Kecelakaan

Kehilangan Putri Semata Wayang dan Kedua Kakinya, Eli Kecewa Soal Ganti Rugi dari PT KMI

Kehilangan Putri Semata Wayang dan Kedua Kakinya, Eli Kecewa Soal Ganti Rugi dari PT KMI

Editor: Dwi Rizki
Istimewa
KECELAKAAN - Muji Handoyo menggendong istrinya, Eli Agustin di kediamannya, Jalan Bumiraya RT 01/18 Pondok Benda, Pamulang, Tangerang Selatan pada Rabu (12/3/2025). Dirinya meminta keadilan atas tragedi yang menewaskan putri semata wayangnya, Zea Nada Ayudisa (3) dan membuat cacat istrinya kepada perusahaan ekspedisi PT KM. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Eli Agustin (30) korban kecelakaan di Rest Area Tol Jakarta-Cikampek, tepatnya SPBU Pertamina 34.175.44 Desa Telagamurni, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi hanya bisa menangis. 

Tak hanya meratapi kedua kakinya yang putus setelah terlindas truk tronton milik PT Karya Marga Intinusa (KMI), dirinya masih merasakan kehilangan atas kepergian putrinya, Zea Nada Ayudisa (3).

Putri semata wayangnya yang diharapkan bisa tumbuh besar dan membanggakan harus meninggal dunia di lokasi kejadian pada tanggal 27 Agustus 2024.

Saat ini, Eli Agustin sudah tak bisa beraktivitas seperti biasa.

Kehilangan kedua kaki membuat dirinya hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidurnya.

Berbulan-bulan menagih keadilan, pertanggungjawaban perusahaan tak kunjung datang. 

Setelah didesak pihak keluarga, PT KMI baru memberikan uang ganti rugi sebesar Rp 50 juta. 

Uang ganti rugi yang dinilainya tidak sepadan dengan nyawa seorang anak dan sepasang kakinya yang putus.

“Dari pihak perwakilan perusahaan bilang ini adalah sebuah musibah, jadi mereka memandangnya kita nggak bersyukur dikasih uang Rp 50 juta,” kata Eli Agustin

“Sekarang bukannya nggak bersyukur ya, kita harus realistis karena kita butuh ke depannya seperti kaki palsu, seenggaknya aku juga punya usaha buat keuangan stabil lagi,” sambungnya.

Eli Agustin hanya minta pertanggungjawaban yang layak dari pihak perusahaan ekspedisi PT Karya Marga Intinusa, untuk keberlangsungan masa depan keluarganya.

Kehilangan nyawa dan kedua kaki jelas tak bisa dinilai dengan sebuah angka.

“Aku juga maunya gak muluk-muluk, tapi kalau diangka segitu aku ngerasa seperti dilecehkan banget sebagai manusia,” tegas Eli.

Kronologi Kejadian

Rasa duka mendalam dirasakan oleh Muji Handoyo dan keluarga.

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved