Selasa, 5 Mei 2026

Bencana Sumatra

Dandhy Laksono Bongkar Dalang di Balik Bencana Sumatra: Bukan Alam, Tapi Ini

Jurnalis investigasi sekaligus aktivis lingkungan Dandhy Laksono mengatakan bahwa rangkaian bencana banjir besar di Sumatra prihatin

Tayang:
Warta Kota
DALANG BENCANA SUMATRA - Jurnalis investigasi sekaligus aktivis lingkungan Dandhy Laksono mengatakan bahwa rangkaian bencana banjir besar dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat hingga wilayah lain di Asia Tenggara bukan semata bencana alam. Melainkan, kata Dandhy merupakan bencana buatan manusia atau human made disaster, yang dipicu oleh kebijakan politik, pembiaran deforestasi, dan perampokan hutan secara sistematis. 

Ringkasan Berita:
  • Dandhy Laksono menyebut banjir dan longsor di Sumatra bukan bencana alam, melainkan human made disaster akibat kebijakan politik, pembiaran deforestasi, dan pembalakan hutan sistematis (“banjir kayu”).
  • Ia memaparkan lima gelombang deforestasi besar pascakemerdekaan yang dilakukan korporasi dengan izin negara,
  • Dandhy menilai peringatan aktivis dan BMKG diabaikan, mengkritik monokultur sawit dan kebijakan lintas rezim, serta menegaskan hutan seharusnya dikelola masyarakat adat

WARTAKOTALIVE.COM -- Jurnalis investigasi sekaligus aktivis lingkungan Dandhy Laksono mengatakan bahwa rangkaian bencana banjir besar dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat hingga wilayah lain di Asia Tenggara bukan semata bencana alam.

Melainkan, kata Dandhy merupakan bencana buatan manusia atau human made disaster, yang dipicu oleh kebijakan politik, pembiaran deforestasi, dan perampokan hutan secara sistematis.

Pernyataan itu disampaikan Dandhy saat diwawancarai Richard Lee dalam sebuah podcast yang membahas bencana ekologis di Sumatra.

Baca juga: Korban Meninggal Bencana Sumatra Tembus 1.006 Orang, 217 Hilang, 158 Ribu Rumah Rusak

Menurut Dandhy, banjir yang terjadi di Aceh dan Medan bukan sekadar banjir air, melainkan “banjir kayu” akibat pembalakan hutan.

“Ini bukan banjir air, tapi banjir kayu. Banjir logging. Kayu-kayu itu jelas ada tagging, ada nama PT. Itu bukan jatuh dari langit,” kata Dandhy.

Dandhy membandingkan banjir bandang Sumatra dengan tsunami Aceh 2004.

DALANG BENCANA SUMATRA - Jurnalis inve
DALANG BENCANA SUMATRA - Jurnalis investigasi sekaligus aktivis lingkungan Dandhy Laksono mengatakan bahwa rangkaian bencana banjir besar dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat hingga wilayah lain di Asia Tenggara bukan semata bencana alam. Melainkan, kata Dandhy merupakan bencana buatan manusia atau human made disaster, yang dipicu oleh kebijakan politik, pembiaran deforestasi, dan perampokan hutan secara sistematis.

Menurut Dandhy tsunami merupakan bencana alam murni, sementara banjir kali ini adalah hasil akumulasi kerusakan lingkungan.

“Tsunami Aceh itu natural disaster. Yang ini political disaster. Semua akibat keputusan politik,” ujarnya.

Dandhy menyoroti respons negara yang dinilai justru lebih lamban dibandingkan 21 tahun lalu, saat tsunami Aceh.

Kala itu bantuan internasional tiba dalam hitungan hari.

Kini, lebih dari 10 hari pascabencana, menurut Dandhy masih ada wilayah yang belum menerima bantuan dan listrik belum pulih.

Deforestasi Sistematis

Dandhy memaparkan berdasarkan catatannya, Indonesia telah mengalami lima gelombang besar deforestasi pascakemerdekaan, seluruhnya didorong kepentingan ekonomi-politik:

Yakni:

  • Oil and gas (1950-an)
  • Logging skala besar melalui HPH (akhir 1960–1970-an)
  • Tambang batubara (1980-an)
  • Ekspansi sawit monokultur (1990-an hingga kini, 17 juta hektar)
  • Tambang nikel untuk industri kendaraan listrik

Dandhy menjelang tidak ada deforetasi besar yang dilakukan rakyat atau masyarakat adat di sana.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved