Pilkada 2024

Lingkaran Jokowi Beda Sikap Soal Kebijakan, Pengamat: Ambisius dan Kurang Perhitungan

Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti buka suara terkait baru-baru ini munculnya kebijakan-kebijakan yang dilakukan Presiden RI Jokowi.

Penulis: Yolanda Putri Dewanti | Editor: Junianto Hamonangan
Warta Kota/YULIANTO
Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti buka suara terkait baru-baru ini munculnya kebijakan-kebijakan yang dilakukan Presiden RI Jokowi. 

WARTAKOTALIVE.COM JAKARTA - Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti buka suara soal baru-baru ini munculnya kebijakan-kebijakan yang dilakukan Presiden RI Jokowi.

Dia turut menyinggung sikap satu persatu lingkaran pembantu dan pendukung Presiden Jokowi menyatakan berbeda dengan kebijakannya. Di antaranya soal UKT, IKN dan terbaru program Tapera.

Presiden terpilih periode 2024-2029 Prabowo Subianto menjanjikan menggratiskan biaya kuliah.

Bukan hanya Prabowo, bahkan semua fraksi di DPR baik yang pro Jokowi maupun oposisinya bersikap sama. Akhirnya kebijakan UKT dicabut.

Selain itu, mundurnya pimpinan Otorita IKN. Tak jelas benar apa alasannya. Namun, mundurnya dua pejabat dinilainya cukup menarik. Sebab, jarang terdengar pejabat di era Jokowi menyatakan mundur dari jabatan.

Baca juga: Zulhas Ungkap Jokowi Larang Putranya Maju di Pilkada, Kaesang: Sudah Dengar Versi Saya Belum?

Belum lagi, Menkeu Sri Mulyani dan Menteri PUPR Basuki Hadimulyono yang menyatakan berbeda pendapat dengan Jokowi. Mereka menyebut tidak menduga kebijakan Tapera diberlakukan lebih cepat dari desain awalnya.

Kondisi itu memunculkan pertanyaannya, mengapa semakin banyak pendukung dan lingkaran Jokowi menyatakan sikap berbeda?

"Makin banyak orang merasa program-program Jokowi terlalu terburu-buru, ambisius dan kurang perhitungan. Salah satunya kurang sensitif dengan kondisi yang tengah dialami oleh masyarakat," jelas Ray Rangkuti melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (8/6/2024).

Ray menilai, makin banyak lingkaran Jokowi sadar kebijakan-kebijakan pemerintah belakangan ini, terlihat sebagai ambisi dan proyek pribadi dibandingkan dengan tujuan mengutamakan kepentingan rakyat.

"Ambisi Jokowi yang menggebu-gebu bahkan terlihat seperti menerobos berbagai ketentuan, aturan atau fatsun yang berlaku," nilai Ray.

Makin dekat masa akhir jabatan Jokowi, kekuatan-kekuatan politik membentuk barisan baru. Tentu saja, dalam barisan baru itu, kehadiran Jokowi tidak lagi sebagai pusat.

“Sudah berkurang. Dan jauh berkurang, mengingat bahwa Jokowi tidak memiliki kekuatan politik formal di belakangnya,” ujar Ray.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono telah berbicara dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani perihal Tapera. Penerapannya paling lambat hingga tahun 2027 untuk membangun kredibilitas Tapera.(m27)

Baca berita Wartakotalive.com lainnya di WhatsApp.

Baca berita Wartakotalive.com lainnya di Google News.

Sumber: WartaKota
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved