Pemilu 2024
Isma Gigit Jari Tak Bisa Jadi Petugas Sortir-Lipat di GOR Tanjung Duren karena Kesalip 'Orang Dalam'
Menurut Isma (40), ia dibayar Rp 450 per-lembar surat suara. Apabila ia berhasil melipat satu kardus berisi 500 lembar, ia akan diupah Rp 100.000.
Penulis: Nuri Yatul Hikmah | Editor: Feryanto Hadi
Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Nuri Yatul Hikmah
WARTAKOTALIVE.COM, GROGOL PETAMBURAN — Bagi sebagian orang, menjadi petugas lipat sortir merupakan momen aji mumpung lima tahun sekali untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
Pasalnya, tidak ada batasan umur bagi orang yang hendak menjadi pelipat kertas ataupun kualifikasi pendidikan khusus.
Siapapun bisa menjadi petugas sortir lipat, asalkan bisa mengikuti aturan yang telah ditetapkan petugas.
Terlebih, upah yang ditawarkan kerap kali dapat membantu perekonomian orang-orang yang membutuhkan.
Menurut Isma (40), ia dibayar Rp 450 per-lembar surat suara. Apabila ia berhasil melipat satu kardus berisi 500 lembar, ia akan diupah Rp 100.000.
Namun, upah Rp 100.000 itu, dibagi ke empat orang yang merupakan anggota kelompoknya.
Baca juga: Kejam, Sudah Lipat Surat Suara Capres-Cawapres 2.000 Lembar, Lilis Dikeluarkan Tanpa Dapat Bayaran
"Mau ikut karena ekonomi, enggak ada kegiatan di rumah istilahnya. Cuma nyari pengalaman aja," kata Isma saat ditemui di GOR Tanjung Duren, Jakarta Barat, Kamis (11/1/2024).
Bagi Isma, upah sebesar itu lumayan untuk membantunya makan dan membeli kebutuhan pokok untuk keluarganya.
Pasalnya, ia hanyalah seorang ibu rumah tangga yang ingin membantu suaminya mendapatkan penghasilan.
Baca juga: 1,9 Juta Surat Suara Pilpres Disortir Lipat, 500 Petugas Dilibatkan KPU Jakarta Barat

Namun, kali ini ia terpaksa gigit jari lantaran tak bisa masuk ke dalam GOR Tanjung Duren untuk menjadi petugas sortir lipat.
Ia hanya luntang lantung tanpa kepastian di sebuah pos di depan GOR Tanjung Duren, Jakarta Barat.
"Susah-susah gampang nih masuknya. Saya ketendang karena (waktu di Kebon Jeruk) saya melipat 7 dus saja, maksimal 8 soalnya," kata Isma.
"Makanya saya buat tim baru lagi, udah enggak boleh. (Harus menghasilkan) surat suara enggak boleh kurang dari 8 box, kejamnya di situ, bilangnya katanya enggak becus," imbuhnya.
Padahal, Isma mengaku telah berusaha sekuat tenaga untuk bisa memenuhi target tersebut, namun ia merasa tidak dihargai.
Akan tetapi, alasannya kini tak bisa menjadi petugas sortir lipat adalah karena kapasitas GOR Tanjung Duren yang tidak mencukupi.
Selain itu, ia memandang bahwa ada banyak orang dalam yang membuat Isma tersingkir menjadi petugas sortir lipat.
"Karena kepenuhan, saya kesingkir sama Kebon Jeruk. Banyakan pakai orang dalam. Gigit jari saya, nunggu. Punya name tag (tanda pengenal) belum tentu masuk," ungkapnya.
Padahal, Isma mengaku telah datang ke lokasi pelipatan sejak pukul 07.00 WIB menggunakan ojek online dari rumahnya di Kota Bambu, Palmerah, Jakarta Barat.
"Makanya saya bingung gimana saya pulang harus ada duit," pungkasnya.
Sementara itu, Ketua KPU Jakarta Barat Endang Istianti mengonfirmasi bahwa petugas sortir lipat merupakan mereka yang pernah terlibat dalam pemilihan umum (Pemilu) 2019 lalu.
Selain itu, para petugas itu merupakan orang-orang yang termasuk teman, saudara, serta masyarakat setempat.
"Ini semua sebenarnya bukan orang jauh, pasti ini semua temannya teman dari lingkungan KPU sendiri, baik lingkungan petugas kecamatan, kelurahan, maupun teman-teman dari staff di kecamatan dan kelurahan masing-masing, jadi bukan orang jauh," ungkap Isti.
Hanya saja, Isti menekankan kepada seluruh petugas agar dapat mengikuti gerak kerja di tempat sortir lipat tersebut.
"Karena kami harus gerak cepat nih, tidak bisa hanya melipat sekian ratus sehari, karena kami juga melakukan evaluasi siapa yang melipatnya tidak cepat atau misalnya keluar istirahat tapi lama enggak balik lagi, itu kami evaluasi, kami juga punya hak mengganti petugas yang tidak konsisten menjalankan tugas," ungkapnya.
Adapun saat disinggung soal orang dalam, Isti menyebut jika ia tidak tahu bentuknya seperti apa.
Namun, apabila ada warga yang ingin menjadi petugas sortir lipat dan tidak bisa masuk, hal itu lantaran tempatnya yang terbatas sehingga tidak bisa seluruhnya terakomodir.
"Dan kami juga mengevaluasi kelompok-kelompok yang kami lihat ini kalau kerja bagus, satu hari bisa 10 box, itu mereka kami pertahankan, kami enggak bisa terlalu (penuh) di dalam," pungkasnya.
Nasib miris Lilis
Lilis (51) hanya terduduk lesu di trotoar sekitar Gelanggang Olahraga Remaja (GOR) Tanjung Duren, Jakarta Barat, usai dikeluarkan sebagai petugas sortir lipat surat suara calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) Republik Indonesia.
Padahal, Lilis sebelumnya telah diizinkan masuk dan mendapat tanda pengenal sebagai petugas penyortir dan pelipat surat suaea.
Bahkan, Lilis sudah melipat dua kardus surat suara yang masing-masingnya berjumlah 1.000 lembar. Jadi totalnya sudah 2.000 surat suara ia sortir dan lipat.
Ironisnya, ia tidak mendapat upah sepeserpun dari hasil melipat dua kardus tersebut.
"Udah hampir dua dus, enggak dibayar, orang udah langsung disuruh keluar sama petugasnya, alasannya katanya enggak ada nomor, padahal dari awal udah masuk," kata Lilis saat ditemui di lokasi, Kamis (11/1/2024).
Lilis sendiri mengaku sudah menjadi petugas sortir lipat surat suara sejak di GOR Kebon Jeruk.
Baca juga: 1,9 Juta Surat Suara Pilpres Disortir Lipat, 500 Petugas Dilibatkan KPU Jakarta Barat
Namun, lantaran lokasi pelipatan dan penyortiran surat suara berpindah ke GOR Tanjung Duren, Lilis pun diminta untuk kembali datang ke tempat yang baru.
Dia pun berangkat dari rumahnya di Meruya ke GOR Kebon Jeruk sekira pukul 07.00 WIB menggunakan ojek online.
Alih-alih mendapat pemasukan untuk makan dan ongkos, Lilis justru menelan pil pahit lantaran ia tak mendapatkan bayaran sama sekali.
"Sampai sini, di sini kan berebut begitu, pakai name tag aja kan ada yang enggak masuk gitu, alasannya enggak ada nomor, penuh," ungkap Lilis.
"Mana ke sini kami naik ojek, saya dari Meruya ongkos Rp 30.000, balik lagi," lanjutnya.
Wanita yang sehari-hari mengurusi rumah tangga itu berujar, ia mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Meski sebenarnya, uang yang didapat dari hasil melipat surat suara itu tidaklah seberapa.
Baca juga: Jadi Pekerja Lipat Surat Suara Pemilu 2024, Tukang Servis HP Ini Kantongi Rp 1,2 Juta
"Intinya namanya kami punya kebutuhan ya kan kami nyari kerjaan lagi susah, ya kami ke mana aja yang penting menghasilkan uang," ungkap Lilis lirih.
"Udah bela-belain ke sini ya kan. Kalau kemarin di Kebon Jeruk mendingan, masih tertib. Di sini serabutan begini, jadi kayaknya gimana ya yang masuk itu yang kenal-kenal orang dalam aja, padahal kami niat kerja," imbuhnya.
Menurutnya, ia dibayar Rp 100.000 apabila berhasil melipat satu box kardus.
Yang mana dalam sehari, Lilis bisa melipat 9 dus surat suara dalam sehari bersama tiga temannya yang lain.
"Waktu itu kami Rp 900.000 berempat. Uang makan Rp 15.000, satu orangnya Rp 225.000, jadi tambahan Rp 15.000, jadi ya Rp 250.000," kata dia.
Lilis menyampaikan, satu dus terdiri dari 500 lembar surat suara.
Sehingga total ia pernah melipat 4.500 surat suara dalam sehari.
Baca juga: 39 Hari Jelang Pemilu 2024, 529 Lembar Surat Suara untuk Jakarta Utara Dipastikan Rusak
Kendati demikian, hari ini ia mengalami nasib apes lantaran dua kotak surat suara yang telah ia lipat tak mendapatkan bayaran sama sekali.
Bahkan, dirinya luntang lantung tanpa kepastian di depan GOR Tanjung Duren, Jakarta Barat.
"Kan untuk pembayaran setiap sore, kan off-nya (selesai) pukul 17.00 WIB, itu dari situ kami harus udah dapet pembayaran. Sedangkan kemarin pembayaran ditunda belum dapat," kata Lilis.
"Akhirnya sekarang pulang aja, gimana kami suruh nunggu-nunggu tapi kan kami belum tentu masuk," imbuhnya.
Di akhir, Lilis mengaku kecewa dengan apa yang terjadi hari ini kepadanya.
Padahal, ia hanya ingin mencari nafkah untuk makan dan kebutuhan sehari-harinya.
"Tolonglah dikasih peluang, kasihan juga kan berharap ibarat kata jumlahnya enggak seberapa mereka berharap, sekarang cari kerja susah," kata Lilus.
"Yang penting petugasnya dikasih ketertiban, teratur, kasih peraturan yang bagus. Daripada kayak gini kasihan," imbuhnya.
Sementara itu, Ketua KPU Endang Istianti menyebut bahwa semua petugas sortir lipat akan memperoleh bayaran sesuai hasil kerjanya masing-masing bersama timnya yang berjumlah 4 orang.
Baca juga: KPU Jakarta Timur Temukan Puluhan Surat Suara Pemilu 2024 Rusak saat Penyortiran
"Tetap (dibayar), semua yang sudah melipat itu, ini kan kerjanya satu tim empat orang, nah berbaginya di situ," kata Isti saat ditemui di lokasi, Kamis.
"Jadi kardus itu dinamai sesuai dengan kelompok itu, nanti mereka berbagi hasilnya di sana. Berapapun yang mereka dapat kami akan membayar sesuai hasil kerjanya," lanjut Isti.
Kendati demikian, Isti membenarkan jika pihaknya memiliki hak untuk mengeluarkan petugas yang kiranya melanggar aturan dan tak bisa mengikuti ritme kerjanya.
Pasalnya, ada target yang harus dipenuhi tiap harinya dalam pelipatan surat suara.
"Perlu kami periksa, pertama apakah mereka sudah mendaftar, apakah sudah punya id (tanda pengenal) sebagai petugas sortir lipat kedua itu yang ketiga mereka bagian dari evaluasi dari petugas," pungkasnya. (m40)
Baca berita WartaKotalive.com lainnya di Google News
Sekretaris KPU Jakarta Dirja Abdul Kadir Ungkap Pekerjaan KPUD Jakarta Belum Selesai |
![]() |
---|
Sempat Khawatir pada Kerawanan, KPU Jakarta Apresiasi Kinerja Polri Amankan Pelaksanaan Pilkada 2024 |
![]() |
---|
DKPP Prihatin Masih Banyak Penyelenggara Pemilu Tidak Netral di Pemilu 2024 |
![]() |
---|
Bawaslu Kabupaten Bekasi Rilis Laporan Akhir Pengawasan Pemilu 2024, Ini Hasilnya |
![]() |
---|
Gugatan Kader PKB Calon Anggota DPR Terpilih yang Dipecat Cak Imin Dikabulkan Bawaslu |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.