Senin, 27 April 2026

Natal 2023

Sejarah Natal, Perkembangan Pesat Agama Kristen Justru Terjadi di Masa Mesir Kuno

Asal muasal kekristenan ditemukan di banyak tempat di dunia ini. Mesir kuno tempat berkembang kristen koptik atau kristen Mesir setelah kematian Yesus

|
Penulis: LilisSetyaningsih | Editor: Rusna Djanur Buana
Istanbul Insider
ilustrasi pertumbuhan umat kristen di zaman Mesir Kuno tak lama setelah Yesus Wafat 

Pada masa awal Kekristenan, kota ini pusat pembelajaran dan filsafat yang dinamis.

Sepanjang abad ketiga, para cendekiawan terkemuka dunia berbondong-bondong ke sana.

Alexandria juga rumah bagi populasi besar Yahudi, yang menerima ajaran agama Kristen.

Kisah Para Rasul 18:24-25 menyebutkan seorang "seorang Yahudi bernama Apolos, berasal dari Alexandria… ahli dalam kitab suci."

"Yang berbicara dengan antusias membara dan mengajarkan secara akurat hal-hal mengenai Yesus."

Pernyataan itu memberikan gambaran mengenai meningkatnya kehadiran umat Kristiani di kota tersebut.

Seperti Yerusalem, Antiokhia, dan Roma, Alexandria adalah pusat pemikiran Kristen mula-mula yang terkemuka.

Sekolah Alexandria adalah lembaga pendidikan tinggi Kristen pertama, didirikan pada pertengahan abad kedua masehi.

Para pemimpin awalnya termasuk St Klemens dari Alexsandria, yang terlahir sebagai penyembah berhala pada tahun 150 M.

Lalu, dia masuk Kristen, dan menjadi pemikir spiritual terkemuka, guru, dan penulis.

Salah satu murid Klemens adalah Origenes, menulis traktat Melawan Celsus pada tahun 248 M yang menyangkal serangan pagan terhadap doktrin Kristen.

Serta membuktikan teks penting dalam membela iman baru jauh melampaui Mesir.

Pemikir Alexandria terkenal lainnya, Valentinus, yang penafsirannya terhadap agama Kristen mengharuskan umat beriman menerima pengetahuan ilahi, dalam bahasa Yunani disebut gnosis.

Gnostisisme, demikian sebutannya, merambah komunitas Kristen mula-mula di Mesir, Injil-injilnya, termasuk Injil Yudas yang misterius, tampaknya telah beredar luas.

Pada masa ketika paganisme dan Kristen hidup berdampingan, terjadi 'penyerbukan' silang di antara keduanya.

Simbol kehidupan Mesir kuno, ankh—bentuk salib dengan lingkaran oval.

Bentuk tersebut memengaruhi perkembangan salib yang dikenal sebagai crux ansata, digunakan secara luas dalam simbolisme Koptik.

Meski begitu, agama Kristen mengalami kemajuan pada abad keempat.

Pada awal tahun 300-an kota Oxyrhynchus memiliki 12 kuil dan dua gereja; satu abad kemudian, situasinya berbalik.

Mesir juga tempat perkembangan penting lainnya dalam agama Kristen: monastisisme, praktik yang lahir di gurun Mesir.

Meniru pengembaraan Yesus di padang gurun, para pertapa suci menjalani penderitaan sangat berat untuk memperdalam iman mereka.

Bapak Gurun yang paling terkenal adalah St Antonius Agung.

Penglihatannya, iblis menampakkan diri kepadanya dalam bentuk seorang yang saleh atau wanita cantik, mempunyai pengaruh besar pada gagasan Kristen tentang iblis.

Masa penganiayaan

Antara abad pertama dan keempat, Kekaisaran Romawi melancarkan serangkaian penganiayaan terhadap umat Kristen.

Tindakan paling kejam dilakukan pada masa pemerintahan Kaisar Diocletian pada tahun 303, mengakibatkan kematian ratusan ribu orang.

Menurut tradisi, salah satu korban pada periode ini, yang oleh orang Koptik disebut sebagai zaman para martir yakni St Katarina dari Alezandria.

Putri gubernur Alezandria, dia menantang kaisar Maxentius, yang menyiksanya.

Ketika dia memerintahkan eksekusinya, roda berduri yang akan membunuhnya patah ketika menyentuhnya.

Setelah Dekrit Milan pada tahun 313, penganiayaan berhenti dan umat Kristen dapat beribadah dengan bebas.

Pada tahun 380, agama Kristen (berdasarkan prinsip-prinsip yang ditetapkan pada Konsili Nicea) menjadi agama resmi kekaisaran.

Perbedaan teologis membuat gereja mula-mula menjadi tegang, dan umat Kristen di Mesir berada di garis depan dalam konflik-konflik ini.

Pada abad kelima, para pemimpin gereja mulai memperdebatkan apakah Yesus bisa bersifat fana dan ilahi.

Tahun 451 Masehi, 520 uskup bertemu di Konsili Kalsedon untuk mempertimbangkan masalah tersebut.

Perdebatan tersebut memecah gereja menjadi beberapa faksi, memulai keretakan yang memisahkan umat Koptik dari cabang agama Kristen lainnya.

Selama dua abad berikutnya, gereja Mesir berkembang pesat, menarik lebih banyak pengikut.

Pembaru biara abad keempat dan kelima yang dihormati, St Shenute.

St Shenute membangun warisan pembelajaran dan kesalehan abadi di Biara Putih monumental di Sohag, saat ini di tepi barat Sungai Nil.

Perpustakaan teks Koptiknya yang sangat besar merupakan keajaiban dunia Kristen.

Pada puncaknya terdapat 4.000 biksu dan biksuni yang tinggal di sana.

Posisi Mesir di persimpangan Afrika dan Mediterania timur selalu diidam-idamkan oleh para penjajah.

Pada tahun 642, Aleksandria jatuh ke tangan Arab, pembawa keyakinan Muslim baru.

Rezim baru pada awalnya menoleransi gereja, lalu penduduknya mulai berpindah agama ke Islam.

Kekristenan Koptik bertahan lama ketika kepercayaan Mesir berubah lagi.

Saat ini, diperkirakan sekitar 10 persen warga Mesir menganut kepercayaan Koptik, yang dipimpin sejak tahun 2012 oleh Paus Tawadros II.

Paus Tawadros II menjadi tokoh terbaru dalam garis leluhur yang diyakini berasal dari penulis Injil St Markus. (National Geographic)

Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved