari sumber energi terbarukan terus berkembang di Indonesia. 

Salah satu inisiatif yang belakangan menarik perhatian adalah Bobibos (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!), bahan bakar alternatif berbasis jerami

Jerami yang selama ini kerap dianggap limbah pascapanen dan bahkan dibakar di sawah, ditawarkan sebagai sumber energi baru.

Inisiator Green Merah Putih Fauzan Rachmansyah menilai upaya dan usaha masyarakat Indonesia dalam menciptakan energi terbarukan merupakan usaha yang bagus. Apalagi dengan inovasi Bobibos.

“Jerami bisa menjadi energi terbarukan itu memberikan dampak yang sangat positif,” kata Fauzan kepada wartawan, Senin (15/12/2025).

Dengan kehadiran Bobibos, masyarakat akan berbondong-bondong menanam padi.

"Padinya jadi beras dan dijual dan jeraminya yang selama ini para petani bingung mau diapakan bisa menjadi sesuatu nilai tinggi,” imbuhnya.

Tetapi, kata dia, ada juga petani yang memanfaarkan jerami untuk pakan sapi. 

"Jadi, jika dikelola dengan benar, pendekatan ini berpotensi mengurangi pencemaran udara, menambah nilai ekonomi limbah pertanian, serta membuka lapangan kerja di desa," paparnya.

Di sisi kebijakan, lanjut Fauzan, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai cukup memberikan perhatian terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan. 

Arah kebijakan yang menempatkan sustainability sebagai agenda penting membuka ruang bagi riset dan inovasi energi alternatif. 

“Semakin banyak pihak yang melakukan riset dan mencari solusi, semakin besar peluang Indonesia menemukan jalan keluar dari persoalan energi dan lingkungan,” ungkapnya. 

Senada dengan Fauzan, Pengamat otomotif Bebin Juana, menilai transisi energi merupakan keharusan strategis. 

Namun, keberhasilan energi alternatif tidak dapat ditentukan oleh popularitas atau uji coba semata, melainkan oleh kesiapan skala ekonomi, pasokan bahan baku, dan kemampuan memenuhi kebutuhan nasional.

"Minyak bumi pasti akan habis. Tapi mencari penggantinya tidak bisa sekadar berdasarkan tren. Energi alternatif harus layak secara ekonomi, bisa diproduksi massal, dan tidak membebani konsumen," ujar Bebin.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved