Bulan Bung Karno
Bulan Bung Karno 2026: Merawat Api Pemikiran Sang Proklamator Lewat Sinema Komersial
Bulan Bung Karno 2026: Merawat Api Pemikiran Sang Proklamator Lewat Sinema Komersial
Penulis: Yolanda Putri Dewanti | Editor: Budi Sam Law Malau
Ringkasan Berita:
- Peringatan Bulan Bung Karno 2026 menjadi momen krusial menghidupkan kembali fondasi intelektual dan gagasan kemerdekaan yang dirintis Soekarno sejak usia 16 tahun.
- Lewat pemutaran film Ghost in the Cell karya Joko Anwar, BKN PDIP menegaskan pentingnya sinema sebagai ruang kritis melawan kapitalisme baru l
- Prestasi Global: Film lokal tersebut sukses mencatat anomali dengan meraih 4 juta penonton dan menembus pasar internasional di 148 negara, membuktikan kebudayaan Indonesia berdaya saing global
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Di balik gemerlap layar perak Metropole XXI, Jakarta Pusat, sebuah refleksi besar tentang arah bangsa ini digaungkan kembali.
Momentum peringatan Bulan Bung Karno tahun 2026 menjadi penanda penting untuk menengok ke belakang—bukan demi romantisme sejarah semata, melainkan untuk membakar ulang api perjuangan yang dirintis Soekarno sejak usia belia.
Sekretaris Jenderal PDI-Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa gagasan besar tentang Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur tidak lahir dalam semalam.
Fondasi kokoh itu digali oleh Bung Karno sejak ia masih seorang remaja berusia 16 tahun.
Baca juga: Bulan Bung Karno, Film Ghost in the Cell Tembus 148 Negara, Simbol Kebangkitan Sinema Indonesia
“Bulan Bung Karno mengekspresikan seluruh narasi tentang kemerdekaan Indonesia yang digali oleh Bung Karno sejak usia muda. Beliau memilih membangun kepemimpinan berbasis intelektualitas untuk menjawab penindasan kolonial,” ujar Hasto usai menghadiri acara Kulturanesia, Minggu (7/6/2026).
Pergulatan pemikiran masa muda itulah yang melahirkan visi besar: sebuah negeri di mana rakyatnya memiliki kemerdekaan penuh untuk bersuara dan bergerak bersama demi cita-cita bersama.
Ketika Sinema Menjadi Senjata Kritis Melawan Penindasan
Perayaan ideologi kali ini terasa berbeda karena dikemas lewat medium kebudayaan yang modern.
Melalui sayap kebudayaannya, Badan Kebudayaan Nasional (BKN) PDIP lewat komunitas Kulturanesia menggelar nonton bareng film Ghost in the Cell karya sutradara kondang Joko Anwar.
Hasto menilai film ini bukan sekadar hiburan komersial, melainkan sebuah refleksi tajam yang relevan dengan marhaenisme kuno.
Baca juga: Kunjungi RT Canggih di Gandaria Utara, Rano Karno Apresiasi Inovasi dan Keamanan Lingkungan Warga
Ghost in the Cell dinilai sukses memotret bagaimana kapitalisme dan imperialisme modern terus bersayap dan berganti wajah, namun tetap membawa obor keserakahan yang sama.
"Film ini mengungkapkan bagaimana Bung Karno melakukan perlawanan terhadap kapitalisme dan imperialisme yang selalu menampilkan wajah baru, yang pada dasarnya digerakkan oleh nafsu kekuasaan," tegas Hasto.
Senada dengan itu, Kepala BKN PDIP yang juga Anggota Komisi X DPR RI, Once Mekel, menggarisbawahi pentingnya menjaga ruang ekspresi dan daya kritis generasi muda.
Menurutnya, kebudayaan sejati harus mengakar dari realitas masyarakat, menginspirasi persatuan, dan mengangkat harkat martabat bangsa.
| Tak Enak Hati dengan PKS, PDIP Enggan Undang Demokrat di Puncak Bulan Bung Karno, |
|
|---|
| Kader PDIP Sambut Ganjar Pranowo Seperti Presiden saat Puncak Acara Bulan Bung Karno di SUGBK |
|
|---|
| Jelang Bulan Bung Karno, Ganjar Pranowo Blusukan di Pasar Warakas, Warga Keluhkan Harga Sembako |
|
|---|
| SUGBK Memerah, Puluhan Ribu Kader PDIP Antusias Sambut Puncak Bulan Bung Karno |
|
|---|
| Puncak Bulan Bung Karno, PDIP Undang Partai Demokrat? Hasto: Ya Saya Sampaikan Acara ini |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/BULAN-BUNG-KARNO-yy772.jpg)