Senin, 18 Mei 2026

Polemik Alumni LPDP

Mahfud MD soal Alumni LPDP: Saya Marah Negara Dilecehkan, Tapi Dwi Wakili Suara Publik yang Kecewa

Mantan Menko Polhukam Mahfud MD mengaku marah saat mendengar pernyataan alumni LPDP, Dwi Sasetyaningtyas (DS), yang viral. Namun ia memahami DS

Tayang:
YouTube Mahfud MD Official dan Instagram @sasetyaningtyas
MAHFUD MARAH BESAR - Foto merupakan kolase Mahfud MD dan alumni LDPP Dwi Sasatyaningtyas. Meski menyatakan kemarahan besar karena negara dilecehkan oleh ucapan Dwi, penerima mandat beasiswa, Mahfud juga memberikan analisis yang menohok, bahwa pernyataan DS adalah representasi suara publik yang mulai putus asa terhadap kondisi hukum dan birokrasi di tanah air. 

Ringkasan Berita:
  • Mahfud MD marah atas pernyataan Dwi Sasetyaningtyas, tapi menilai ucapannya mewakili suara publik yang kecewa pada tata kelola negara.
  • Ia setuju sanksi tegas, namun menegaskan pemerintah harus berbenah karena kekecewaan lahir dari fakta nyata.
  • Kritik boleh, tapi jangan menghina negara; perubahan harus lewat jalur konstitusional, bukan ledakan kemarahan.

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Mantan Menko Polhukam Mahfud MD mengaku marah saat pertama kali mendengar pernyataan alumni LPDP, Dwi Sasetyaningtyas (DS), yang viral dengan pernyataan kontroversialnya “cukup saya saja yang WNI, anak saya jangan,” dalam video di media sosialnya.

Namun di saat bersamaan, Mahfud MD juga memahami akar kekecewaan yang melatarbelakangi ucapan DS itu/

Baca juga: Mahfud MD Semprot Alumni LPDP yang Hina Negara: Saya Marah, Tapi Pemerintah Harus Koreksi Diri

Meski menyatakan kemarahan besar karena negara dilecehkan oleh penerima mandat beasiswa, Mahfud justru memberikan analisis yang menohok, bahwa pernyataan DS adalah representasi suara publik yang mulai putus asa terhadap kondisi hukum dan birokrasi di tanah air.

“Ketika saya mendengar itu, saya ikut marah sebagai warga negara Indonesia. Dia mencicipi nikmatnya Indonesia merdeka, bisa sekolah karena Indonesia, lalu melecehkan Indonesia di depan publik. Itu menyakitkan bagi kita,” ujar Mahfud dalam kanal YouTube resminya, Selasa malam (24/2/2026).

Ia menyebut sikap itu bertentangan dengan prinsip yang selama ini ia gaungkan: jangan pernah lelah mencintai Indonesia.

"Jangan pernah lelah mencintai Indonesia. Kalau kecewa pada pemerintah, jangan negaranya yang diserang," tegas Mahfud.

“Ini tampaknya lelah mencintai Indonesia,” tegasnya.

Marah, Tapi Tidak Menutup Mata

Meski keras mengecam pernyataan tersebut, Mahfud menolak melihat persoalan secara hitam-putih. Ia menilai Dwi Tias tidak berbicara di ruang hampa.

Namun, Mahfud MD meminta pemerintah untuk tidak hanya reaktif memberikan sanksi, melainkan juga introspeksi diri.

Ia menilai apa yang diucapkan DS berangkat dari fakta-fakta lapangan yang mengecewakan, mulai dari pungli, pemerasan izin usaha, hingga hukum yang bisa dibeli.

"Saya marah pada Anda (DS), tapi saya paham kenapa Anda bicara begitu. Rakyat sedang putus asa. Mau cari kerja dipalak, mau eksekusi vonis harus bayar, perkara sudah inkracht diadili lagi. Ini yang membuat orang merasa 'kabur aja dulu'. Negara ini kaya, tapi rakyat tidak mampu menikmati hak hidupnya secara wajar," jelas Mahfud.

Ia menambahkan bahwa sikap DS sebenarnya mewakili suara publik dan masyarakat kecil yang tidak berani bicara karena takut diintimidasi.

Mahfud mencontohkan kasus penjual sayur yang ditindak secara kaku hingga hotel yang diperas dengan dalih keamanan tanpa kuitansi resmi.

“Terus terang saya marah. Tapi kalau kita lihat ke belakang, pemerintah juga harus sadar diri. Kenapa dia melakukan itu? Karena perkembangan akhir-akhir ini membuat putus asa. Dikritik tidak peduli, perbaikan tidak dilakukan,” katanya.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved