Minggu, 26 April 2026

Virus Corona

Nakes Bayu Mengenang Hari Pertama Datang di Wisma Atlet Kemayoran Merasa Deg-degan

Ini kisah Nakes di RSDC Wisma Atlet Kemayoran mengenang hari pertama ditugasan, ada perasaan deg-degan katanya

Penulis: Nuri Yatul Hikmah | Editor: Dian Anditya Mutiara
Istimewa
Kisah Bayu Prima saat menjadi nakes di RSDC Wisma Atlet Kemayoran. 

WARTAKOTALIVE.COM, KEMAYORAN – Bayu Prima Faoita Larosa (26) adalah salah satu putra Nias, Sumatera Utara yang memutuskan untuk mengabdikan diri menjadi tenaga kesehatan (nakes) di RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat.

Pria lulusan Institut Kesehatan Delihusada itu mengaku sempat khawatir saat pertama kali menginjakkan kaki di rusun yang telah disulap menjadi rumah sakit darurat untuk penyintas Covid-19.

"Saya diberangkatkan dari Medan menuju Jakarta menggunakan Boeing Hercules, karena pada saat itu pemerintah melakukan lockdown besar-besaran," ujar Bayu saat ditemui di Tower 3 RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (27/12/2022).

"Nah saat pertama kali melihat Wisma Atlet, saya deg-degan karena belum paham apa dan bagaimana virus Covid-19 itu, apalagi pertama kali di Indonesia," sambungnya. 

Baca juga: Kisah Nakes Mega 2 Tahun di Wisma Atlet Kemayoran Tak Jarang Terima Makian dari Pasien Covid

Namun, hal tersebut bisa terlewati dengan baik tatkala dia bertemu dengan para mentor yang sedia membantu, mengarahkan, dan memfasilitasi kebutuhan semua nakes.

Sehingga, kata Bayu, ia mendapatkan banyak edukasi sebelum akhirnya terjun untuk menangani pasien Covid-19.

TONTON JUGA 

"Kami diberi edukasi untuk memakai Alat Perlindungan Diri (APD) yang benar, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki," katanya. 

Ketika itu, untuk pertama kalinya Bayu merasakan memakai baju dinas yang tak nyaman. Hal tersebut dikarenakan hawa panas yang menyeruak ke seluruh tubuh.

Baca juga: Kisah Nakes Wisma Atlet Kemayoran 9 Jam Pakai APD Sampai Kewalahan Tak Sanggup Lagi

Pasalnya, APD tersebut menutupi seluruh tubunya dari ujung kepala hingga kaki, tanpa sedikitpun cela.

Saat memakainya pun, ia tidak diperkenankan membuka sesukanya. Bayu tidak boleh makan, minum, hingga buang hajat. 

"Jadi mau enggak mau, kami harus belajar dan terus melatih diri saya supaya terbiasa menggunakan APD tersebut," jelasnya. 

Sementara itu, kepada Wartakotalive.com, Bayu menceritakan pemandangan RSDC Wisma Atlet Kemayoran saat pertama kali ia datang, Mei 2020.

Saat itu, sang tulang punggung penanganan Covid-19 belum dipenuhi oleh suara sirine dan pasien.

Namun, lanjut Bayu, usai dua bulan ia bertugas, kondisi RSDC Wisma Atlet Kemayoran berangsur-angsur alami peningkatan, hingga membludak.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved