Senin, 13 April 2026

Sekolah Rakyat

Sekolah Rakyat Jadi Ruang Toleransi Beragama yang Menguatkan Mimpi Enik

Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) jadi ruang toleransi beragama bagi Enik Susilowati, siswa SRT 2 Banyuwangi yang beragama Hindu.

dok. Biro Humas Kemensos
Siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Banyuwangi, Enik Susilowati, saat melakukan sembahyang dengan khusyuk di kamar asrama putri, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (19/9/2025).  

WARTAKOTALIVE.COM, BANYUWANGI - Udara dingin yang turun dari lereng Ijen menyelimuti Sekolah Rakyat Terpadu  (SRT) 2 Banyuwangi.

Bangunan yang dulunya Balai Diklat PNS kini beralih fungsi menjadi sekolah bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. 

Berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota, suasana sekolah terasa tenang dan asri, jauh dari hiruk pikuk jalanan.

Dari kejauhan, suara anak-anak belajar bercampur dengan gemerisik dedaunan yang tertiup angin gunung.

Di sebuah kelas sederhana, empat murid duduk setengah melingkar. Mereka serius memperhatikan penjelasan Pak Sarjono, guru yang setiap Jum’at datang mengajar bimbingan agama Hindu.

Di antara mereka ada Enik Susilowati (17), gadis asal Dusun Wonoasih, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore yang duduk rapi dengan seragam pramuka, Enik tampak tekun mendengar.

Enik Susilowati (17) (1)
Enik Susilowati (17), gadis asal Dusun Wonoasih, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore merupakan salah satu siswa Sekolah Rakyat Terpadu  (SRT) 2 Banyuwangi.

Ia adalah satu dari sedikit siswa Hindu di sekolah yang mayoritas muridnya beragama Islam.

Sebelum di Sekolah Rakyat, hidup Enik penuh ujian sejak kecil. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara.

Orang tuanya berpisah saat ia masih duduk di bangku SD. 

Hal itu membuatnya harus ikut sang ibu, Laminem, dan hidup menumpang di rumah nenek.

Sang ibu bekerja serabutan sebagai buruh tani dan kadang mencari sayur pakis di hutan untuk menghidupi keluarga kecilnya.

Penghasilan minim sering kali tak cukup untuk makan. Ada hari-hari ketika Enik hanya makan sekali sehari. 

Sekolah Rakyat menjadi titik balik hidupnya. Dengan dukungan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di desanya, ia bersedia didaftarkan meski awalnya diliputi rasa ragu.

“Rasanya aneh, enggak betah di sini. Tapi lama-lama kenal dengan teman dari luar, akhirnya betah juga,” katanya. Kini, Enik merasa bagian dari keluarga besar SRT 2 Banyuwangi.

“Kalau tidak ada sekolah ini, kemungkinan besar (saya) tidak bakalan lanjut sekolah, karena bantu ibu kerja dan tidak punya biaya buat nerusin sekolah,” kata Enik.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved