Selasa, 28 April 2026

Berita Jakarta

Lima Nakes Gugur di Wisma Atlet, Kolonel Mintoro Sumego: Kami 'Berperang Melawan Semesta'

Menurut Kolonel Mintoro Sumego, mengatasi Covid-19 adalah sebuah catatan panjang bak perang melawan semesta.

Penulis: Nuri Yatul Hikmah | Editor: Feryanto Hadi
Warta Kota/Nuri Yatul Hikmah
Koordinator Humas Wisma Atlet Kemayoran Kolonel Mintoro Sumeg 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA-- Rumah Sakit Darurat Covid-19 atau RSDC Wisma Atlet Kemayoran Jakarta dihentikan operasionalnya per 31 Desember 2022 lalu.

Dari tujuh menara, kini tinggal satu menara yang masih disiagakan untuk merawat pasien Covid-19. Enam menara lain dikembalikan ke Kementerian PUPR selaku penanggung jawab.

Sampai kapan satu menara tersebut beroperasi?

Jurnalis Warta Kota Nuriyatul Hikmah berkesempatan mewawancarai Koordinator Humas Wisma Atlet Kemayoran Kolonel Mintoro Sumego, Sabtu (31/12) lalu.

Ia menjelaskan seputar pengalaman mengelola RSDC Wisma Atlet.

Menurut Mego, sapaan akrabnya, mengatasi Covid-19 adalah sebuah catatan panjang.

Ia mengibaratkan bak perang melawan semesta.

Baca juga: Nakes Bayu Mengenang Hari Pertama Datang di Wisma Atlet Kemayoran Merasa Deg-degan

Berikut hasil wawancara Warta Kota bersama Kolonel Mintoro Sumego yang berlangsung di Menara 6 RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat:

Wisma Atlet akan ditutup sepenuhnya pada 31 Maret 2023 mendatang.  Bisa diceritakan bagaimana operasional RSDC Wisma Atlet sejak pertama kali Covid-19 mencuat?

Kami diperintahkan bapak Presiden Joko Widodo untuk memberikan tempat isolasi terpadu kepada masyarakat dan wisma yang punya tujuh tower ini menjadi pilihan.

Waktu itu di tower 3 untuk perawatan pertama dan sampai perkembangannya akhirnya berubah.

Tower 1 untuk pengamanan, tower 2 dan 3 untuk tempat tinggal relawan, tower 4, 5, 6, 7 untuk tempat perawatan pasien.

Dalam perjalanannya, kami cukup banyak mengalami naik turun.

Pertama, pada bulan Maret dan April 2020, pasien kami ada 5.000, waktu itu memang kami siapkan sekitar 6.000 tempat tidur, jadi 90 persen.

Lalu Natal dan Tahun Baru (Nataru) bulan Februari 2021, kami naik lagi (kasusnya) dan yang paling tinggi, pasien kami pada bulan Juni 2021, yaitu ketika negara dilanda oleh varian Delta. Pasien kami saat itu mencapai 7.167 dari 8.000 tempat tidur yang kami siapkan.

Baca juga: Bayu Sulit Lupakan Momen Pilu Sebagai Relawan Covid-19 di Wisma Atlet

Ketika itu kami sangat kekurangan oksigen, dan kami banyak dapat bantuan dari mana-mana, dari kementerian, lembaga, atau perorangan. Relawan pun banyak saat itu, ada 3.000 relawan yang di-standby kan.

Ada lagi kenaikan pada 2022, bulan Februari varian Omicron, setelah itu bulan April maupun Mei mulai melandai lagi.

Sampai hari ini (ketika wawancara berlangsung--red), tidak ada pasien lagi yang dirawat di Wisma Atlet Kemayoran.

Dari situ pemerintah, memerintahkan kami untuk mengoptimalisasi Wisma Atlet ini yaitu kami siapkan di tower 6 saja. Tower 6 itu terdiri atas 1.651 tempat tidur, IGD, ICU, INCU, HCU, yang jumlah tempat tidurnya ada 97.

Saat ini kami standby kan relawan-relawan ada 214 relawan.

Baca juga: Kisah Nakes Wisma Atlet Kemayoran 9 Jam Pakai APD Sampai Kewalahan Tak Sanggup Lagi

Pada saat kasus mencapai angka tertinggi, apakah ada peralihan fungsi ruangan di Wisma Atlet, bagaimana skenarionya?

Jadi pada saat itu disesuaikan dengan kondisi. IGD sendiri saat itu tidak 30 tempat tidur, tapi sejak ada Delta kami naikkan jumlahnya, begitu juga dengan ICU, dan INCU, dan HCU kami naikkan jumlahnya.

Lalu alat-alat medis dan tempat tidur juga kami tambah. Waktu itu kami dapat bantuan dari Kementerian Keuangan, kalau tidak salah.

Ada 500 tempat tidur, kami standby kan di ruang ICU, memang untuk perawatan pasien.

Jumlah pasien yang dirawat di Wisma Atlet ini cukup banyak, jadi kalau ditotal itu hampir 131.195 orang yang pernah dirawat di sini.

Jumlah relawan yang pernah ada, membaktikan dirinya di Wisma Atlet itu lebih dari 16.000 orang, dengan lima orang pahlawan kami yang gugur di Wisma Atlet ini, jadi waktu itu cukup banyak.

Baca juga: Petugas Nakes Resah Jadi Pengangguran, Buntut Penutupan RSDC Wisma Atlet Kemayoran

Bagaimana suka dukanya ketika bertugas di Wisma Atlet, terlebih sebagai kepala humas?

Kami sudah Lillahi Ta'ala (karena Allah SWT), kalau orang lain mau bilang apa, silakan, yang penting kami melaksanakan tugas ini dengan senang hati, rasa tanggung jawab, dengan sepenuh hati karena kami merawat pasien.

Kami bandingkan, pernah satu sisi di Wisma Atlet ini, pasien masuk hampir sekitar 500 pasien satu hari, itu kami ya memberikan pelayanan dengan baik saja.

Relawan yang ada di sini pun hampir tidak pernah pulang ya, saya pun tidak pernah pulang. Setiap pulang kami PCR dulu, kalau negatif, baru pulang.

Nanti setelah pulang, PCR negatif terus baru bisa bekerja lagi, dan banyak juga relawan kami kena Covid-19, termasuk saya dan keluarga harus dirawat.

Tapi tidak apa-apa itu malah suatu bagian dari kehidupan, yang jelas Wisma Atlet ini saya melihatnya sesuatu yang kekeluargaan. Pertama, karena berangkat dari orang-orang yang berbeda, ada yang dari Aceh, Medan, Papua, Gorontalo, Kupang, Mamuju, semua bersatu.

Ada juga dari TNI, TNI AU (Angkatan Udara), AL (Angkatan Laut), AD (Angkatan Darat), polisi, jadi satu. Dari kementerian, dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia), semua bersatu, akhirnya kami bekerja bersama-sama dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) kami buat sama-sama.

(m40/eko-bersambung)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved